Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 82. Gagalnya Malam Pertama


__ADS_3

Bab 83


Suara Adzan mulai terdengar, Arga dan Marsha terkejut karena mereka tertidur pulas setelah menidurkan Alva kembali. Keduanya bergegas mengambil air wudhu, Arga segera pergi ke masjid sedangkan Marsha ke mushola yang ada di dekat ruang keluarga. Seperti biasa Alva juga ikut bangun dan selalu ikut sibuk ingin pakai baju koko dan sarung seperti Bagas.


Pagi hari dengan status baru sebagai istri Arga, Marsha ingin membuatkan menu sarapan spesial. Dia tahu suaminya suka olahan dari daging ayam. Maka wanita itu hendak membuat ayam asam manis. Sementara untuk Alva dibuatkan ayam goreng.


Arga dan Alva pergi jalan-jalan bersama Bagas ke perkebunan sayuran. Udara di sana sangat segar ditambah cahaya mentari akan terasa langsung tanpa ada penghalang karena tumbuhan di sana rata-rata pendek.


"Ayah akan sangat senang jika kamu mengelola semua perkebunan ini. Hasilnya lumayan lebih besar dibandingkan dengan gaji kamu kerja di kota," ucap Bagas sambil memasukan daun singkong ke keranjang. Dia ingin makan lalapan dan sambal untuk tambahan menu makan siang nanti.


"Ayah—Barata—juga ingin aku mengelola semua hasil ladang dan koperasi petani. Tapi, aku belum sanggup. Ilmu aku belum kesampaian untuk mengelola semuanya," balas Arga sambil memetik kacang panjang dibantu sama Alva. 


Arga tersenyum melihat Alva yang semangat memetik kacang panjang yang bisa terjangkau oleh tangannya. Para buruh petani mulai berdatangan. Mereka menyapa ketiga orang itu. 


"Sepertinya kita harus segera pulang!" ajak Bagas sambil membawa sekeranjang sayuran.


Sepanjang jalan Arga memikirkan ucapan ayah mertuanya. Dia juga dulu sempat berpikir seperti itu. Tinggal di kampung bersama keluarganya. Namun, dia tidak bisa dengan mudah keluar dari perusahaan milik keluarga Pandu. Ada teken kontrak kerja sama dengan perusahaan lain yang menjadi tanggung jawabnya saat ini. Keluarga Pandu sudah begitu baik dan mempercayakan perusahaan mereka kepadanya meski dibawah pengawasan temannya.


'Nanti aku bicarakan sama Marsha baiknya bagaimana. Dia wanita cerdas dan bisa diajak bertukar pikiran,' batin Arga.


Meski Arga tinggal di kampung saat ini, tetap saja pekerjaan dia dikerjakan. Makanya laptop dan handphone tidak lepas darinya selagi jam kerja.


Arga makan sangat banyak, entah berapa kali dia tambah nasi dan lauknya. Rasa masakan sang istri memang cocok di lidahnya. Begitu juga dengan Alva yang sangat lahap makan ayam goreng kesukaannya. 


"Pantas saja Alva cepat tumbuh besar, makannya juga banyak," ucap Arga sambil tertawa kecil.


"Masakan Bunda enak!" serunya sambil mengacungkan jempol, semua orang pun tertawa.

__ADS_1


***


Selesai mandi, Arga pun meminta pendapat Marsha tentang pilihan pekerjaannya. Dia merasa pekerjaan di kampung akan membuatnya banyak waktu bersama keluarga. Apalagi jika melihat Marsha dan Alva begitu kerasan tinggal di sini.


"Aku akan ikut ke mana pun Mas pergi dan tinggal. Jika harus bertanggung jawab kepada pekerjaan, maka selesaikan dulu pekerjaan dari perusahaan sampai selesai kerja sama itu. Baru kita kembali ke sini dan mengelola perkebunan dan peternakan sesuai keinginan ayah. Bagaimana?" Marsha menatap Arga dengan lembut. Dia tidak mau jadi istri yang egois. Biar Arga bertanggung jawab atas pekerjaannya juga.


Mendengar ucapan sang istri barusan membuat Arga senang. Benar kata orang tua dahulu, jika ada suatu masalah dalam kehidupan rumah tangga, sebaiknya dibicarakan berdua dengan pasangan dan cari titik temunya.


"Alhamdulillah. Terima kasih, Sayang. Saat membatu aku memikirkan masalah ini. Mungkin kerja sama itu sekitar tiga tahunan lagi, jika sesuai kesepakatan awal. Namun, jika kerja sama ini memberikan banyak keuntungan untuk kedua belah pihak, biasanya akan diperbarui kembali kontrak kerja samanya," tutur Arga sambil menggenggam tangan sang istri.


"Kalau diperpanjang lagi, lemparkan saja tanggung jawab itu kepada orang lain," tukas Marsha sambil menyeringai dan Arga pun gemas sehingga memberikan ciuman di pipi wanita itu.


***


Malam kedua sebagai pasangan pengantin baru, lagi-lagi Arga dan Marsha gagal melakukan malam pertama. Hal ini karena Alva yang sudah diungsikan ke kamar sebelah tiba-tiba bangun dan menggedor-gedor pintu kamar orang tuanya. Padahal kedua sejoli itu baru saja melakukan pemanasan dan akhirnya harus menahan gairah yang mulai menguasai tubuh mereka. Ditambah Bagas dan Indah yang ikut terbangun karena mendengar suara teriakan sang cucu. Ini membuat Arga dan Marsha malu setengah mati.


"Tidak mau. Alva ingin tidur sama Ayah dan Bunda," ucap Alva menolak ajakan neneknya.


"Tidak apa-apa, Bu. Biar Alva tidur bersama kami," kata Arga sambil menggendong sang anak.


Bagas hanya menahan tawa. Dia bisa melihat betapa menderitanya sang menantu saat ini. 


***


Arga membawa istri dan anaknya ke ibu kota setelah sarapan. Sari meminta tiap akhir pekan mereka pulang karena dia ingin bertemu dengan Alva. Sebenarnya wanita tua itu meminta Barata agar mengurus Alva selama Arga dan Marsha pergi. Untungnya bocah itu tidak mau jauh dari sang ibu. Jadi, tanpa Marsha bicara apa pun mereka tidak bisa memaksa.


"Kalian baik-baik di sana, ya? Jangan lupa hubungi eyang," ucap Sari sambil memeluk Arga lalu Marsha.

__ADS_1


"Insha Allah, Eyang. Kita akan kabari keluarga di sini jika ada waktu luang," kata Arga.


"Kamu itu, ya! Eyang juga ingin sering bicara dengan Alva." Sari mencubit gemas cucunya dan Arga hanya tertawa terkekeh.


Sementara itu, Alva masih anteng-anteng saja di gendongan Marsha. Selagi sang ibu ada di dekatnya, dia akan jadi anak yang baik dan penurut, tidak rewel.


Sikap Sari sudah kembali seperti biasa kepada Marsha, berbeda dengan Dewi yang sering menghindar jika mereka bertemu. Gadis itu masih menata hatinya yang sudah hancur. Selian itu dia juga merasa malu karena sering di nasehati oleh Barata dan Ayu. Arga juga sudah mengingatkan dirinya jangan sampai membuat masalah lagi. Jika itu terjadi, maka dia akan dikirim kembali ke Surabaya.


Ayu dan Barata berharap anak dan menantunya selalu menghubungi mereka tiap hari. Pasti nanti mereka akan merasa rindu kepada sang cucu yang sering cerewet tanya ini itu.


"Kami hanya bisa mendoakan kebaikan untuk kalian," kata Ayu sambil memeluk Arga.


"Doa dari Ibu sangat berarti dan sangat kami harapkan. Dengan begitu kehidupan rumah tangga kami akan baik dan bahagia. Aku juga yakin jika ada masalah apa pun kami pasti akan bisa menyelesaikan dengan baik," ujar Arga lalu mencium tangan ibunya.


***


Selama perjalanan ke ibu kota ketiga orang itu saling bercanda atau bersenda gurau. Apalagi Alva yang banyak bertanya apa saja yang dia lihat sepanjang perjalanan.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai." Arga memarkirkan mobil milik Marsha di samping mobil milik Arga. Sementara motornya yang dahulu di pakai untuk pulang kampung akan dikirim lewat jasa ekspedisi.


"Arga!" teriak seorang saat keluarga kecil itu berjalan menuju lift.


Seakan dejavu, Marsha pun membalikan badannya untuk melihat siapa yang sudah memanggil nama suaminya. Mata sang wanita membulat seakan terkejut melihat orang itu.


***


Kira-kira siapa yang memanggil Arga? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1


__ADS_2