
Bab 139
Sambil menggendong Alfi, Alva membaca pesan dari Alvin. Menurut warga sekitar kalau Mutiara dan keluarganya sekarang menjadi tertutup. Biasanya mereka suka ikut acara kumpul-kumpul bersama warga, sekarang tidak. Bahkan kegiatan pengajian mingguan dan bulanan juga mereka tidak pernah hadir. Karena merasa ada yang aneh dengan Mutiara dan keluarganya, beberapa orang tetangga menjenguk ke rumah mereka. Namun, mereka mengatakan kalau keluarga itu sedang sakit dan penyakitnya takut menular, jadi melarang untuk dijenguk.
"Ini terlalu dibuat-buat ceritanya. Kalau terkena penyakit menular seharusnya direhabilitasi dalam pengawasan tim medis, bukan mengurung diri di rumah," gumam Alva.
"Pa-pa-pa-pa." Alfi menepuk-nepuk dada Alva.
"Ada apa?" tanya Alva kini perhatiannya kepada bayi itu.
Ternyata susu di dot sudah habis. Lalu, Alva mengambil dan menyimpannya. Agar Alfi segera tidur, maka pemuda itu membaca sholawat sambil menepuk-nepuk pan*tat bayi itu.
Ternyata yang tidur bukan hanya Alfi, tetapi Safira yang sejak tadi duduk di sofa sambil mengerjakan tugas, ikut tertidur. Gadis itu tidur dalam keadaan duduk.
Setelah menidurkan Alfi di kamar yang dahulu di tempati oleh Arshy, Alva mengambil bantal untuk Safira. Muka gadis itu terlihat terlihat kelelahan. Ada rasa kasihan kepadanya, karena sering ikut begadang untuk mencari informasi tentang data orang yang hilang.
__ADS_1
Alva sudah bisa berkomunikasi dengan Sarah, perempuan yang pernah menghubungi keluarganya. Saat ini dia masih berada di dalam rumah megah itu. Ponselnya sering di nonaktifkan dan pulsa atau kuota diisi oleh keluarganya karena dengan itu mereka bisa komunikasi meski saminggu sekali atau dua kali, tergantung Sarah punya kesempatan.
Bunyi pesan masuk dari nomor Sarah. Segera saja Alva membukanya karena nomor itu sedang aktif.
Di rumah ada ada beberapa orang penjaga. Jadi, akan sulit untuk masuk. Orang yang menyekap kami punya kuasa dan bisa berbuat apa pun semau mereka.
Seminggu yang lalu Alva mengirim pesan kepada Sarah setelah mendapatkan nomornya dari orang tuanya dengan bantuan Alvin. Dia mengatakan akan berusaha menolong mereka yang disekap di rumah itu. Tentu saja Sarah merasa sangat bahagia dan berharap bisa keluar dari sana secepatnya. Karena orang tua dia tidak bisa memberikan pertolongan untuk dirinya dan orang-orang yang sedang di sekap.
Bisakah kamu ambil foto orang-orang yang ada di sana. Atau orang yang dianggap mempunyai pengaruh atau kuasa di sana?
Alva berharap pesan ini segera di balas malam ini juga agar dia dan yang lainnya bisa terus bergerak untuk melakukan penyelidikan.
Jika kamu ingin tahu siapa saja orang yang berkuasa dan mempunyai pengaruh di sini, maka datang ke rumah ini tiap tengah malam. Orang itu memakai mobil hitam yang mempunyai plat nomor XX.1234.AS
Alva langsung save pesan itu, lalu mengirimkan itu kepada Alvin, beberapa polisi kenalan Om Zamzam. Agar mereka bisa menyelidiki siapa pemilik kendaraan itu.
__ADS_1
Saat Alva mengirim pesan balasan, nomor Sarah sudah tidak aktif lagi. Berarti dia dalam keadaan tidak baik atau dalam pengawasan.
"Hah, lagi-lagi harus menunggu dalam waktu yang tidak pasti," gumam Alva.
Rasanya dia ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah ini. Mutiara tetap tutup mulut bahkan saat ditanya ada masalah gadis itu selalu menyangkalnya. Tentang pesan email juga dia membantah tidak ada pesan melalui email dari Intan.
***
Alfarizi kini yang mengawasi rumah Leonard. Dia mengirim kan sebuah foto mobil berwarna hitam dengan nomor sama dengan yang dikirimkan oleh Alva barusan.
"Apakah dia bos besar yang dimaksud oleh Alva?" gumam Alfarizi sambil mengawasi lewat teropong miliknya.
Posisi Alfarizi di atas pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Dia juga memakai pakaian yang serba hitam untuk menyamarkan keberadaanannya. Ada pesan masuk dari Alva.
Aku akan ke sana. Kamu hati-hati jangan sampai tertangkap.
__ADS_1
***
Apakah Alva dan teman-temannya bisa membongkar sindikat perdagangan manusia? Ikuti terus kisah mereka, ya!