
Bab 96
Arga merasa bersalah karena tidak memberi tahu akan keadaan dirinya. Dia memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Maafkan aku. Maafkan aku karena sudah menyembunyikan ini darimu. Aku bingung ... aku takut saat itu. Bukan aku tidak mau jujur kepadamu. Aku takut kamu kecewa kepadaku," ucap Arga sambil menahan rasa sakit di dadanya.
Bukan hanya Marsha yang sedih dan sakit hati. Arga juga sama merasakan hal itu, tetapi dalam sudut pandang yang berbeda.
"Mas pikir aku orang seperti apa? Apa karena hal ini aku akan membencimu? Rasa cintaku dan sayangku kepadamu lebih besar dari itu sehingga mana mungkin aku membenci dirimu. Apa aku ini orang yang tidak bisa kamu percaya? Rasa peduli dan rasa kasihku kepadamu akan menutup segala kekurangan dan aib dirimu. Tapi, kenapa Mas tidak berbuat hal yang sama kepadaku? Bukannya kita harus saling menerima segala yang ada pada diri pasangan kita. Baik itu segala hal yang menjadi kekurangan atau kelebihan. Bukannya sebagai suami istri kita harus menjadi pakaian untuk pasangan kita. Tidak mengumbar aib dan hal yang menjatuhkan martabat dan kehormatan pasangan kita. Lalu, kenapa Mas tidak berpikir seperti itu. Aku marah ... aku benci ... aku–"
Ucapan Marsha terpotong karena Arga langsung membungkam mulutnya dengan ciuman. Laki-laki itu merutuki kebodohannya. Dia tidak sanggup mendengar kalau Marsha membenci dirinya, meski itu semua gara-gara kesalahan dirinya sendiri.
"Jangan benci aku ... jangan tinggalkan aku!" pinta Arga dengan tatapan memohon.
Kedua pasangan itu saling menatap. Bola mata coklat yang sering menjerat diri Marsha, lagi-lagi membuatnya tidak berdaya. Wanita itu mengusap lembut wajah laki-laki itu yang basah oleh cairan bening yang keluar dari netranya. Kemudian diciumnya dengan lembut kedua pipi itu dan terakhir kecupan ringan di bibir yang tidak pernah tersentuh oleh nikotin itu.
"Apakah hanya karena hal seperti ini akan membuat aku membencimu, Mas? Apa karena kamu tidak memberi tahu ini, aku akan pergi meninggalkan dirimu, Mas? Aku bukan orang yang begitu dengan mudahnya membenci seseorang atau aku akan pergi meninggalkan dirimu," balas Marsha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan aku. Aku berjanji jika terjadi sesuatu lagi di kemudian hari, aku tidak akan menyembunyikan sesuatu apa pun lagi darimu, Sayang. Akan aku ceritakan semuanya. Jika itu suatu masalah, maka kita akan cari solusinya bersama-sama," pungkas Arga sambil menggenggam tangan sang istri.
Marsha dan Arga saling berpelukan meluapkan emosi yang menyesakkan dada mereka. Setelah puas meluapkan perasaan keduanya pun berbicara dari hati ke hati dan sang istri akan menemani pemeriksaan kedua laki-laki itu nanti.
Hati dan pikiran Arga menjadi lebih ringan dan tenang. Ketakutan dia selama ini tidak terjadi. Seharusnya dia dari dahulu percaya kalau Marsha tidak akan pernah meninggalkan dirinya meski begitu banyak kesalahan yang pernah dia perbuat.
Arga tidur di pangkuan Marsha. Dia merasakan kenyamanan dan tidak mau beranjak dari sana, jika tidak terdengar suara Alva memanggil mereka. Mau tidak mau, laki-laki itu harus mengakhiri kegiatan mereka berdua.
__ADS_1
Alva begitu lahap makan bubur kacang ijo. Memang Marsha belakang ini sering membuat makan itu atas perintah suaminya. Dia kemarin tidak menaruh curiga saat dia diminta masak ini.
"Bunda aku tidak mau bawa bekal untuk Safira lagi," ucap Alva.
"Kenapa?" tanya Marsha heran.
"Kata teman-teman aku pacaran sama Safira, makanya sering bawakan bekal untuknya," kata Alva mengadu.
Arga dan Marsha langsung tertawa. Mereka merasa lucu karena anak PAUD sudah tahu pacaran.
"Alva tahu tidak, apa itu pacaran?" tanya Arga sambil menahan tawanya.
Terlihat bocah itu berpikir keras sampai alisnya hampir menyatu. Jari telunjuk diketuk-ketuk ke pipi, lagaknya orang dewasa.
"Hmmm ... kayak Ayah dan Bunda dahulu sebelum menikah," jawab Alva ragu.
"Tapi, aku dan Safira tidak pernah berpelukan dan berciuman," lanjut Alva.
Marsha langsung melolot mendengar ucapan anaknya. Seingat dirinya, dia dan Arga tidak pernah melakukan hal itu di depan Alva.
Arga merasa panas dingin sampai keluar keringat. Dia takut kalau Marsha akan mengamuk kepadanya. Karena dulu Alva melihat rekaman CCTV di mana Arga memeluk erat Marsha dan mereka sempat berciuman. Waktu itu Alva bertanya apa yang sedang mereka lakukan. Arga jawab saja itu hubungan orang dewasa.
"Alva tahu dari mana kalau orang berpacaran itu ber–pelukan dan ber–ci–ciuman?" tanya Marsha tergagap saking kesal dan marah.
Baru saja Alva membuka mulutnya Arga mengingatkan waktu sudah siang dan Alva harus segera bersiap. Ketika bocah itu pergi mengambil tas ke kamarnya, Arga secepat kilat memeluk dan mencium sang istri.
__ADS_1
"Kayaknya kita harus lihat situasi saat melakukan hal ini. Alva itu anak yang cerdas dan mudah paham akan sesuatu," kata Marsha setelah ciuman itu berakhir.
Marsha menduga kalau Alva melihat apa yang sering mereka lakukan. Meski selama ini keduanya tidak memperlihatkan kemesraan yang begitu intim di depan anak secara langsung.
Arga hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk. Dia tidak mau kena omelan lagi dari sang istri.
***
Saat Arga sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba saja pintu terbuka dengan kasar. Terlihat wajah Pandu babak belur. Ini membuat Arga menjadi penasaran siapa yang sudah membuat muka sahabatnha jadi seperti ini.
"Wajah kamu kenapa?" tanya Arga pura-pura bego.
"Ratu mengamuk dan aku tidak menyangka kalau dia akan berbuat seperti itu," jawab Pandu.
Betapa terkejutnya Arga saat tahu pelaku yang membuat muka Pandu menjadi bonyok adalah si gadis malang itu. Dia jadi penasaran kenapa sampai bisa jadi seperti ini.
"Kenapa dia sampai bisa marah?" tanya Arga sambil merapikan meja kerjanya. Dia lebih tertarik untuk mendengarkan cerita temannya saat ini. Pekerjaan bisa dia lanjutkan nanti.
"Aku mendatangi rumah Pak Hendra. Lalu mengutarakan niat untuk menikahi Ratu sesuai keinginan papa dan mama. Kalau tidak aku turuti maka aku akan dicoret dari daftar waris. Jadi, ya ... aku mau tidak mau harus menuruti perintah kedua orang tuaku," jawab Pandu dengan enggan.
"Awalnya mereka setuju, tetapi Ratu yang tidak mau karena dia merasa minder dengan mukanya yang jelek. Terus aku bilang, kalau hal itu jangan khawatir nanti kita bisa lakukan operasi plastik ke Korea. Eh, ternyata si Putri malah ingin menjadi istri aku agar bisa melakukan perawatan kecantikan. Aku tidak maulah punya istri kayak dia. Maka aku bilang kalau aku tidak mau wanita yang sudah banyak dijamah oleh laki-laki. Aku pilih Ratu yang jelek, tapi masih perawan. Ternyata dia marah dan mengusir aku memakai nampan. Muka tampan aku dia pukuli tanpa ampun sambil berteriak memaki-maki aku sebagai lelaki buaya darat," lanjut Pandu menceritakan semua kejadian yang baru saja dia alami.
"Jadi, bagaimana sekarang? Kamu jadi akan menikahi Ratu?" tanya Arga penasaran.
***
__ADS_1
Apakah Pandu dan Ratu akan menikah? Ikuti terus kisah mereka, ya!