Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 108. Alva Ngambek


__ADS_3

Bab 108


Dewi memilih bermain bersama Alva dan Safira. Dia terlalu malu untuk ikut bergabung bersama yang lainnya. Namun, sesekali dia melihat ke arah Dokter Rama yang tadi di bilang sudah duda oleh Marsha.


"Tante Dewi, ini gimana cara mainnya?" tanya Safira sambil memegang mainan berbentuk bola.


"Oh, ini memainkannya dilempar, nanti akan berubah bentuk. Seperti ini ...." Dewi melemparkan bola itu ke lantai lalu berubah menjadi robot.


Safira tertawa melihat itu. Alva mengambil mainan perahu yang dia beli di pasar malam tahun lalu bersama opa dan oma-nya. Dia mengajak Dewi untuk memainkan perahu itu di dalam baskom.


Marsha senang melihat Safira mau berbaur dengan Dewi. Wanita itu juga bisa bersabar menangani kedua bocah aktif itu. 


"Dokter Rama, punya rencana ingin memiliki pasangan lagi, nggak?" tanya Eyang Sari menggoda dokter berwajah oriental itu.


Orang yang ditanya secara tiba-tiba seperti itu membuatnya gelagapan. Selama Dokter Rama menjadi duda, baru merasakan tertarik kembali kepada lawan jenis itu sama Marsha. Kepribadian yang lemah lembut dan bertutur kata baik, langsung membuatnya jatuh hati. Ditambah wajahnya yang cantik berseri dan tatapan matanya yang selalu terasa menjerat dirinya.


"Aduh, Eyang. Jangan bicara seperti itu, nanti Pak Dokter tidak nyaman. Itu privasi," balas Barata dan Eyang Sari hanya mendelikkan matanya kesal.


Marsha dan Arga mencari keberadaan anak-anak. Ternyata mereka sedang berada di halaman belakang. Alva dan Safira sedang memainkan perahu mainan yang memakai sumbu dan api untuk menggerakkan mainan itu. Dahulu, Bagas membelikan dua perahu jadi bisa dibuat untuk balapan oleh sang cucu. Sekarang kedua perahu itu dimainkan oleh Alva dan Safira. Kedua bocah itu berteriak menyemangati perahu miliknya masing-masing.


"Heboh bener," ucap Arga sambil mencium pipi Alva.


Kedua perahu itu dimainkan di kolam memanjang berukuran 1 meter x 3 meter. Kolam kecil yang biasanya dipakai untuk mengembangkan anak ikan sampai ukuran tertentu sebelum dipindahkan ke kolam ikan yang berukuran besar. Perahu Alva ke susul oleh perahu milik Safira.

__ADS_1


"Ayah jangan ganggu, nanti perahunya tenggelam," ucap Alva memprotes perbuatan Arga. Gara-gara ayahnya perahu dia tersusul.


Marsha tertawa terkekeh sambil menarik tangan suaminya agar jangan mengganggu anak-anak. Mereka memilih duduk tidak jauh dari sana.


Terlihat Dokter Rama pun mendekati Safira. Laki-laki itu juga ikut bermain bersama. Mereka menjadi dua tim. Alva bersama Dokter Rama dan Safira berpasangan dengan Dewi. Sekarang malah menjadi empat orang yang heboh meneriaki kapal mainan itu. 


***


Kedua orang tua Marsha datang saat makan malam. Mereka sengaja diundang oleh Ayu. Agar Marsha tidak perlu ke rumah orang tuanya. Pastinya masih capai, tetapi besok mereka harus kembali lagi ke ibu kota.


Alva dengan bangga mengatakan memiliki dua nenek dan dua kakek yang penyayang. Sementara Safira hanya memiliki seorang nenek. Tentu saja ini membuat anak kecil itu bersedih.


"Mulai sekarang oma dan opa juga adalah kakek dan neneknya Safira. Jadi, kamu juga mempunyai dua nenek dan satu kakek," ucap Ayu sambil membelai kepala gadis kecil yang terlibat akan menangis.


"Beneran Oma? Mulai sekarang Oma adalah Oma Fira?" tanya Safira dengan tatapan tidak percaya.


"Iya. Mulai sekarang Oma adalah Oma-nya Fira juga," jawab Ayu.


"Yey! Asyik, aku juga sekarang punya Oma dan Opa." Safira mengangkat kedua tangannya senang. 


Dokter Rama ikut tersenyum bahagia. Sangat jarang sekali dia melihat anaknya gembira seperti ini. Sejak mereka datang ke rumah ini perasaan senang terus meliputi dirinya dan Safira. Padahal dia tadi sempat berpikir kalau kedatangan mereka ke sini akan mengganggu keluarga Arga.


Alva yang ngambek langsung pergi dan duduk di pangkuan Indah. Dia yakin kalau neneknya ini tidak akan bisa diambil oleh Safira.

__ADS_1


Ternyata salah dugaan Alva. Nenek dan kakeknya juga senang kepada Safira. Lagi-lagi perhatian keduanya berhasil direbut oleh Safira. Indah dan Bagus mengizinkan anak kecil itu memanggilnya dengan nenek dan kakek seperti Alva memanggil mereka.


"Sekarang Nenek dan Kakek adalah Nenek dan Kakek aku juga, ya?" Safira ikut duduk di samping Bagus.


"Iya, Sayang," balas Indah dan Bagus.


Alva ngambek sama semua orang. Lalu, dia pun pergi ke kamar. Marsha dan Arga pun izin pamit untuk melihat Alva.


Mereka menertawakan kemarahan Alva yang terlihat lucu di mata mereka. Safira pun senang karena sekarang punya keluarga yang banyak. Dia ingin seperti Alva, banyak disayangi oleh semua orang. Selama ini dia merasa sendirian. Punya Nenek juga berbeda dengan nenek dan oma-nya Alva.


"Fira, kamu tidak boleh seperti itu. Nanti minta maaf sama Alva, ya!" titah Dokter Rama yang merasa tidak enak hati kepada Alva.


Kini wajah Safira berubah cemberut. Lalu, Dewi pun mengajak tidur bersama dengannya. 


"Tenang saja, Pak Dokter. Saya akan menjaga Safira dengan baik. Alva juga tidak akan marah kepada saya ataupun kepada Safira," ucap Dewi lalu menggendong bocah kecil itu masuk ke dalam kamar tidurnya.


Dokter Rama merasa tidak enak hati sekarang. Safira memang kurang kasih sayang, jadi saat ada orang yang tulus menyayanginya, maka dia pun senang dan kadang bersikap egois.


"Pak ... Bu, Om ... Tante, aku minta maaf atas sikap Safira barusan," kata Dokter Rama.


***


Apakah Alva akan marah terus sama Safira? Bagaimana keseruan honeymoon Marsha dan Arga? ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1



__ADS_2