
Bab 98
Marsha dibuat pusing oleh Arga. Laki-laki itu sejak tadi terus ngintil ke mana pun dia pergi, bahkan saat pergi ke kamar mandi sekalipun.
"Mas, lepas dulu! Aku kau buatkan jus alpukat untuk Alva," ucap Marsha dengan nada kesal.
Saat ini Arga sedang memeluk tubuh Marsha dari belakang. Laki-laki itu takut kalau istrinya lupa kepadanya karena asyik melakukan pekerjaan.
"Tidak mau. Pokoknya aku tidak akan melepaskan kamu," kata Arga dengan tegas.
Sejak pulang dari kerja laki-laki itu tidak mau jauh-jauh dari sang istri. Ada perasaan takut ditinggal atau dicampakkan olehnya. Meski itu sesuatu yang mustahil jika dia tidak melakukan kesalahan besar.
"Kalau tidak mau lepas, maka tidak akan ada jatah malam ini!" ancam Marsha.
Kedua tangan Arga langsung melepaskan pelukannya. Dia mengangkat tangan dengan tampang cemberut.
"Ihhhh, kalau begini mirip banget sama Alva kalau lagi ngambek," ujar Marsha sambil tertawa kecil.
Merasa sedang diejek oleh istrinya, maka Arga melayangkan serangan ciuman bertubi-tubi pada wajah Marsha. Wanita itu tertawa terkekeh dan meminta ampun, tetapi laki-laki itu tidak mau mengakhiri perbuatannya.
"Bunda dan Ayah jangan pacaran terus. Alva mau jus alpukat!"
Arga dan Marsha terkejut lalu saling menjatuhkan diri. Terlihat ada anaknya sedang berdiri di samping mereka. Bocah itu melihat keduanya dengan tatapan polos.
"Iya, ini sedang Bunda buatkan. Ayah mengganggu terus, tuh!" ucap Marsha menyalahkan Arga.
__ADS_1
"Menunggu Bunda selesai membuat jus, kita menonton televisi, yuk!" ajak Arga sambil menggandeng tangan anak laki-laki berusia tiga tahun lebih.
"Kenapa, sih, Ayah dan Bunda suka berciuman?" tanya Alva dengan ekspresi wajah penasaran sangat lucu sekali. Ditambah terlihat jelas tatapan bola matanya yang bulat jernih itu tidak berkedip.
Arga ditanya seperti itu menjadi kikuk. Bingung menjelaskan hal itu kepada bocah kecil.
"Karena Ayah dan Bunda saling mencintai. Dengan berciuman itu sama juga dengan berbagi perasaan dengan pasangan kita," jawab Arga berbisik.
"Oh, karena Ayah dan Bunda itu suami istri jadi suka berciuman. Tapi, Om Pandu dan Tante Mariana juga suka berciuman. Mereka 'kan bukan suami istri?" tanya Alva kembali.
Ditanya seperti ini oleh Alva rasanya Arga ingin kabur saja. Seingat dia saat masih kecil dulu, nggak pernah terlintas pikiran dan rasa ingin tahu seperti ini.
"Ayah bingung menjelaskan hal ini kepadamu. Tapi, satu hal yang harus kamu ingat Alva ... kamu jangan melakukan hal yang diperbuat oleh orang dewasa. Kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri. Nanti Bunda yang akan menjelaskan semua kepadamu," jawab Arga.
Marsha yang baru datang mendengar itu menjadi kesal kepada suaminya. Jika ada hal-hal yang bikin dia malu dan bingung harus menjelaskan seperti apa, maka akan Arga lempar kepadanya. Alva juga akan terus bertanya jika masih merasa penasaran.
"Jadi cinta Bunda untuk Ayah itu berbeda dengan cinta Bunda untuk Alva?" tanya anak itu.
"Iya, Sayang. Rasa cintanya agak berbeda," jawab Marsha.
"Terus Safira bilang kalau kita sudah besar boleh pacaran," ucap Alva.
"Hah!" Marsha dan Arga tercengang mendengar ucapan anak itu.
"Tidak boleh berpacaran! Langsung nikah saja," ucap Arga.
__ADS_1
Marsha mencubit kuat perut Arga sampai laki-laki itu berteriak kencang. Wanita itu kesal kepada suaminya yang sejak tadi ucapannya tidak dijaga, meski tidak salah juga.
"Menikah itu butuh kesiapan. Jika belum siap jangan menikah dulu. Pacaran juga tidak boleh nanti malah banyak berbuat dosa," ujar Marsha dan Alva mengangguk.
"Emangnya kamu kalau sudah besar mau menikah sama Safira?" tanya Arga dan lagi-lagi Marsha melotot kepada suaminya.
"Safira bilang jika sudah besar kita akan menikah seperti Ayah dan Bunda, tapi tidak mau seperti papa Rama. Dia 'kan tidak punya istri," jawab Alva.
'Astaghfirullahal'adzim. Ya Allah, kenapa anakku jadi seperti ini?' batin Marsha menjerit.
Arga hanya menyeringai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sekarang dia sering dibuat pusing sama pertanyaan-pertanyaan dari Alva.
"Ini sudah malam, waktunya tidur. Kamu masih kecil jangan pikirkan pernikahan. Bunda juga memikirkan pernikahan setelah berusia 25 tahun, Ayah juga sudah berkepala tiga belum memikirkan pernikahan. Kamu masih kecil, tunggu 20 sampai 25 tahun lagi, baru pikirkan pernikahan," tukas Marsha yang juga ikut menyerah akan rasa ingin tahu anaknya.
***
"Alva dan Safira punya pikiran seperti itu dari mana, ya?" tanya Arga.
"Dari lingkungan sekitar dia 'lah. Emang dari mana lagi," jawab Marsha.
Alva menjadi saksi akan perpisahan Arga dan Marsha. Dia juga menjadi saksi beratnya perjuangan mereka untuk bisa bersatu kembali. Bahkan bocah kecil itu sering mendengar curhatan isi hati ibu dan ayahnya.
"Lalu, apa yang menyebabkan Safira tidak punya ibu?" tanya Arga penasaran.
***
__ADS_1
Si Alva sudah dewasa sebelum waktunya. Apakah Alva berjodoh dengan Safira saat dewasa nanti? Jawabannya masih lama di Season 2, Insha Allah. Ikuti terus kisah mereka, ya!