
Bab 97
"Lalu kamu jadi akan menikah dengan Ratu?" tanya Arga.
"Kan sudah aku bilang tadi, mau tidak mau aku harus menikah dengannya. Yang jadi masalah sekarang adalah Ratu tidak mau sama aku," jawab Pandu.
Arga tertawa terbahak-bahak. Seorang Pandu yang biasanya dikejar-kejar perempuan dan menunjuk wanita mana yang ingin dia ajak kencang, sekarang mendapat penolakan dari seorang Ratu yang memiliki banyak kekurangan.
"Kayaknya dia tahu kalau kamu itu playboy atau seorang casanova. Makanya dia menolak," tukas Arga sambil menahan tawa.
Pandu tidak terima dengan itu semua. Baru kali di dalam hidupnya ditolak oleh seorang perempuan. Kesal ... marah, kepada Ratu? Ya, itu yang dia rasakan saat ini.
"Kamu yang tidak beda jauh dariku kelakuannya saja bisa mendapatkan Marsha, wanita yang nyaris sempurna. Lalu, kenapa nasib aku begini. Mama dan papa juga kenapa menyuruh aku menikah dengan Ratu. Kalau mau berbuat baik sebagai ucapan terima kasih karena ibunya sudah mendonorkan ginjalnya, tidak perlu dengan disuruh menikah. Masih banyak cara lainnya," tukas Pandu mulai meracau.
"Kan sudah pernah aku bilang kalau Allah mengirimkan Ratu untuk dirimu agar kamu kembali ke jalan yang lurus," pungkas Arga dan Pandu malah memanyunkan bibirnya.
Pintu terbuka dan menampilkan Mariana yang bertampang penuh amarah. Wanita itu langsung saja belabrak Pandu.
"Katakan kalau kamu sudah dijodohkan oleh orang tuamu itu semua adalah bohong!" teriak Mariana sambil mencengkram jas Pandu.
Arga dan Pandu tercengang karena perbuatan Mariana. Kedua laki-laki itu tahu betul seperti apa sifat wanita ini.
"Bukannya sudah aku bilang dari awal kalau hubungan kita ini adalah partner ranjang saja. Kamu menyuruh aku agar jangan menolong Valerie agar terbebas dari penjara. Sebagai gantinya kamu akan menjadi alat pemuas aku. Tidak ada hubungan spesial apa pun. Ingat itu!" balas Pandu sambil menyentakan tangan Mariana dengan kasar.
Arga terkejut juga Pandu bisa berlaku kasar kepada Mariana. Biasanya laki-laki itu selalu berlaku baik kepada teman kencannya.
Pandu pun pergi meninggalkan ruang Arga. Dia meninggalkan Mariana yang kini menangis tergugu.
"Untuk apa kamu menangis? Bukannya kamu dulu sering bilang jangan menangisi laki-laki. Lalu, kenapa kamu menangis sekarang?" tanya Arga.
"Semua ini gara-gara kamu Arga! Kamu dulu bilang jangan ganggu kamu, carilah laki-laki lain. Maka aku pun belajar mencintai Pandu. Aku membuka hati lebar-lebar untuk dirinya. Tapi, sekarang dia pun membuang aku," jawab Mariana sambil terisak.
"Mungkin Pandu bukanlah laki-laki terbaik untuk dirimu. Yakinlah di luar sana ada laki-laki yang akan tulus menerima dirimu. Jika kamu ingin pasangan yang baik, maka perbaiki dulu dirimu. Cari kebahagiaan dirimu tanpa menyakiti dan merugikan orang lain," ucap Arga dan tangisan Mariana semakin histeris.
__ADS_1
***
Arga mengerutkan kening saat melihat Alva dan Safira asyik bermain berdua menyusun lego. Padahal kemarin anaknya bilang tidak mau lagi-lagi sama temannya ini karena sering disebut pacaran.
"Sayang, itu Alva dan Safira masih anteng bermain," bisik Arga menahan tawanya.
"Sudah jangan ganggu mereka. Namanya juga anak-anak, yang penting kita sebagai orang tua mengawasi dan memberikan pemahaman sama mereka," balas Marsha yang sibuk menata makanan di meja makan.
Safira sekarang setiap pulang sekolah akan ikut Marsha ke apartemen dan bermain dengan Alva. Nanti Dokter Rama akan menjemput setelah pulang kerja atau dia beristirahat. Bocah kecil itu merasa senang bisa ikut Alva, apalagi ada Marsha yang dianggap sebagai sosok seorang ibu olehnya.
Arga tidak mempermasalahkan kehadiran Safira, hanya saja dia akan merasa cemburu jika Dokter Rama dekat-dekat dengan Marsha. Dia semakin posesif saja kepada istrinya.
"Sayang, aku kembali ke kantor," ucap Arga lalu memeluk dan mencium bibir sang istri.
Mereka tidak tahu kalau ada dua bocah yang kembali ke dapur yang merangkap ruang makan. Niatnya ingin meminta cemilan kepada Marsha.
"Bunda dan Ayah berciuman," ucap Safira.
Marsha yang terkejut mendengar ada suara anak kecil, langsung mendorong tubuh Arga dengan kuat. Arga yang tidak siap dengan dorong dari sang istri sampai jatuh terjungkal ke belakang.
Marsha yang merasa bersalah langsung meminta maaf dan membantu Arga bangun. Sementara itu kedua bocah itu hanya terdiam sambil menatap ke arah dua orang dewasa yang terlihat romantis.
"Kenapa Bunda mendorong tubuh Ayah?" tanya Alva yang merasa heran.
Marsha malah tertawa garing dan Arga menggerutu. Sebenarnya keduanya merasa malu karena sudah kepergok dua anak kecil.
"Sudah aku bilang, Mas. Tahan diri jangan suka main sosor jika Alva sedang bangun," bisik Marsha menahan malu karena dirinya sendiri juga selalu menikmati sentuhan suaminya.
Lagi-lagi Arga yang menjadi tersangka atas kecerobohan mereka. Namun, karena cinta sama Marsha jadi dia bersabar saja.
Bel pintu terbuka dan saat Arga membuka pintu, betapa terkejutnya dia melihat ada Dokter Rama berdiri di sana sambil membawa buket bunga mawar merah. Tentu saja ini membuat Arga semakin cemburu.
"Pak Arga?" Dokter Rama terkejut saat melihat ada pasiennya di dalam apartemen Marsha.
__ADS_1
"Dokter Rama mau menjemput Safira," ucap Arga mengabaikan rasa keterkejutan laki-laki yang memakai kemeja hitam.
"I–ya. Saya mau menjemput Safira," balas Dokter Rama masih dalam keadaan terkejut.
Arga pun langsung memanggil Safira. Niat dia mau pergi ke kantor, kini diurungkan sejenak sampai tamu itu pulang.
"Ini pesanan kamu, Sayang," ucap Dokter Rama kepada Safira sambil menyerahkan buket bunga itu.
"Terima kasih Papa!" Safira menerima dengan senang hati.
Bocah kecil itu langsung berlari ke dapur dan memberikan buket bunga itu kepada Marsha. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena selalu dibuatkan bekal.
Marsha juga merasa terkejut saat Safira membawa sebuket bunga dan memberikan kepadanya sambil tersenyum manis. Wanita itu pun menerima dengan senang hati.
"Bunda, terima kasih untuk semua perhatian yang diberikan untukku. Aku mengundang Bunda sekeluarga untuk datang ke rumah aku besok malam," kata Safira.
Arga melotot saat Safira mengajak Marsha untuk makan malam bersama untuk merayakan ulang tahunnya. Laki-laki itu baru membuka mulut, tentu saja ingin menolak undangan itu.
"Baik, Sayang. Insha Allah besok Bunda, Ayah Arga, dan Alva akan datang ke acara ulang tahun Safira."
Bukan hanya Arga yang tidak setuju, Alva pun sama. Hanya saja bocah kecil itu langsung mendapat pelototan dari Marsha.
'Jadi, istri dari Arga adalah Marsha. Kalau tidak salah dulu Arga mengaku pasangan pengantin baru. Kalau sudah punya anak seumuran Alva sudah tidak disebut pasangan pengantin baru,' batin Dokter Rama.
'Apa Marsha menikahi duda beranak satu?' lanjut Dokter Rama.
Wajah Alva yang mirip dengan Arga, sudah pasti orang-orang akan langsung menyangka mereka adalah anak dan ayah biologis. Begitu juga dengan yang ada di dalam pikiran Dokter Rama.
'Aku harus membatasi pertemuan Dokter Rama dengan Marsha. Terlihat jelas laki-laki itu suka sama istriku,' batin Arga sambil menatap Dokter Rama.
***
Apakah Marsha akan tahu kalau Arga cemburu dan akan menjauhi Safira dan Dokter Rama? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan nonton iklan.