
Bab 168
Alva, Alfi, dan Arshy datang ke bandara untuk menjemput Safira. Mereka sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis itu. Kabar baik yang mereka terima kalau dokter di sana mengatakan putri dari Dokter Rama itu sudah bisa rawat jalan dan tidak perlu lagi melakukan rawat inap kecuali jika kesehatan dia mengalami penurunan setelah melakukan perjalanan ini.
Sambil menunggu kedatangan pesawat dari Singapura, mereka makan siang di salah satu tempat makan yang ada di kawasan bandara. Terlihat Alfi begitu semangat menghabiskan makanannya sendiri tanpa disuapi. Hari ini dia akan bertemu dengan orang yang dia tahu lewat foto dan baru-baru ini lewat video.
Melihat Alfi yang riang gembira ingin bertemu dengan Safira, membuat Alva ikut senang. Dia juga berharap kehadiran bocah itu bisa membuat sang gadis bersemangat untuk cepat sembuh.
"Kak, sepertinya pesawat yang ditumpangi oleh Kak Safira sudah landing," kata Arshy.
Alva melihat jam di pergelangan tangannya dan sudah jam kedatangan pesawat dari Singapura. Mereka bertiga pun bergegas menuju pintu kedatangan penumpang.
Ternyata benar, tidak lama setelah mereka berdiri di sana, terlihat ada Dokter Rama mendorong kursi roda di mana ada Safira yang duduk di atasnya. Bersama mereka ada seseorang laki-laki yang berwajah oriental. Dia adalah teman dari Dokter Rama yang merupakan dokter penanggung jawab Safira saat melakukan pengobatan di Singapura.
Dewi dan kedua putranya juga sudah datang di sana menyambut kedatangan Safira. Mereka langsung berlari dan memeluk gadis itu dan mengucapkan selamat datang dan kembali ke rumah.
Alva, Alfi, dan Arshy adalah orang terakhir yang menyambut kedatangan Safira. Alfi mencium tangan Safira dan memanggilnya mama.
"Pa, boleh tidak kalau aku memangku Alfi?" tanya Safira berharap Alfi bisa duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Jangan dulu, ya, Sayang. Luka kamu di luar memang sudah mengering, tapi di dalam lukanya belum sembuh benar," jawab Dokter Rama.
Meski kecewa, Safira meminta Alfi nanti duduk di sampingnya saat di dalam mobil. Gadis itu tertawa karena mendengar celotehan anak berusia dua setengah tahun. Apalagi dia selalu menjawab apa saja yang ditanyakan kepadanya.
"Kalau Papa marahnya seperti apa?" tanya Safira.
"Hmmm, biasnya Papa akan bilang, "Alfi anak pintar, anak sholeh, bereskan kembali mainannya! Kalau tidak mau akan Papa kasih ke orang lain," terus aku beresin biar mainnya tidak dikasihkan ke orang lain. Kalau mainan aku dikasih sama orang lain, berarti aku tidak akan punya mainan," jawab dengan aksen pengucapan yang masih cadel karena belum bisa mengucapkan huruf "R" dengan fasih.
Alva hanya tersenyum geli mendengar pengaduan Alfi. Padahal dia seperti itu karena meniru bundanya dahulu. Saat dia kecil dan memberangkatkan mainannya, lalu tidak mau membereskan akan mendapatkan ancaman seperti itu.
"Kalau Mami Arshy," kata Safira masih tertawa terkekeh.
"Kalau Mami itu, sukanya begini. Hem ... hem ... hem!" Alfi menggerakan tangan menunjuk-nunjuk sambil melotot.
"Itu karena Alfi sudah dikasih tahu dan kalau sedang baik moodnya, dia akan membereskan semua mainan itu tanpa disuruh. Tapi, belakang ini dia suka berbuat seperti itu," kata Arshy.
"Namanya juga anak kecil masih batita. Sukanya membuat berantakin rumah," balas Alva.
"Enggak. Alfi itu selalu sengaja begitu agar aku kesal. Apalagi kalau aku sedang sibuk dengan tugas. Selalu saja dia buat ulah dan berakhir membuat aku begitu," tukas Arshy sambil memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Itu karena Alfi cemburu dan tidak mendapat perhatian dari kamu. Jadi, dia caper dengan membuat kamu kesal," ucap Safira dan Arshy membenarkan hal itu.
***
Safira kini tinggal di rumah orang tuanya. Dia jadi teringat kepada Shinta dan George. Sebenarnya mereka adalah orang tua yang baik. Namun, ibunya itu tidak suka jika dirinya menjalin hubungan dengan Alva. Wanita dewasa itu juga sering mengingatkan dirinya jangan terlalu cinta kepada seorang laki-laki. Apalagi kalau sampai cinta buta. Nanti yang ada diri sendiri yang merasakan kesakitan dan cintanya itu akan memberi luka dalam hidupnya.
Dokter Rama akan membatasi orang yang bisa menemui Safira. Bagaimanapun juga gadis itu masih harus banyak istirahat.
"Aku usahakan setiap hari datang menjenguk," kata Alva ketika Safira terlihat sedih karena mereka mau pulang.
"Janji, ya?" Safira menatap Alva.
"Insya Allah, iya, Fira Sayang," balas Alva dan itu membuat sang gadis merona pipinya.
"Mama sakit demam lagi, ya? Pipinya merah seperti Alfi kalau sedang sakit," tanya Alfi dan Safira mengangguk.
"Papa kasih Mama ciuman biar cepat sembuh!" lanjut Alfi memberi perintah dan membuat semua orang di sana membelalakkan mata.
***
__ADS_1
Apa Alva berani melakukan apa yang di perintah oleh Alfi? Ikuti terus kisah mereka, ya!