
Bab 76
Ayu senang melihat Sari sudah sadar. Terlihat wanita tua itu masih lemah. Tatapan matanya juga sayu dan tidak bersinar seperti biasanya.
"Eyang minum dulu, biar tubuhnya menjadi lebih segar!" titah Ayu sambil meletakan sedotan ke mulut Sari.
Dewi mengusap-usap lengan Sari sambil menangis lirih. Keduanya saling menatap lalu tersenyum.
"Eyang jangan terlalu emosi, jadinya tekanan darah langsung naik," kata Dewi dengan lembut.
"Bagaimana tidak emosi mendengar dan melihat kelakuan cucu eyang yang paling disayang," balas Sari dengan nada kesal meski pelan.
Ayu hanya diam tidak mau membuat emosi mertuanya kembali memuncak. Dia pun memilih ke luar dari kamar itu dan menyiapkan makan siang untuk suaminya. Barata paling suka makanan yang dimasak oleh istrinya.
"Wi, kamu ini harus lebih bekerja keras goda Arga agar mau sama kamu. Masa kalah dengan wanita itu," ucap Sari.
"Eyang, aku juga sudah sering kirim pesan dan menghubungi Mas Arga. Tapi, dia terkesan cuek sama aku. Bahkan kemarin sore dia ngomongin aku jangan terus mengirim pesan dan menelponnya. Saat aku bilang kenapa Mas Arga berubah, dia jawab kalau tidak mau ada kesalahpahaman diantara kita berdua. Mas Arga ingin menjaga jarak dengan aku, Eyang," jelas Dewi dengan terisak.
"Apa? Arga ngomong begitu!" pekik Sari dan Dewi mengangguk.
Wanita tua itu terlihat geram akan tindakan cucunya. Dia yakin kalau Arga berubah menjadi seperti ini gara-gara Marsha. Sejak kecil Arga itu penurut dan sayang kepadanya. Tidak pernah membantah apalagi sampai melawannya.
"Ternyata wanita murahan itu membawa banyak pengaruh buruk kepada Arga!" Terlihat pancaran amarah dari mata Sari.
"Jadi, aku harus bagaimana, Eyang?" tanya Dewi.
"Kamu tenang saja. Apa pun yang terjadi, Arga tidak boleh menikah lagi dengan Marsha," jawab Sari dan tentunya ini membuat Dewi bahagia.
Senyum manis kini menghiasi wajah Dewi. Gadis itu pun memeluk tubuh Sari dengan penuh rasa sayang.
"Semoga saja Mas Arga dan aku berjodoh," ucap Dewi dan Sari tersenyum sambil mengangguk.
***
Bagas mendengus kesal karena Arga menagih ucapannya tadi. Sebagai seorang laki-laki sejati pantang mengingkari omongannya.
__ADS_1
"Terserah Marsha. Semua keputusan ada padanya karena dia yang akan menjalani itu semua dengan kamu. Hanya saja jika sampai jatuh talak kedua apalagi ketiga, maka sudah tidak akan pernah ada lagi kesempatan dirimu!" kata Bagas memberi ancaman.
"Tentu saja , Ayah. Aku tidak mau kehilangan Marsha kembali. Aku tidak mau menjadi laki-laki bodoh dengan melepaskan seorang bidadari dengan yang lainnya," tukas Arga dengan senyum lebar masih saja terlihat di wajahnya yang semakin tampan.
"Awas saja kalau kamu berani menyakiti lagi anakku! Akan aku pastikan kamu jadi laki-laki yang impoten," balas Bagas dengan serius.
Arga menelan ludahnya dengan perasaan takut. Tidak lupa kedua tangan dia yang spontan tiba-tiba menutupi adik kecilnya.
'Aduh gawat jika adikku mati suri! Serem sekali ayah mertuaku ini,' batin Arga.
Keduanya pun memutuskan pulang ke rumah Bagas. Tentu saja Arga ingin segera bertemu dengan Marsha dan Alva. Dia akan memberi tahu kabar gembira ini. Mereka akhirnya akan segera menikah dan menjadi halal kembali.
***
Marsha memutuskan berendam air hangat. Dia ingin merilekskan tubuh dan pikirannya. Kejadian kemarin masih saja meninggalkan rasa trauma. Senyumnya terukir saat kembali mengingat ucapan Arga sebelum mereka berpisah. Wanita itu tidak menyangka kalau cintanya kali ini bisa memberikan rasa bahagia. Jika dahulu rasa cintanya sering memberikan rasa sakit dan luka. Kini semua itu sudah berakhir, tentunya dia juga berharap tidak akan ada lagi tangisan kesedihan karena laki-laki itu.
'Ternyata sangat menyenangkan ketika cinta kita berbalas,' batin Marsha.
Alva terbangun saat Marsha selesai mandi. Keduanya pun bermain bersama Indah di teras depan rumah.
"Semoga pelaku secepatnya ditangkap, ya!" kata Indah dengan penuh harapan.
Mereka sama-sama menunggu kabar dari Bagas atau Arga. Apakah pelaku sudah berhasil di tangkap atau belum.
Terlihat mobil berwarna putih masuk ke pekarangan rumah Bagas. Marsha dan Indah menyambut kedatangan mereka. Alva kembali heboh saat melihat ada Arga di mobil. Bocah itu berlari ingin bermain dengan ayahnya.
"Ayah ... Ayah, ayo, kita main lagi!" panggil Alva yang berlari sambil membawa dua buah mobil mainan yang dahulu diberikan oleh Arga.
Tadinya Arga akan langsung pulang ke rumah untuk memberi tahu kedua orang tuannya akan keinginan dia mempercepat pernikahannya dengan Marsha meski secara agama dahulu. Karena pernikahan mereka sudah di daftarkan untuk beberapa bulan yang akan datang.
"Ayah mau pulang ke rumah opa dulu, ya. Nanti ke sini lagi bersama opa dan oma," ucap Arga sambil menggendong bocah itu.
Alva memanyunkan bibirnya mengerucut kecil mirip Marsha kalau lagi merajuk. Laki-laki dewasa itu hanya menciumi pucuk kepala anaknya.
"Marsha, nanti aku ke sini lagi bersamaan ayah dan ibu. Sesuai janji aku kepadamu tadi, kalau mulai sekarang aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu," ucap Arga dengan lembut.
__ADS_1
Aliran darah di sekujur tubuh Marsha berdesir halus. Ribuan kupu-kupu terasa beterbangan di dalam perutnya. Air mata kebahagiaan kini berkumpul di pelupuk netranya. Senyum kebahagiaan pun terlukis wajah cantik sang wanita.
"Akan aku tunggu kedatangan Kakak dengan Ayah dan Ibu," balas Marsha.
"Bunda," panggil Alva yang melihat Marsha meneteskan air mata.
Wanita itu pun menggendong putranya dan menciumi pipi gembulnya. Dia ingin membagi rasa bahagianya dengan sang anak.
***
Arga segera mencari keberadaan kedua orang tuanya. Lalu, dia membicarakan apa yang sudah direncanakan olehnya tadi.
"Ibu dukung kamu, Arga!" kata Ayu dengan semangat.
"Ayah akan mendukung apa pun yang terbaik untuk kamu," lanjut Barata.
Mereka bicara di teras balkon lantai dua. Ketiga tahu kalau Sari pasti tidak akan setuju dengan pernikahan kedua kali dengan Marsha. Makanya, Arga tidak akan memberi tahu hal ini kepadanya. Biar eyangnya tahu setelah mereka sudah sah menjadi suami istri.
Dewi yang sempat mengikuti Arga begitu masuk ke rumah, sangat terkejut mendengar rencana ini. Dadanya terasa sesak dan sakit. Dia mengalami patah hati untuk kesekian kalinya.
'Aku harus bisa menggagalkan pernikahan mereka. Tapi, bagaimana caranya?' batin Dewi.
***
Setelah sholat Zuhur, Marsha dikejutkan dengan kehadiran Arga dan kedua orang tuanya yang membawa sebuah kotak perhiasan. Dia mengira mereka akan datang malam hari.
Arga mengutarakan keinginannya untuk meminang Marsha hari itu juga. Dia tidak mau menunda terlalu lama lagi.
"Bagaimana Marsha? Apa kamu mau menerima pinangan dari Arga?" tanya Bagas.
Walau sudah tahu akan jawaban putrinya, Bagas tetap bertanya dan ingin ketegasan dari Marsha sendiri.
"Bismillah, aku terima pinangan dari Kak Arga, Yah," jawab Masha.
"Tidak. Aku menentang pinangan ini!" teriak seorang di depan pintu masuk rumah Bagas.
__ADS_1
***
Kalian pasti sudah bisa menebak siapa yang tiba-tiba datang itu? Apakah pernikahan Arga dan Marsha akan berjalan lancar? Ikuti terus kisah mereka, ya!