
Bab 141
Safira mengajak Mutiara untuk duduk di kursi bagian paling belakang. Gadis itu pura-pura sedang mencontek tugas milik temannya.
[Tulisan yang diblok adalah chat yang ditulis oleh Safira dan Mutiara di dalam satu handphone yang sama]
Ini hp milik siapa? (Mutiara)
Punya aku untuk stalker Alva. Jangan bilang sama siapa-siapa, ya. (Safira)
Mutiara tertawa terkekeh. Dia tidak menyangka kalau Safira orang yang nekad begini.
"Kenapa?" tanya Safira sambil memanyunkan bibirnya.
"Aku tidak menyangka saja," jawab Mutiara.
Aku tahu saat ini kamu sedang dalam pengawasan seseorang. Iya, 'kan? (Safira)
Mutiara membelalakkan matanya. Lalu, memalingkan muka ke arah samping. Dia menatap horor kepada Safira.
Kamu jangan takut. Alva dan teman-temannya juga dibantu polisi akan melindungi kamu dan keluargamu. (Safira)
__ADS_1
Air mata Mutiara langsung meleleh. Dia memeluk erat Safira sambil menangis tertahan. Gadis itu tidak berani bersuara.
Dengan cepat Mutiara menghapus air matanya. Dia lupa kalau semua gerak geriknya sedang diawasi.
Tolong kami, Fira. Aku dan keluargaku berada dalam bahaya. Kami tidak boleh meminta bantuan atau melapor kepada siapa pun bahkan polisi. Bisa-bisa orang yang menolong kami akan ikut terseret. (Mutiara)
Benar apa yang dikatakan oleh Alva dahulu. Namun, dia tidak menyangka kalau ancaman mereka sampai seperti ini.
Kenapa kamu tidak langsung bilang kepada kami dahulu biar langsung kami bantu. (Safira)
Kejadiannya begitu cepat. Bahkan aku tidak tahu apa-apa awalnya. Dini hari datang segerombolan orang ke rumah bawa pistol dan mencari aku. Kedua orang tuaku sampai shock. Adik-adikku mengalami trauma dan ketakutan sampai sekarang. (Mutiara)
Kami sekeluarga berada dalam dan ancaman, tetapi tidak bisa memberi tahu orang lain karena ada alat penyadap dan pelacak yang dipasang oleh mereka pada tubuh kami. (Mutiara)
Katanya di dalam kalung ini sudah terpasang pelacak, penyadap, dan booom pengendali jarak jauh. Jika kami berbicara kepada orang lain maka kalung ini akan dengan bisa diledakkan langsung oleh pelaku. (Mutiara)
Safira melihat foto kalung yang ada di leher Mutiara. Dia langsung merinding membayangkan bagaimana kalau benda itu tiba-tiba langsung meledak.
Aku akan beri tahu Alva dan yang lainnya tentang ini. Juga langkah apa yang harus kita ambil nanti. (Safira)
Safira dan Mutiara berinteraksi senormal mungkin. Mereka tidak boleh terlihat sedang melakukan hal yang mencurigakan.
__ADS_1
***
Sementara itu ditempat lain, Alva dan Alfarizi sedang menghubungi keluarga Sarah. Mereka meminta keluarga Sarah jangan berhubungan atau dekat-dekat dengan orang yang baru mereka lihat atau baru dikenal.
"Ada pesan dari Sarah," ucap Alva begitu melihat ada notifikasi.
Nanti malam akan ada pengiriman beberapa wanita ke Club ABC.
Belum juga di balas sudah terlihat ada pesan gambar yang masuk. Ada tiga buah foto yang dikirim oleh Sarah. Jelas sekali kalau dia mengambil gambar itu dengan buru-buru dan dari jarak jauh. Hasilnya agak buram dan perlu di perbesar jika ingin tahu siapa yang sudah dia ambil fotonya.
Alva mengirim pesan kepada Sarah, tetapi terlihat centang satu berwarna abu. Berarti handphone milik Sarah sudah di nonaktifkan.
"Ini Fery, tunangannya Intan," kata Alva sambil menunjuk laki-laki berbaju kaus putih.
"Lalu, apa orang ini adalah Leonard?" tanya Alfarizi sambil menunjuk laki-laki berwajah bule campuran.
"Bisa jadi. Kita jadikan foto ini untuk barang bukti nanti," jawab Alva.
Kali ini Alva tidak langsung memberi tahu polisi lewat chat. Dia mengajak mereka untuk bertemu kembali di Restoran Yummy milik Alva.
***
__ADS_1
"Lalu, apa dia ini Leonard