Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 40. Pergi Jalan-Jalan Bersama


__ADS_3

Bab 40


Setelah mandi bersama bersama sang anak, Arga akan mengantarkan Alva ke rumah Marsha. Laki-laki itu juga ingin menanyakan apa yang sudah diperbuat dan perkataan Valerie kepada istrinya itu. Dia tidak mau ada kesalahpahaman lagi di antara mereka. Dia juga tidak mau sampai terjadi perceraian.


"Anak ayah sudah wangi dan tampan. Jadi, nanti bilang sama bunda, kalau ingin jalan-jalan bertiga. Bagaimana?" Arga meminta Alva untuk membantu dirinya agar kembali dekat dengan Marsha.


"Oke," balas Alva sambil mengacungkan jari jempol tangan kanan seperti yang sering laki-laki itu lakukan.


Arga yang selalu merasa gemas kepada Alva langsung menghujani ciuman di pipi gembul si bocah sampai tertawa terkekeh. Laki-laki dewasa itu merasa senang jika sudah bermain-main dengan anaknya. Sehari tidak bisa bermain dengan Alva sudah membuat dirinya kesepian.


Begitu mobil Arga masuk ke pekarangan rumah orang tua Marsha, langsung membunyikan klakson. Marsha keluar rumah dengan berjalan menggunakan kruk. Wanita itu menyambut kepulangan buah hatinya 


"Anak bunda akhirnya pulang," kata Marsha sambil menghampiri Alva yang berada di gendong Arga.


"Ingat, minta Bunda untuk jalan-jalan bersama ayah," bisik Arga dan Alva pun mengangguk.


Marsha tidak bisa mendengarkan apa yang dikatakan Arga kepada anaknya. Dia pun mengulurkan tangan agar Alva mau pindah ke dalam gendongannya.


"Bunda, jalan-jalan sama Ayah, yuk!" ajak Alva yang memeluk erat leher Arga.


Marsha terkejut mendengar permintaan sang anak. Biasanya Alva hanya ingin bermain saja jika mereka bersama. Tidak pernah minta pergi jalan-jalan bersama, apalagi liburan.


"Tidak bisa, Sayang. Ini sudah sangat sore. Bunda juga belum bisa pergi jauh-jauh," balas Marsha menolak ajakan Alva.


Wajah Alva langsung berubah sendu. Dia pun menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arga. Bahkan dia menolak saat Marsha hendak menggendongnya.


"Alva, sekarang sudah sore. Kapan-kapan kita pergi jalan-jalannya, ya?" rayu Marsha dengan lirih.

__ADS_1


Alva menggelengkan kepala. Dia inginnya sekarang mereka bertiga pergi bersama. Apalagi dia tahu kalau besok ayahnya akan pergi lagi. Bocah itu mengetahui hal itu saat Ayu dan Arga membahas pekerjaan tadi.


"Sebaiknya kita jalan-jalan dahulu meski sebentar. Apalagi saat sore seperti ini alun-alun kecamatan selalu ramai. Itu bagus untuk Alva agar bisa menjalin sosialisasi dengan orang lain," ujar Arga.


Marsha pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika sang anak sudah seperti itu.


Arga pun mencoba menggandeng tangan Marsha, tetapi wanita itu menolaknya. Hanya wanita ini yang selalu menolak perhatian darinya. Tentu saja hatinya merasa terluka karena penolakan itu. Selama ini banyak wanita yang selalu berharap mendapatkan perhatian darinya. Meski dia selalu cuek dan masa bodoh dengan para wanita nakal yang sering sukarela melemparkan tubuhnya untuk dia nikmati.


Marsha tidak bisa menolak saat Arga menyuruh untuk duduk di kursi depan sambil memangku Alva. Wajah wanita itu terlihat tidak rela.


Jantung Arga juga kembali bertalu-talu saat dia memasangkan sabuk pengaman untuk sang istri. Laki-laki dan perempuan itu beradu pandang dalam jarak yang sangat dekat. Bahkan keduanya bisa merasakan hembusan napas lawannya. Seakan ada kekuatan magnet yang menarik Arga untuk mencium bibir ranum milik Marsha.


"Awww!" Arga memegang rahang dan kepalanya.


"Aduh!" Marsha juga langsung mengaduh.


'Untung Alva memukul Kak Arga. Kalau enggak bisa-bisa bibirnya mencium bibir aku. Aku nggak mau dicium oleh bibir yang sudah menyosor banyak bibir wanita,' batin Marsha.


'Aduh, Alva! Kenapa kamu malah memukul ayah. Jadi, gagal deh, mencicipi bibir ranum milik Marsha,' batin Arga menjerit.


Mobil Arga parkir di dekat alun-alun kecamatan. Banyak sekali orang-orang yang menghabiskan waktu di sana. Ada yang sedang senam, main bola sepak, main bola voli, di pinggir alun-alun atau trotoar banyak yang berlari joging. Jika di pinggir jalan kebanyakan orang bersepeda. Sementara anak-anak bermain di pojok kanan alun-alun ada beberapa jenis mainan. 


Di sisi kanan dan kiri jalan dipenuhi oleh pedagang. Kegiatan ini dimulai setelah Ashar dan berakhir Magrib. 


Betapa bahagianya Alva melihat banyak sekali anak kecil yang bermain di sana. Dia pun ikut berbaur dengan anak sebaya dengan dirinya.


"Anak siapa yang tampan ini?" tanya seorang ibu yang melihat Alva.

__ADS_1


"Anaknya ayah Arga," jawab Alva. 


Arga sangat bahagia mendengar ucapan Alva. Berbeda dengan Marsha yang tidak terima putranya menjawab begitu.


"Wah, pantas saja tampan. Ayahnya juga memang sangat tampan," balas ibu itu. 


Kehadiran Alva mencuri banyak perhatian warga yang sedang mencari hiburan di sana. Keluarga Bagas dan keluarga Barata merupakan orang terpandang di sana. Rasanya semua orang di kampung itu tahu siapa kedua keluarga ini.


"Beruntungnya Marsha, padahal dulu dia akan menikah dengan Sakti, tetapi karena meninggal jadi menikah dengan Arga," ujar wanita berbadan montok.


"Iya. Pacaran dengan adiknya, eh, menikah sama kakaknya," timpal yang lain.


"Itulah yang namanya jodoh."


"Iya, kalau sudah jodoh tidak akan ke mana."


Ibu-Ibu yang sedang mengasuh buah hati mereka malah asyik bergosip tentang Marsha dan Arga. Pernikahan yang sangat fenomenal waktu itu. Menjadi buah bibir beberapa bulan di kampung ini.


"Sakti itu siapa?" tanya Alva kepada Ibu-Ibu di sana.


Marsha sudah membuka mulutnya, tetapi Arga memintanya diam. Mungkin sekarang sudah saatnya menceritakan siapa ayah Alva sebenarnya.


***


Apakah Alva akan paham siapa ayah dia yang sebenarnya nanti? Bagaimana kelanjutan perceraian Arga dengan Marsha? Ikuti terus kisah mereka, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus, kepoin novelnya.

__ADS_1



__ADS_2