
Bab 51
Pagi hari Bagas dan Indah datang ke kediaman Wibowo. Mereka langsung ke Surabaya berangkat dari pulau seberang. Kedatangan mereka di sambut baik oleh semua keluarga besar Arga layaknya keluarga sendiri.
"Pantas saja Mbak Marsha cantik, bapak dan ibunya juga cantik dan tampan," puji salah seorang wanita setengah baya.
"Iya. Dia juga orang kaya," lanjut saudaranya yang lain.
Dewi tidak suka keluarganya memberikan pujian kepada keluarga Marsha. Dia menilai kalau mereka itu pandai berakting. Menutupi perceraian Arga dengan Marsha. Seharusnya berita itu diberi tahu kepada semua orang agar tidak terjadi fitnah. Namun, sikap Arga dan Marsha masih layaknya pasangan suami istri, sering bersama-sama.
Arga memang tidak canggung kepada kedua orang tua Marsha. Dia masih menganggapnya orang tua. Begitu juga dengan Marsha yang masih menganggap Ayu dan Barata adalah orang tuannya.
"Kak, titip Alva dulu! Aku mau mengajak ibu dan ayah makan dulu. Sepertinya mereka canggung berada di tempat baru," pinta Marsha.
Wanita itu berjalan sambil menuntun Alva dan menyerahkan kepada Arga yang sedang memberi pakan kambing. Rencananya hari ini mereka akan memotong kambing. Katanya Sari ingin menjamu semua kerabatnya dengan masakan daging kambing.
Alva senang sekali memberi makanan hewan itu. Biasanya dia memberi makan ayam jika sedang bersama Bagas. Arga pun membantu Alva memberikan makanan langsung ke mulut kambingnya.
Melihat Arga sedang berdua dengan Alva, Dewi pun mendekati mereka. Dia berpikir harus bisa mengambil hati Arga dan juga Alva. Sasaran utamanya adalah akrab dengan Alva. Wanita itu akan membuat sang bocah merasakan kenyamanan dan suka kepada dirinya. Jika sudah seperti ini kedepannya akan mudah untuk merebut hati Arga. Karena saat ini dia masih bisa melihat perasaan cinta laki-laki itu untuk Marsha. Hal ini terlihat jelas dari pancaran matanya.
Dewi pandai mendekatkan diri dengan siapa saja. Wanita itu pintar bertutur kata lembut dan berlaku sopan santun. Contoh calon istri yang baik menurut kebanyakan orang.
"Mas, Alva anaknya pintar, ya?" puji Dewi sambil menatap ke arah Arga.
__ADS_1
"Anak siapa dulu?" Arga menoel-toel pipi gembul bocah berusia dua tahun yang sedang fokus memberikan dedaunan untuk kambing.
"Alva anak siapa, sih?" lanjut Arga karena bocah itu masih asyik memberikan makanan kepada hewan ternak itu.
"Anaknya Bunda sama Ayah," balas Alva lalu mencium pipi Arga.
Bocah itu sering bilang begitu jika ditanya oleh orang lain. Suara yang lantang dengan pelafalan kata yang cadel. Wajah Alva memang mirip Arga, jadi wajar kalau semua orang mengira dia anak kandung laki-laki itu.
Dewi pun ikut tertawa karena gemas dengan Alva. Wanita itu pun minta dicium sama Alva. Dia begitu senang saat mendapatkan ciuman bocah kecil itu di pipinya.
***
"Marsha, wanita yang bersama Arga tadi itu saudaranya atau kekasih barunya?" tanya Indah sambil berbisik.
"Kalau kamu ada niatan ingin kembali lagi sama Arga, harus beri peringatan sama Arga jangan terlalu dekat dengan wanita itu. Ya, kecuali kalau kamu tidak ingin kembali merajut kehidupan rumah tangga bersama Arga, biarkan saja," ujar Indah.
Marsha terdiam, selama ini Arga masih selalu berharap mereka bisa kembali membangun kehidupan rumah tangga bersama. Namun, hati kecilnya selalu mempertanyakan apakah dirinya ingin kembali atau tidak. Cinta, mungkin itu sudah ada, tetapi masih terasa kabur atau belum jelas. Kadang muncul perasaan suka kadang juga tidak. Mungkin karena rasa sakit hatinya yang terlalu dalam menjadikan perasaan wanita itu seperti ini.
"Aku tidak tahu masa depan aku dengan Kak Arga akan bagaimana. Aku jalani saja dengan hati yang ikhlas. Jika Allah mempersatukan kami kembali, berarti dia adalah jodohku. Namun, jika kita tidak bisa bersama lagi, berarti dia bukan orang yang terbaik untukku, Bu," balas Marsha.
Saat ini Marsha ingin fokus mengurus dan membesarkan Alva. Dia juga sudah ikut membantu usaha Bagas. Wanita itu bukan tipe orang yang mengagungkan cinta terhadap lawan jenis.
Menikah karena hamil terlebih dahulu. Pengkhianatan yang dilakukan oleh sang suami yang merupakan cinta pertama. Perceraian dalam rumah tangga. Menjadi kenangan buruk dalam hidup Marsha.
__ADS_1
Rencananya Bagas dan keluarganya akan langsung pulang saat sore hari. Namun, Barata dan Ayu melarang mereka untuk pulang. Jadinya, mereka memnutuskan untuk menginap semalam di sana.
Arga menikmati waktu kebersamaan dengan Marsha dan Alva. Mereka akan jalan-jalan bertiga menaiki motor. Bocah itu ingin duduk di paling depan. Lalu, Arga menyuruh Marsha berpegangan kepada dirinya. Awalnya wanita itu menolak, tetapi saat melihat ada Dewi berjalan ke arahnya, dia pun langsung melingkarkan kedua tangannya di perut laki-laki itu.
"Mau pergi ke mana, Mas?" tanya Dewi dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Kita mau jalan-jalan, Wi," jawab Arga.
"Sepertinya mau turun hujan. Sebaiknya jangan pergi jauh-jauh," ucap Dewi yang hanya menatap kepada Arga.
"Kita cuma mau bermain bersama di mall. Kayaknya tidak akan kehujanan, deh," tukas Arga.
"Oh, mau ke mall. Kenapa tidak naik mobil saja? Jadi, nggak takut kehujanan saat di perjalanan nanti," ujar Dewi dengan kerlingan nakal.
"Alva ingin naik motor, Mbak," kata Marsha.
Dewi memalingkan wajahnya kepada Marsha. Matanya mendelik dengan tatapan mengejek.
"Seharusnya Mbak Marsha tahu mana yang terbaik untuk anak sendiri. Jika hal itu buruk bagi Alva, maka jangan dituruti. Apa tidak kasih dia akan masuk angin atau kehujanan?" tatapan Dewi seakan mengintimidasi Marsha.
***
Dewi sudah mulai berani menunjukan sikap di depan Arga dan Marsha. Apa yang akan dilakukan oleh Marsha? Ikuti terus kisah mereka, ya.
__ADS_1