Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 62. Dewi Cemburu


__ADS_3

Bab 62


"Jangan duduk di depan! Itu tempat Marsha," ucap Arga melarang Dewi duduk di kursi samping pengemudi.


Meski hatinya merasa dongkol, Dewi pun turun dan berpindah ke kursi belakang. Sebenarnya dia sangat berharap bisa duduk di samping Arga. Dengan begitu dia bisa melihat wajah tampan laki-laki itu sepuasnya.


Kendaraan berwarna hitam itu pun memasuki halaman rumah Bagas. Teriakan Alva membuat Arga langsung membuka kaca jendela mobil.


"Alva, sedang apa di sana?" tanya Arga sambil memarkirkan mobilnya.


"Nunggu Ayah datang," jawab Alva dengan bahasa bayi yang masih cadel.


Arga bergegas ke luar dari mobil. Dia tidak memedulikan Dewi yang masih duduk di kursi penumpang. Laki-laki itu berlari kecil menuju anaknya kemudian mencium pucuk kepala Alva.


"Bunda mana?" tanya Arga setelah mencium tangan Indah.


"Di dalam sama opa dan kakek," jawab Alva dengan mulut membulat.


Bocah kecil itu sedang konsentrasi mengeluarkan permen susu sapi dari cangkangnya. Setelah berhasil dikeluarkan, makanan manis itu diberikan kepada Arga.


"Enak. Tapi, jangan makan banyak-banyak, ya!" ucap Arga mengingatkan putranya.


"Oke," balas Alva sambil mengacungkan jari jempolnya yang mungil.


Dewi berjalan dengan lemas ke arah Arga yang sedang berbicara dengan mantan ibu mertuanya dan juga anaknya. Salah, karena di mata Dewi Alva itu adalah keponakan Arga, bukan anak Arga.


"Kita jemput bunda di dalam, yuk!" ajak Arga kepada Alva.

__ADS_1


Bocah berusia dua setengah tahun itu dengan semangat menuntun Arga. Alva berjalan dengan cepat menyeret pria dewasa, sehingga kewalahan.


Begitu Arga masuk ke dalam ruang depan, dia melihat ayah, mantan mertua, dan calon istrinya sedang berbicara. Terasa kalau suasana di sana itu mencekam dan sangat canggung.


"Bunda. Ayo, kita pergi jalan-jalan!" teriak Alva membuyarkan tekanan di antara ketiga orang itu.


Marsha tidak tega membatalkan acara jalan-jalan ini, ketika melihat Alva yang begitu bersemangat. Perasaan yang sempat kacau pun kini mulai terasa agak membaik setelah melihat Alva dan Arga.


'Aku yakin pasti Allah punya sesuatu dengan memberikan takdir aku yang seperti ini. Aku harus lebih ikhlas dengan takdir yang sudah menimpa diriku dari dulu sampai sekarang. Begitu juga dengan takdir di masa yang akan datang dan aku tidak tahu sama sekali seperti apa,' batin Marsha.


'Semoga saja, mereka berdua adalah takdir terbaik aku sekarang dan di masa yang akan datang,' lanjut Marsha sambil tersenyum kepada Alva dan Arga.


"Apa ayah dan ayah Barata mau ikut juga?" tanya Marsha kepada dua orang laki-laki paruh baya.


"Maaf, ayah tidak bisa ikut. Nanti Eyang ngomel-ngomel karena hanya dirinya yang tidak diajak," jawab Barata.


Dalam hati Arga berharap kalau tidak ada yang mau ikut mereka. Biar dia bisa jalan bermesraan layaknya anak remaja yang sedang merajut perasaan manis dan hangat.


Keinginan Arga tidak terkabulkan. Dia lupa dengan keberadaan Dewi yang ikut jalan-jalan juga bersama mereka.


Keluarga Marsha ikut semua ditambah Dewi, jadi total ada delapan orang. Wajah cerah ceria Marsha mendadak cemberut karena ada wanita yang kehadirannya tidak dia harapkan.


Marsha duduk di depan bersama Alva yang berada dipangkuan. Lalu, kursi penumpang di tengah diisi oleh Bagas dan Indah. Jadi, Dewi duduk di kursi penumpang paling belakang.


Hati Dewi merasa sangat panas melihat kedekatan Arga dengan Marsha. Mereka berdua terlihat mesra sekali layaknya pasangan suami istri. Padahal mereka hanya menanggapi ocehan Alva dan tertawa bersama.


***

__ADS_1


Kini mereka semua sudah sampai ke tempat wisata "NEGERI IMPIAN". Spot yang pertama mereka datangi adalah kebun bunga. Banyak sekali jenis-jenis bunga di sana, membuat udara terasa sejuk dan juga wangi. Masuk lebih ke dalam area akan ada beberapa kursi, bangku, atau ayunan dan prosotan. Di tempat ini banyak sekali orang-orang berswafoto, karena pemandangannya bagus sekali. Marsha, Alva, dan Arga banyak sekali mengambil foto bersama. Tentu saja dengan ekspresi gembira. 


Berbeda dengan Dewi yang harus banyak menahan diri. Cemburu ketika melihat Marsha dan Arga tertawa bersama. Apalagi laki-laki itu beberapa kali terlihat mengabadikan beberapa momen ibu dan anak yang terlihat bahagia. Maka, wanita itu pun melakukan hal yang sama, mencuri secara diam-diam ketika Arga sedang lengah. Banyak gambar yang bisa dia dapatkan sambil berpura-pura memotret pemandangan di sana, padahal dia sedang mengambil gambar sang pujaan hati.


"Sayang, sini! Kita berfoto bersama." Arga yang menggendong Alva, menarik tangan Marsha agar duduk di bangku yang sudah dihiasi oleh pohon bunga mawar yang merambat.


"Dewi, tolong fotokan kami!" perintah Arga yang sedang duduk bertiga layaknya sebuah keluarga harmonis.


'Dasar wanita tidak tahu malu! Dekat-dekat dengan mantan suami. Mau menggodanya lagi, ya!' batin Dewi merutuk.


Marsha yang tahu sejak tadi Dewi terus memperhatikan Arga, merasa cemburu. Lalu, dia pun balik melakukan banyak hal membuat perempuan itu memperlihatkan ekspresi wajah kesal.


"Wah, pasangan suami istri yang tampan dan cantik, ya!" 


Datang segerombolan wanita di dekat Dewi. Mereka memuji-muji Arga dan Marsha sebagai pasangan ideal. Dia tidak terima, karena saat ini dia sedang berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan Arga agar menjadi miliknya.


"Kak, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan. Ini sangat penting, tapi kita tidak punya waktu, karena Kak Arga harus kembali ke ibu kota nanti sore," bisik Marsha masih duduk manis di "Bangku Cinta" bersama Arga dan Alva.


"Apakah sangat penting sekali?" tanya Arga.


"Iya," jawab Marsha.


***


Hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh Marsha? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_1


__ADS_2