
Acara lamaran Dewi dengan Dokter Rama berjalan lancar. Pernikahan akan digelar di Surabaya, tiga bulan lagi. Kedua keluarga besar setuju untuk menggelar pesta pernikahan dengan mengundang banyak orang. Barata juga akan menyewa hotel untuk tetangga yang ingin ikut ke Surabaya nanti. Dari sini mereka akan naik bus yang disewa oleh ayahnya Arga.
Terlihat sekali pasangan calon pengantin itu berbahagia. Apalagi ibunya Dokter Rama, merasa senang akhirnya sang anak mau membuka hati untuk perempuan lain dan cucunya akan memiliki ibu sambung yang penyayang.
Kedua keluarga besar itu benar-benar akan mempersiapkan acara pernikahan ini dengan matang. Panitia pun langsung dibentuk saat ini juga agar mereka langsung bisa menyiapkan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
"Sepertinya kita tidak bisa datang di acara pernikahan kamu nanti, Wi," kata Arga.
Usia kandungan Marsha nanti sudah besar dan sang suami takut terjadi sesuatu kepada istri dan calon kedua bayi mereka. Bisa saja nanti melahirkan di tengah jalan. Membayangkan hal itu membuat Arga merinding.
Dewi hanya tertawa mendengar ucapan Arga. Laki-laki itu terlalu over posesif kepada istri dan anak-anaknya.
"Aku rasa Mbak Marsha akan baik-baik saja karena dia itu wanita kuat," balas Dewi diiringi tawa kecil.
Tetap saja Arga sangat menghawatirkan keadaan keselamatan dan kesehatan istri dan calon anaknya. Dia tidak mau ambil resiko jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
__ADS_1
Jika Marsha ditanya, apa ingin ikut ke acara pernikahan Dewi dengan Dokter Rama, maka dia akan menjawab dengan semangat, "Ikut!"
Safira juga kini dengan bangga bilang ke Alva kalau dirinya punya ibu. Gadis kecil itu sudah menganggap Dewi adalah ibunya. Tentu saja Alva sempat protes karena bagi dia, Dewi itu adalah tantenya, keluarganya.
"Dia itu mama aku!" teriak Safira tidak mau kalah.
"Bukan. Tapi, Tante Dewi aku!" balas Alva bersikukuh.
Para tetua kedua keluarga itu malah tertawa mendengar perdebatan kedua anak kecil itu.
***
Semua orang yang hadir di sana ikut merasa bahagia, tidak terkecuali Arga dan Marsha. Meski ada drama laki-laki itu melarang bahkan membayar seorang dokter kandungan untuk menemani mereka ke Surabaya. Sampai sekarang sifat posesif dia masih saja kuat.
"Selamat, Dewi ... Dokter Rama! Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah," ucap Arga.
__ADS_1
Laki-laki itu senang akhirnya saudara sepupunya itu bisa memiliki laki-laki yang akan menjaga dan membahagiakan dirinya. Setidaknya dengan begini Nenek Sari akan lebih tenang menjalani hari-hari di masa tua.
"Semoga kalian cepat di berikan momongan. Agar Safira punya adik," lanjut Marsha dan di-aamiin-kan oleh pasangan pengantin itu.
Terlihat Alva dan Safira anteng makan es krim berdua di kursi pelaminan. Meski Marsha dan Arga sudah memberi peringatan, putranya malah tidak beranjak dari sana. Hal ini karena dia dibela oleh Dewi dan Dokter Rama. Jadinya, kursi pengantin diisi oleh empat orang.
***
"Mas, bangun!" Marsha menggoyangkan lengan suaminya.
"Ada apa, Sayang? Ingin dikelonin?" tanya Arga dengan mata yang masih tertutup, lalu menarik pelan tubuh sang istri ke dalam pelukannya.
"Perut aku mulas, Mas?" jawab Marsha.
Mendengar ucapan istrinya, Arga pun langsung bangun. Dia dengan sigap menggotong tubuh Marsha.
__ADS_1
***