
Bab 115
Sepulang bulan madu Arga malah sakit. Dia muntah-muntah jika pagi hari dan meriang jika setelah waktu Magrib.
"Sayang, peluk aku! Dingin," pinta Arga kepada Marsha begitu mereka selesai sholat Magrib.
Tanpa diminta dua kali Marsha pun langsung menyelimuti tubuh sang suami lalu memeluknya sesuai permintaan dia. Sudah tiga hari ini Arga sakit, tetapi tidak mau dibawa ke rumah sakit. Dokter yang datang memeriksa menyatakan tidak ada yang aneh dengan kondisi tubuh laki-laki itu. Namun, jika dalam waktu tiga hari sakit masih dirasa sebaiknya dirujuk ke rumah sakit.
Marsha mengusap-usap kepala Arga ketika laki-laki itu menelusupkan wajahnya di dada. Terdengar suara napas yang mulai tenang menandakan kalau dia sudah tidur. Setelah meyakinkan sang suami terlelap dan dalam posisi yang nyaman, wanita itu pun turun dari peraduannya. Dia hendak menghubungi kedua mertuanya karena belum bisa menjemput Alva.
"Sebaiknya paksa saja Arga dibawa ke rumah sakit. Besok Ayah dan Ibu akan ke ibu kota sekalian ajak Alva. Dia terus menanyakan kamu dan Arga," ucap Ayu di seberang sana.
"Iya, Bu. Terima kasih ... maaf sudah merepotkan," balas Marsha merasa tidak enak hati karena tidak bisa menjemput Alva dan malah membuat kedua mertuanya sibuk mengantar sang anak.
"Kita semua tidak merasa direpotkan. Bahkan jika Alva betah tinggal di sini, kita malah merasa sangat senang. Sayangnya dia tidak mau jauh dari Bunda dan Ayahnya, apalagi akan dibawakan oleh-oleh adik," tukas Ayu diakhiri suara tawanya yang terkekeh.
__ADS_1
Marsha pun ikut tersenyum mengingat putranya yang selalu bertanya, apa di dalam perutnya sudah ada adik bayi atau belum. Wanita itu pun mengelus perutnya yang masih rata dan berharap kalau sudah tumbuh calon adik Alva.
"Bunda. Alva hari ini membantu Opa mengambil telur di kandang ayam. Telurnya sangat banyak sekali. Terus telur yang ada kotoran dipisah dengan yang bersih. Kata Opa sebelum dijual kotorannya harus dibersihkan dulu. Ternyata Alva tidak bisa bantu kalau membersihkan kotorannya. Tadi saja ada lima telur pecah saat Alva bersihkan," ucap Alva dengan senang meski diakhiri dengan nada sendu.
"Wah, niat bantu malah membuat telurnya pecah, sampai lima. Tapi, yang berhasil dibersihkan oleh Alva pastinya jauh lebih banyak, iya, 'kan?" tanya Marsha.
"Tidak ada satu pun yang berhasil Alva bersihkan. Semua pecah," balas bocah tiga tahun lebih itu dan membuat Marsha tertawa terkekeh.
Arga terbangun karena mendengar suara tawa Marsha, di luar kamar tidur. Laki-laki itu penasaran dengan apa yang bisa membuatnya tertawa. Dengan langkah pelan karena tubuhnya masih lemas dia pun ke luar dari kamar itu.
"Mas. Kamu sudah bangun!" Marsha pun bergegas menghampiri Arga dan menuntunnya ke sofa.
Biasanya setelah bangun tidur tubuh Arga akan lemas, setelahnya akan segar kembali. Dia juga akan bisa aktivitas seperti biasanya.
Arga berbaring dan menjadikan paha Marsha menjadi bantal. Dia memeluk perut Marsha dan menelusupkan wajahnya ke perut sang istri.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Marsha sambil membelai rambut suaminya.
"Apa di dalam perut ini sudah ada calon adik Alva. Kok, aku kayak orang ngidam, ya?" jawab Arga kini menatap wajah istrinya dari bawah.
"Semoga saja sudah ada, Mas. Sepertinya aku harus cek kehamilan untuk tahu apa sudah ada atau belum calon bayi di sini," balas Marsha.
Arga pun langsung bangkit. Dia menangkup wajah istrinya seraya berkata, "Sayang. Ayo, kita periksa! Apakah kamu sudah hamil atau belum?"
Marsha pun hanya bisa mengangguk. Karena hari sudah malam, jadi dia memutuskan untuk membeli testpack keesokan harinya saja. Ada rasa deg-degan yang dirasakan oleh wanita itu. Dia teringat kembali dahulu saat membeli alat tes kehamilan dengan menyamar agar tidak ketahuan oleh orang lain. Siapa tahu dirinya akan bertemu dengan orang yang dikenal, nanti ujung-ujungnya akan berabe. Ternyata benar dugaannya itu, dia bertemu dengan kepala sekolah tempatnya mengajar dahulu. Penyamaran yang sempurna membuat dia tidak dikenali.
'Kalau diingat-ingat lagi rasanya ingin tertawa, ya? Menyamar demi membeli alat tes kehamilan,' batin Marsha dengan tertawa kecil.
"Sayang, apa ada yang lucu?" tanya Arga yang merasa heran sekaligus penasaran.
***
__ADS_1
Apakah Marsha itu hamil beneran atau tidak? Ikuti terus kisah mereka, ya!