Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 170.


__ADS_3

Bab 170


Lagi-lagi Safira dibuat mati kutu sama Alfi. Otak dia mendadak tidak berfungsi untuk menjawab pertanyaan bocah itu.


"Menikah itu artinya Papa dan Mama terikat oleh tali yang suci," jawab Safira setelah beberapa saat.


"Mana tali sucinya? Papa dan Mama tidak pakai tali," tanya Alfi lagi dan membuat Safira semakin tidak berkutik.


Arshy menahan tawanya dan Alva hanya menyeringai. Sementara itu, para orang tua terkekeh mendengar celotehan Alfi.


Safira memberikan kode kepada Alva agar laki-laki itu membantu dirinya dalam mengatasi Alfi. Dia yang sehari-harinya tidak bersama bocah itu, jadi tidak mengerti pola pikir bocah itu.


"Dengan menikah itu Papa dan Mama bisa membuatkan Alfi adik yang lucu," ucap Arshy dengan santai dan Alfi mengangguk tanda mengerti.


"Arshy!" Alva dan Safira langsung melotot kepada gadis itu.


"Asyik! Kalau begitu sekarang saja Papa dan Mama menikah," lanjut Alfi sambil bertepuk tangan.

__ADS_1


Semua orang dewasa menghela napas, kecuali Arshy. Gadis itu malah tertawa senang.


***


Safira menatap kagum kepada Alva yang menggunakan snelli. Laki-laki tampak gagah dan berwibawa dengan setelan kerjanya. Dia rasanya ingin menghambur ke dalam pelukan sang pujaan hati sekarang juga.


"Ada apa?" tanya Alva yang baru saja akan berangkat kerja menyempatkan diri untuk mampir menjenguk Safira.


"Rasanya aku ingin diperiksa sama kamu," jawab Safira dengan tersipu malu.


Mendengar ucapan Safira, Alva malah tertawa terkekeh. Lalu, dia memberikan sebuah buku kepada gadis itu.


"Terima kasih. Aku akan membaca dan mempelajarinya," ujar gadis berjilbab instan itu dengan senyum manisnya.


Alva juga memberikan sekotak salad buah buatannya karena dia tahu gadis itu sangat menyukai makanan ini. Melihat makanan yang diberikan oleh calon suaminya, Safira menerima dengan senang hati dan akan memakannya.


"Bagaimana dengan Alfi? Apa semalam dia rewel?" tanya Alva.

__ADS_1


"Tidak. Hanya saja dia terus menanyakan mana adik bayinya. Saat aku bilang masih lama, dia menangis. Untung saja dia mudah dibujuk," jawab Safira sambil tersenyum manis.


Alfi adalah anak yang cerdas dan mudah sekali dibujuk. Hanya saja dia itu cerewet tidak kalah sama emak-emak yang suka bergosip. Dia akan terus bertanya jika menemukan sesuatu yang baru baginya. Bocah itu akan bicara dengan siapa saja, bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun. Ini yang sering membuat Alva dan Arshy khawatir. Alfi mudah dibujuk dan mau sama siapa saja.


"Nanti, pulang kerja mampir ke sini, ya? Makan malam sekalian di sini," pinta Safira dan Alva merasa tidak enak untuk menolaknya.


"Insya Allah, aku takutnya Bunda menyuruh aku segera pulang dan makan di rumah," balas Alva dan Safira hanya mengangguk.


***


Kepulangan Safira ke Indonesia tentu saja disambut baik oleh teman-teman dekatnya. Intan dan Mutiara diantaranya yang antusias dan langsung datang menjenguk ke rumah Dokter Rama.


"Ini Alfi?" tanya Intan saat melihat bocah kecil yang sedang asyik bermain puzzle.


"Iya. Tidak terasa dia sudah besar, ya?" Safira membelai rambut halus milik bocah itu.


"Apa kamu tidak takut kalau nanti sudah besar kelakuan dia mirip bapaknya?" tanya Mutiara yang masih menyimpan rasa trauma.

__ADS_1


***


__ADS_2