Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 127. Hari Pernikahan Pandu & Ratu


__ADS_3

Bab 126


Hari ini Pandu menikah dengan Ratu bertepatan dengan sebulan usia si kembar. Keluarga Bima sengaja menyewa beberapa kamar VVIP untuk tamu istimewa keluarga mereka. Salah satunya keluarga Arga dan kedua orang tuanya yang sudah kenal dekat.


Marsha begitu cantik dengan busana gamis berwarna gold yang berhiaskan payet-payet berwarna kuning berkilau. Dia mendapatkan kain seragam ini karena diberikan oleh Ambar. Begitu juga dengan Arga dan Alva yang terlihat gagah dan tampan dengan model serupa.


"Si kembar sudah tidur. Kalian turun saja ke ballroom, biar ibu yang menjaga mereka," ucap Ayu kepada Arga dan Marsha.


"Kalau mereka bangun dan rewel, ibu telepon aku, ya," kata Marsha kepada Ayu dan wanita paruh baya itu mengangguk.


Arga jalan sambil merangkul tubuh Marsha sedangkan Alva berjalan dengan Barata di depan mereka. Terlihat sekali mereka merupakan keluarga harmonis.


"Sayang, kok, rasanya aku tidak mau menghadiri pesta pernikahan si Pandu," bisik Arga saat menunggu lift terbuka.


Mata Marsha memicing dengan tatapan tajam kepada sang suami. Wanita itu penasaran sekaligus kesal kepada Arga yang bisa-bisanya punya pemikiran seperti itu di saat hari bahagia sahabat baiknya.

__ADS_1


Arga langsung tersenyum manis begitu melihat ekspresi muka sang istri. Meski wanita itu memasang wajah seperti itu kepadanya, di mata dia masih terlihat sangat muda dan cantik. Bahkan tidak akan ada yang menyangka perempuan yang sedang berada rangkulannya ini sudah memiliki tiga anak.


"Maksud Mas?" tanya Marsha dengan dingin.


"Eh, itu ...." Muka Arga langsung memerah sampai ke telinganya.


"Itu ... apa?" tanya Marsha bersamaan dengan pintu lift terbuka.


Merasa diuntungkan dengan keadaan itu, Arga langsung mengajak Marsha untuk masuk. Dia mengira istrinya tidak akan mengungkit lagi pembicaraan tadi.


Arga terdiam sedang berpikir keras mencari alasan yang tepat. Tidak mungkin dia bilang malam ini istrinya terlihat sangat cantik seperti gadis perawan. Lalu, mengaku takut banyak laki-laki yang akan menatap penuh damba kepadanya.


'Apa aku segitu takutnya Marsha akan tergoda oleh laki-laki lain?' batin Arga.


'Seharusnya aku tidak perlu takut karena Marsha sangat bucin sama aku,' lanjut Arga di dalam hatinya mulai narsis. Justru sebaliknya dia 'lah yang bucin kepada Marsha.

__ADS_1


'Tapi, Marsha itu cantik sekali! Sudah banyak laki-laki yang terjerat pesona kepadanya meski jelas-jelas perut dia dalam keadaan buncit karen hamil,' tambah Arga mengingat beberapa bulan yang lalu saat pergi jalan-jalan bersama keluarganya. Banyak laki-laki yang melirik kepada Marsh dan yang lebih berani adalah teriakan "I love you gadis berkerudung merah!". Padahal ada Arga yang sedang memangku Alva berjalan di samping sang istri.


Marsha mengusap pipi Arga dengan lembut karena suaminya malah terdiam. Jelas sekali kalau laki-laki itu sedang memikirkan sesuatu. Ini malah membuat dia khawatir.


"Mas," panggil Marsha dengan lembut dan itu membuat Barata dan Alva mengalihkan perhatian kepadanya.


Arga mulai tersadar dari lamunannya. Lalu, tersenyum kepada Marsha sambil meraih tangannya dan memberikan ciuman di jari lentik berhiaskan cincin pernikahan mereka.


"Bunda sama Ayah jangan mesra-mesraan di tempat umum, loh! Nanti digerebek kayak tetangga Opa di kampung," kata Alva dengan memasang wajah galak.


Arga sontak langsung melepaskan pegangannya pada tangan Marsha. Kejadian yang diucapkan oleh Alva adalah saat mereka pulang ke kampung setelah dari Surabaya untuk menghadiri pernikahan Dewi. Kejadian itu sangat heboh karena terjadi di siang hari. Alva tahu itu karena semua orang membicarakan kejadian yang menggemparkan warga. Ada pasangan muda-mudi yang kepergok sedang bermesraan di pinggir sawah oleh para petani.


Arga pun hanya menyeringai dengan muka memerah. Kalau dia dan Marsha kepergok sedang bermesraan oleh anaknya, maka akan bikin mereka gelagapan.


***

__ADS_1


__ADS_2