Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 163. Pesan Dari Safira


__ADS_3

Bab 162


Alva membaca pesan dari Safira untuk Arshy. Mata laki-laki itu berkaca-kaca karena merasa sangat bahagia. Akhirnya dia bisa mendapatkan kabar langsung darinya. Secepatnya pemuda itu membuka email miliknya. Ternyata ada pesan masuk dari email baru milik Safira.


Assalamualaikum, Calon Imamku.


Alva, ini aku, Safira. Bagaimana kabarmu? Aku di sini rindu sekali sama kamu. Sampai rasanya tidak tahan lagi. Berulang kali aku mencoba untuk kabur, tetapi selalu gagal. Bahkan sekarang paspor milik aku ditahan sama Mama. Aku tidak bisa kemana-mana lagi, hanya rumah dan rumah sakit.


Aku minta tolong sama Papa, Mama malah mengancam. Aku tidak mau kalau sampai Papa dipenjarakan oleh Mama. Aku bingung harus bagaimana? Melakukan apa lagi agar Mama mau memaafkan Papa dan merestui hubungan kita.


Aku terkurung di negeri orang. Menahan rindu yang tidak berujung akan sampai kapan. Aku juga selalu menolak mati-matian perjodohan dengan Bryan.


Bagaimana kabarnya Alfi sekarang? Aku melihat dia lewat akun media milik Arshy. Ternyata dia sekarang sudah besar. Aku rindu juga kepadanya. Jika mengingat kalian air mataku tidak mau berhenti keluar. Sampaikan salam rindu dan sayang kepada Alfi.


Aku tidak bisa menulis banyak. Aku usahakan untuk segera menghubungi kamu kembali.


Assalammualaikum, dari Safira.


Dada Alva bergemuruh karena membaca pesan dari kekasih hatinya. Dia juga merasakan hal yang sama. Rindu yang menggunung dan tertahan. Laki-laki itu juga tidak tahu harus bagaimana agar bisa mengambil kembali Safira.


Rasanya saat ini juga Alva ingin pergi ke Amerika. Namun, tanggung jawabnya di sini masih banyak. Dia harus pintar-pintar mencari waktu yang tepat agar bisa pergi ke sana.

__ADS_1


"Ya Allah, semoga saja Engkau memberikan kami kemudahan dalam segala urusan kami ini. Lembutkan dan buka hati Tante Shinta, agar memberikan restu untuk aku dan Safira," ucap Alva berdoa sepenuh hati.


***


Beberapa hari pun berlalu, Alva terus berpikir mencari cara untuk bisa menemui Safira. Tidak ada lagi pesan dari gadis itu. Ini malah membuat dia semakin khawatir akan keadaanya.


Alva berharap kalau kepergian Dokter Rama ke Amerika kali ini, bisa membawa kembali Safira pulang ke Indonesia. Kemarin malam, laki-laki paruh baya itu pergi dan dia tahu dari status Dewi yang mengantar kepergian suaminya ke bandara.


Bunyi dering ponsel membuyarkan lamunan Alva. Terlihat ada nama Papa Rama di layar. Dengan cepat Alva menggeser tombol hijau.


"Assalamualaikum, Pa. Bagaimana keadaan di sana?" tanya Alva.


"Doakan Fira agar dia cepat sembuh, ya," jawab Dokter Rama dengan suaranya yang bergetar.


"Fira kenapa, Pa?"


"Dia mengalami kecelakaan saat mencoba kabur. Dia tertabrak mobil yang melaju kencang."


Alva merasa ruh di dalam tubuhnya melayang sebagian. Dia mendadak tuli, buta, dan blank tidak ingat apa-apa, kecuali Safira. Gadis yang dijanjikan olehnya akan menjadikan dia seorang istri.


"Kak Alva, ada apa?" tanya Arshy yang datang sambil menuntun Alfi.

__ADS_1


Bocah kecil itu memeluk tangan Alva yang jatuh di samping badannya. Alfi menggoyangkan lengan itu sambil memanggilnya.


"Papa ... Papa! Ayo, kita belajar menggambar dan mewarnai," kata Alfi dengan kata-kata yang cadel karena belum bisa mengucapkan huruf "R".


Alva kembali tersadar, lalu mengelus kepala Alfi. Dia kembali bisa mendengarkan ucapan Dokter Rama di sebrang sana.


"Pa, aku–" Alva bingung harus melakukan apa saat ini.


"Dengan begini Papa bisa membawa Safira pergi dari Amerika dan pulang ke Indonesia. Shinta sudah membuat Safira merasa tertekan dan menderita. Kini giliran aku yang memukul balik Shinta dengan kejadian ini. Safira tidak mengalami koma. Hanya saja luka ditubuhnya cukup serius. Papa akan membawa ke rumah sakit di Singapore. Kebetulan ada teman Papa yang bertemu di sini. Dia juga akan membatu untuk mengurus pemindahan perawatan Safira ke sana."


"Benarkah itu, Pa?" Alva merasa senang karena dia akan bisa bertemu kembali dengan Safira.


"Ya. Setidaknya dari kecelakaan itu ada hikmahnya buat kita. Safira bisa terlepas dari Shinta dan Papa tidak akan melepaskan kembali putri semata wayang Papa itu."


Kabar kecelakaan yang dialami oleh Safira memberikan dua sisi, satu sisi merupakan musibah yang membuat gadis itu terluka. Satu sisi lainnya, Safira bisa kembali kepada mereka.


'Aku tunggu kepulangan kamu, Fira!' batin Alva.


Kali ini Alva tidak akan mau menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki. Kehilangan dia selama dua tahun membuat dia sadar akan arti kehadiran gadis itu di dalam hidupnya.


***

__ADS_1



__ADS_2