
Bab 125
"Sayang, bangun!" Arga mengguncangkan tubuh Marsha agar sang istri membuka matanya.
Marsha masih memejamkan matanya. Dia bergeming meski Arga terus berusaha untuk membangunkan dirinya.
"Maaf, Pak. Biar kami memeriksa keadaan Bu Marsha," kata dokter.
Arga meraih putrinya dan meng-adzan-i dengan air mata yang berderai. Seorang perawat langsung mengambil alih begitu selesai untuk dibersihkan. Laki-laki itu merasa kakinya tidak berpijak pada bumi saat melihat keadaan sang istri. Rasa ketakutan itu semakin besar saat dokter memasangkan beberapa alat medis kepada Marsha.
"Apa yang terjadi kepada istriku, Dok?" tanya Arga terisak.
"Kita lihat perkembangannya, Pak. Mengingat Bu Marsha pernah mempunyai riwayat koma pasca melahirkan, dahulu. Semoga kali ini Bu Marsha baik-baik saja," jawab dokter itu mencoba menenangkan Arga.
Arga tidak mau jauh dari kedua bayinya. Dia meminta izin agar kedua anak ditempatkan di ruang inap tempat Marsha di rawat. Tidak peduli meski harus membayar seberapa besar. Laki-laki itu juga ingin pihak rumah sakit memberikan pelayanan terbaik untuk istri dan anak-anaknya.
Arga dan Alva mengaji di samping brankar Marsha. Mereka berharap segera datang keajaiban, agar orang yang mereka sayangi segera sadar. Doa-doa terus mereka lantunkan tiada henti.
"Ayah, jari tangan Bunda bergerak!" teriak Alva saat melihat jari telunjuk Marsha terangkat.
Mendengar ucapan Alva, tentu saja Arga langsung mengecek. Dengan kedua mata kepalanya sendiri, dia melihat jari dan kelopak mata Marsha bergerak pelan. Tanpa menunggu, laki-laki itu langsung menekan bell nurse untuk memanggil bantuan tim medis.
"Sayang, kamu bisa mendengar aku?" tanya Arga sambil memegang tangan Marsha.
Arga membelai kepala Marsha dengan lembut, dia merasakan tangannya di genggaman balik oleh Marsha meski terasa sangat lemah. Mendapat respon seperti ini sudah membuat dia bahagia.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Engkau sudah memberikan kesadaran kepada istri hamba. Aku mohon sembuhkan lah dia, persatuan kami untuk beribadah bersama kembali di jalanmu yang lurus bersama anak-anak kami," gumam Arga dan di-aamiin-kan oleh Alva.
Dokter dan beberapa perawat datang ke sana untuk memeriksa keadaan Marsha. Terlihat kelegaan di wajah mereka. Kali ini Marsha berhasil melewati masa kritisnya akibat pendarahan dan tidak mengalami koma panjang seperti dahulu.
Dewi dan Dokter Rama datang menjenguk Marsha. Saat ini wanita itu juga sedang hamil muda. Kabar gembira bagi keluarga sang dokter, apalagi bagi Safira.
"Bagaimana keadaan Marsha?" tanya Dewi dengan raut sendu.
__ADS_1
Setelah tinggal di ibu kota, Dewi sering mengunjungi Marsha bersama Safira. Apalagi Alva selalu di antar pulang oleh Dewi jika Arga sedang sibuk.
"Alhamdulillah, keadaan Bu Marsha saat ini sudah membaik. Masih lemah dan perlu istirahat juga pengobatan untuk menstabilkan kondisi tubuh pasca melahirkan," jawab dokter.
"Kenapa dia tidak cesar saja?" gumam Dewi.
Istri Dokter Rama ini pernah berbicara dengan Marsha tentang proses melahirkan. Ternyata ibunya Alva ini akan memilih proses melahirkan dengan cara normal selagi masih bisa.
Kedua orang tua dan kedua mertua Arga sampai ke rumah sakit tidak lama kemudian. Mereka menyambut gembira cucu kembar dengan berbeda gender ini.
Pandu yang sedang berada di Singapore pun sengaja pulang untuk memberikan selamat kepada sahabatnya ini. Dia juga tadi sempat menawarkan pengobatan di negera Singapore kepada Arga jika Marsha mengalami koma seperti dahulu.
"Calon pengantin kenapa pagi-pagi sudah ada di sini?" tanya Arga merasa heran.
"Aku tuh, langsung memesan tiket penerbangan begitu tahu Marsha akan melahirkan. Untungnya keburu dan hampir terlambat," jawab Pandu.
"Terima kasih, ya! Kamu sudah sempat-sempatnya datang ke sini, padahal kamu sedang sibuk-sibuknya," kata Arga sambil memeluk tubuh Pandu singkat.
"Tentu saja, kamu pikir aku teman apaan yang mendengar sahabatnya panik bahkan histeris karena istrinya akan melahirkan," ucap Pandu menahan tawa.
"Tadi kamu marah-marahin aku. Padahal aku tidak tahu apa-apa. Orang lagi tidur dibangunkan oleh suara dering telepon, eh, malah dimarahi," lanjut Pandu dan membuat semua orang dewasa di sana menertawakan Arga.
"Namanya juga panik. Tadi aku malah menggendong tas berlari menuju basement dan Marsha malah aku tinggal di sofa," kata Arga membongkar kebodohannya.
Semua kembali tertawa karena perbuatan Arga yang begitu panik saat menghadapi kelahiran kedua bayi kembarnya. Mereka tahu betapa cinta dan posesif laki-laki itu kepada keluarganya, terutama kepada sang istri.
***
Marsha membuka mata sekitar jam 09:00 dan betapa bahagianya Arga saat melihat senyum sang istri. Diciumnya kening wanita itu dengan lembut.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah berjuang demi anak-anak kita dan kembali kepadaku," bisik Arga dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Bagaimana keadaan anak-anak kita, Mas?" tanya Marsha dengan pelan karena dia masih dalam keadaan lemah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, mereka semua baik," jawab Arga.
"Apa kamu mau melihat mereka?" tanya Arga balik dan Marsha pun mengangguk.
Arga menggendong satu persatu bayi mereka. Lalu meletakkan di samping Marsha.
Air mata Marsha langsung bercucuran, betapa bahagianya dia bisa melihat kedua buah hatinya yang baru saja dia perjuangkan antara hidup dan mati. Dia menyentuh kedua bayi itu dengan lembut.
"Wajah mereka mirip sekali dengan kamu, Mas," ucap Marsha setelah memperhatikan muka kedua bayinya.
Arga hanya tertawa terkekeh, karena sesuai prediksi dia kalau anak-anak yang akan lahir nanti wajahnya akan mirip dengannya. Selama ini dia yang ngidam dan tidak mau jauh dari Marsha yang sedang hamil anaknya. Setiap hari dia selalu mengajak bicara bayi-bayi saat di dalam perut istrinya.
"Kayaknya takut kalah bersaing dengan Alva. Bukannya penduduk di kampung sering bilang, kalau muka anak tidak mirip bapaknya takut tidak di akui," ujar Arga dan mendapat cubitan dari Marsha.
Ketika keduanya sedang bercanda, pintu terbuka dan Alva bersama kakek, nenek, Oma, dan Opa-nya masuk. Mereka baru saja kembali dari kantin karena belum makan tadi.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun juga Marsha," kata Ayu langsung menghambur memeluk sang menantu.
Alva naik ke pangkuan Arga agar bisa memeluk dan mencium ibunya. Bocah itu sangat senang melihat perempuan yang selalu bersama dengannya itu sudah tersenyum lagi.
"Bunda mau menyusui adek bayi?" tanya Alva saat Marsha mengambil salah satu anaknya yang menangis.
"Iya, Sayang. Adek bayinya haus dan ingin menyusu," jawab Marsha.
"Lalu, adek yang satunya lagi disusui oleh ayah, ya?" tanya Alva saat Arga mengambil yang satunya lagi.
Orang-orang tertawa mendengar celotehan Alva. Arga hanya mengacak-acak kepala bocah itu sambil menggendong bayi perempuan dengan sebelah tangan.
"Apa kamu sudah menyiapkan nama mereka berdua?" tanya Barata kepada putranya.
***
Siapa saja nama kedua bayi Arga dan Marsha? kasih rekomendasi untuk nama mereka di kolom komentar.
__ADS_1