
Bab 89
Pandu sangat kesal saat Putri mendorong tubuh Ratu sampai jatuh ke tanah dan barang-barang di keranjang berhamburan semua. Laki-laki yang sejak tadi melihat dari kejauhan di dalam mobil, tiba-tiba saja keluar lalu menghampirinya.
Putri terlihat pergi dengan motor matic berwarna merah sedangkan Ratu masih berjongkok memunguti barang dagangannya. Saat dia akan mengambil sebungkus gorengan ada tangan lain yang mengambilnya. Lalu, dia pun mendongak dan melihat ada Pandu.
"Ini," kata Pandu yang menyerahkan sebungkus gorengan kacang kepada Ratu.
Tangan wanita itu bergetar saat menerimanya. Terdengar suaranya yang mencicit saat mengucapkan,"Terima kasih."
Tanpa diminta Pandu membantu masukan semua gorengan yang terbungkus plastik dan keripik singkong yang dibungkus dengan plastik yang berukuran lebih kecil.
"Kamu jualan?" tanya Pandu dan gadis itu hanya mengangguk.
"Berapa harga sebungkusnya?" tanya laki-laki yang penampilannya perlente.
"Dua ribu untuk keripik singkong dan lima ribu untuk gorengan kacang," jawab Ratu yang masih menundukkan kepala.
"Hitung semua yang ada di keranjang ini. Aku akan memborongnya. Kebetulan orang-orang di rumah suka makanan ini," kata Pandu berbohong. Mana tahu kedua orang tuanya makanan seperti ini karena mereka sering menghabiskan waktu di luar negeri.
"Tu–an mau beli semua?" tanya Ratu seakan tidak percaya.
"Iya. Aku beli semuanya. Cepat hitung!" jawab Pandu memberikan perintah.
Arga yang memperhatikan dari dalam mobil hanya tersenyum tipis melihat sang sahabat. Pandu itu meski terlahir dari keluarga konglomerat, tetapi tidak pelit. Bahkan dia sering berbagi kepada orang-orang yang tidak mampu. Bukan hanya royal kepada wanita kencannya saja dia suka memberi uang atau barang, tetapi kepada orang yang baru dia temui di tengah jalan pun sering dia memberi uang. Makanya di dompet sering ada uang cash.
"Semuanya 250 ribu, Tuan," balas Ratu.
Pandu pun mengeluarkan uang sepuluh lembar berwarna merah. Dia mengambil makanan di keresek itu lalu menyerahkan uangnya.
__ADS_1
"Tuan, ini kebanyakan," kata Ratu.
"Ambil saja kelebihannya. Buat nambah modal," tukas Pandu segera pergi dari sana.
Arga tersenyum jahil kepada temannya. Dia baru sekarang ini melihat muka Pandu memerah.
"Kenapa?" tanya Arga.
"Kayaknya Ratu sering menerima kekerasan fisik, deh," jawab Pandu sambil memasangkan sabuk pengaman.
"Apa aku bilang, kalau Ratu itu suka mendapatkan kekerasan di dalam keluarganya," tukas Arga.
***
Arga tidak mau membuat Marsha ikut kepikiran tentang masalahnya. Dia sebisa mungkin melupakan apa yang sedang terjadi kepada dirinya. Setiap hari mereka masih bercinta dengan penuh gairah. Apalagi jika Marsha yang memulainya lebih dahulu, laki-laki itu mana berani menolak.
"Sayang, setiap pagi aku ingin makan bubur kacang ijo. Lalu, stok susu kedelai dan tempe jangan sampai kosong, ya!" pinta Arga.
"Siap, Mas!" Marsha meletakan sebelah tangannya di kening sebagai tanda hormat.
Arga yang gemas langsung menciumi wajah istrinya dengan kecupan-kecupan nakal. Tentu saja ini membuat Marsha tertawa.
'Ya Allah, semoga saja istriku ini sering tertawa seperti ini. Jangan biarkan air mata kesedihan menghiasi wajahnya,' batin Arga.
Sebenarnya Marsha merasakan ada hal yang aneh kepada suaminya. Namun, ketika ditanya ada apa atau apa sudah terjadi sesuatu kepadanya, sering dijawab tidak ada apa-apa.
'Mas, aku merasa kamu sedang menyembunyikan sesuatu yang besar dari aku. Kenapa kamu tidak mau mengatakannya? Apakah ini ada hubungannya dengan aku? Jika aku tahu itu apa akan membuat aku marah?' Hati Marsha bertanya-tanya.
'Ya Allah, semoga kami berdua bisa menjalani semua ujian dalam rumah tangga kami ini,' batin ibunya Alva.
__ADS_1
Baru saja Arga tertidur, handphone miliknya berbunyi. Meski dengan mata tertutup dia menggapai benda itu lalu digesernya tombol hijau.
"Halo, Arga. Benar apa kata kamu kalau ada rahasia besar di dalam keluarga Ratu," kata Pandu mengajak bergosip di malam hari.
"Emangnya rahasia apa?" tanya Arga dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ternyata Marini itu merebut Pak Hendra dari istrinya yang pertama atau ibunya Ratu. Gosip yang beredar di komplek perumahannya. Istri pertama Pak Hendra ketahuan selingkuh padahal dia baru saja melahirkan. Wanita itu pun diusir dari rumah suaminya oleh warga. Lalu, Marini menikahi Pak Hendra dengan dalih agar ada yang mengasuh Ratu," kata Pandu dengan nada gereget.
"Hal yang paling kejam dilakukan oleh Marini dan Putri menurut salah seorang teman Ratu adalah membuat wajahnya yang cantik menjadi rusak permanen. Entah siapa yang melemparkan guci ke wajahnya Ratu. Makanya muka dia banyak jahitannya. Untung saja tidak sampai mengenai matanya. Kejam sekali itu ibu tiri sama saudara tiri," lanjut Pandu masih menggebu-gebu sedangkan Arga diam mendengarkan.
"Terus Pak Hendra percaya begitu saja kalau Ratu jatuh dan tangannya menggapai taplak yang diatasnya ada hiasan guci. Jadi, kejadian ini dianggap murni kecelakaan," tambah Pandu dengan nada geram.
"Lalu, ibunya Ratu sekarang ada di mana?" tanya Arga.
"Aku tidak tahu. Ini juga aku baru dapat informasi dari orang yang aku suruh tadi siang," jawab Pandu.
"Kalau begitu cari di mana ibunya. Biarkan Ratu hidup bersama dengannya jika di sana lebih baik kehidupannya," tukas Arga.
"Iya, juga. Kasihan sekali dia jadi gadis yang sangat malang hidupnya. Bahkan sekolahnya pun harus terputus. Karena sering di-bully," ucap Pandu dengan lirih.
"Apa? Aku tidak habis pikir bagaimana jalan pikiran orang-orang yang suka mem-bully hanya karena orang itu punya kekurangan. Seharusnya mereka menjadikan orang lain sebagai ibrah di dalam hidupnya." Arga bicara meninggi dan itu membuat Marsha terbangun.
"Benar kata kamu. Kehidupan Ratu itu sangat malang sekali. Tidak ada bahagia-bahagianya hidup dia," balas Arga.
Marsha mendengar sebuah nama perempuan disebut-sebut oleh suaminya. Tentu saja dia jadi cemburu dan kesal kepada Arga.
'Apa ini yang membuatnya berubah belakangan? Awas saja kalau berani berselingkuh akan aku potong burungnya. Biar tidak punya sekalian,' batin Marsha yang berpura-pura tidur.
***
__ADS_1
Akankah Marsha marah kepada Arga dan memunculkan konflik di dalam rumah tangganya? Atau justru sebaliknya mereka berdua jadi kompak! Ikuti terus kisah mereka, ya!