Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 68. Penolakan Eyang Sari


__ADS_3

Bab 68


Marsha menjemput Alva di rumah Barata. Bocah itu berada di sana dua hari satu malam. Sari bersikukuh agar buyutnya itu lebih lama tinggal di sana. Wanita tua itu masih ingin bermain dengan putra dari Sakti. Ya, Sari selalu menyebut seperti itu. Karena kenyataannya memang bukan anak Arga.


Meski tidak enak hati, Ayu pun kemarin malam minta izin kepada mantan menantunya itu untuk menjemput Alva di sore hari. Biasanya dia akan mengantarkan saat pagi hari.


Saat ini Marsha berhadapan dengan Sari. Wanita tua yang dulu sangat memanjakan dan menyayangi dirinya, kini menatap jengah kepadanya. Namun, sebisa mungkin dia tidak sampai terprovokasi. Apalagi ada Dewi di sana yang menatapnya dengan ejekan.


"Bunda!" Alva pun berlari ke arah Marsha dan disambut dengan pelukan.


"Anak bunda tidak rewel, 'kan?" tanya Marsha sambil mengusap kedua pipi gembul putranya.


"Tidak. Alva 'kan anak pintar," jawab Alva sambil tersenyum manis.


Setidaknya Marsha merasa tenang kalau putranya tidak rewel. Jika itu terjadi bisa-bisa Sari akan menceramahi dirinya karena tidak becus mengurus anak sehingga jadi manja.


"Ayu, tadi aku dapat beberapa telepon dari keluarga di Surabaya. Mereka sangat terkejut kalau Arga sudah bercerai. Lalu, mereka pun meminta aku agar menjodohkan Arga dengan Dewi," kata Sari dengan tatapan sinis kepada Marsha yang sedang mengambil tas milik Arga.


Bagai ditikam sembilu ke jantungnya, Marsha sangat terkejut dan langsung merasakan sakit di dadanya mendengar ucapan Sari. Dia ingin membalas ucapan wanita tua itu kalau dirinya akan rujuk dengan Arga. Saat ini mereka sudah selesai menyiapkan berkas untuk pendaftaran ke KUA.


"Sepertinya itu tidak bisa, Eyang," balas Barata dan dibenarkan oleh Ayu.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kurangnya Dewi? Dia wanita baik-baik dan terhormat. Bisa menjaga dirinya dari sentuhan para lelaki," tanya Sari dengan maksud menyindir Marsha yang saat menikah dengan Arga sudah hamil anak Sakti.


Betapa bahagianya Dewi mendapatkan dukungan dan pujian dari Sari. Dia menahan senyumnya agar tidak tampak menghiasi wajahnya. Karena Marsha dan Ayu melihat ke arah dirinya.


"Arga dan Marsha akan rujuk sebentar lagi," jawab Barata.


"Apa, rujuk? Tidak. Aku tidak mau cucuku menikah dengan perempuan yang tidak bisa menjaga kehormatan dirinya!" bentak Sari dengan mata menatap tajam kepada Marsha.


Jangan ditanya bagaimana perasaan Marsha saat ini. Sakit hati yang teramat sangat, itu yang dia rasakan. Lagi-lagi dirinya dihina oleh wanita tua itu. Kalau mau dia juga bisa membongkar keburukan Arga yang seorang casanova. Namun, dia tidak mau mempermalukan calon suaminya.


"Kenapa Eyang tidak setuju? Kan, Arga sendiri yang akan melakoni kehidupan rumah tangganya. Jadi, biarkan dia memilih dengan siapa dia mau menghabiskan waktunya sampai meninggal nanti," kata Ayu melakukan pembelaan terhadap putra dan calon menantunya.


"Hei, kalian ini bagaimana? Kalau mencari pasangan hidup itu harus dilihat juga bibit dan bobot orang itu. Jangan sampai kalian menikahkan anak dan cucu kalian dengan orang jahat atau orang yang tidak baik. Bagaimana kalau nanti malah melahirkan keturunan yang memiliki kelakuan buruk!" pekik Sari dengan bibir monyong ke sana sini dengan mata melotot.


Dalam perjalanan pulang, Marsha menangis histeris saking sakit hatinya. Alva jadi terkejut, lalu dia pun ikutan menangis. Kini, mobil itu dipenuhi oleh suara tangisan ibu dan anak.


***


Setiap malam Arga akan menghubungi Marsha untuk berbicara dengannya dan juga Alva. Namun, sudah beberapa kali dia mencoba menghubungi nomor sang pujaan hati tetap saja tidak aktif.


"Kenapa Marsha sulit dihubungi, ya? Apa hp-nya lowbat?" gumam Arga sambil memandangi handphone miliknya.

__ADS_1


Laki-laki itu tidak patah semangat, dia pun menghubungi calon mertuanya. Ternyata sama saja tidak terhubung. Hal ini membuat dirinya semakin cemas dan gelisah.


"Ya Allah, semoga saja Marsha dalam keadaan baik-baik saja," kata Arga bermonolog.


Perasaan Arga yang tidak menentu dan bercampur aduk, membuat dia menghubungi kedua orang tuanya. Dia ingin ayahnya melihat keadaan keluarga Marsha.


"Apa? Marsha sulit dihubungi," tanya Barata terkejut.


"Iya, Yah. Makanya aku ingin tahu kenapa dia tidak bisa aku hubungi?" jawab Arga dengan lirih.


Mata Barata dan Ayu saling melirik. Keduanya yakin hal ini pasti ada hubungannya dengan dengan kejadian sore tadi. Mereka juga sudah berusaha untuk memberi pengertian kepada Sari, tetapi wanita itu tetap keras kepala.


"Baik, Ayah akan mendatangi rumah Bagas untuk melihat keadaan mereka. Semoga saja semuanya baik-baik saja," kata Barata setenang mungkin.


Kini Barata dan Ayu yang mendadak merasakan kecemasan. Mereka takut kalau Marsha sakit hati dan membenci keluarga mereka. Apalagi jika melihat sifat Bagas yang keras kepala dan mudah tersinggung jika menyangkut keluargnya, pasti dia akan marah.


"Apa terjadi sesuatu di rumah Pak Bagas?" tanya Ayu dengan ekspresi wajah yang cemas.


"Tidak tahu, Bu. Sebaiknya kita cepat-cepat pergi ke sana. Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan," jawab Barata sambil mengambil kunci motor.


Ayu tetap tinggal di rumah dan mendoakan kebaikan untuk keluarga Marsha. Dia tetap berharap kalau yang menjadi menantunya nanti adalah Marsha.

__ADS_1


***


Sebenarnya apa yang sudah terjadi kepada Marsha? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_2