
Bab 49
"Marsha bawa tidur Alva di kamar ini bersama Arga," ucap salah seorang kerabat Arga.
Betapa terkejutnya Marsha saat tahu akan tidur bersama Arga di satu kamar. Bagaimanapun juga mereka sekarang sudah bukan pasangan suami istri lagi. Bagaimana mungkin tidur di satu tempat yang sama. Namun, entah kenapa dia malah masuk dan membaringkan Alva di ranjang sana.
Karena kelelahan Marsha langsung ikut berbaring dan tidur di kamar itu. Arga tidak tahu kalau mantan istrinya tidur di kamar itu. Dia baru pulang dari masjid dan langsung masuk begitu saja. Lalu dia membuka baju koko dengan kaos biasa.
"Aaaaa! Apa yang Kakak lakukan?" teriak Marsha begitu membuka mata karena menyadari akan kehadiran seseorang.
Arga juga tidak kalah terkejutnya begitu mendengar suara teriakan Marsha. Tentu saja dia juga merasa malu, tetapi entah kenapa ada rasa senang sampai lupa kalau saat ini hanya sedang memakai boxer saja.
"Tutup matamu, Marsha. Jangan sampai mengintip. Nanti bisa-bisa bintitan, loh, matanya," ucap Arga menggoda janda muda itu.
"Aku tidak mengintip. Kakak … cepat pakai bajunya!" balas Marsha dengan muka yang merah padam.
Senyum jahil terlukis di wajah Arga saat ini. Laki-laki itu bukannya segera memakai pakaiannya, dia malah mengambil handphone lalu memotret Marsha yang menutup matanya dengan menggunakan dua jari.
"Sudah belum, Kak?" tanya Marsha yang saat ini duduk di atas ranjang.
"Menurut kamu?" balas Arga malah senang menggoda Marsha.
Wanita itu menurunkan kedua jari dari kedua tangannya, lalu membuka matanya sebelah dengan perlahan. Dia kembali berteriak saat melihat Arga belum juga memakai bajunya. Marsha mengambil bantal lalu memukulkan kepada Arga. Tindakan yang bodoh karena tenaga dia jauh dari laki-laki.
Rasa jahil Arga membuatnya menarik bantal yang sedang dipukulkan kepadanya. Tanpa diduga Marsha malah ikut tertarik dan hampir jatuh dari ranjang. Untung dengan sigap Arga menahan tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Jantung kedua insan itu berdetak kencang saat ini. Apalagi Marsha bisa dengan jelas mendengar gemuruh suara denyutan jantung milik Arga. Posisi kepala dia berada tepat di dada kiri dan kedua tangannya merangkul pinggang laki-laki itu.
__ADS_1
"Astaghfirullahal'adzim!" Marsha langsung mendorong tubuh Arga dengan kuat sampai laki-laki itu jatuh terjengkang ke lantai dengan keadaan terlentang.
Marsha yang sangat malu langsung menyembunyikan wajah ke kasur dan menutup kelapa dengan bantal yang lain. Wanita itu tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi.
Arga buru-buru memakai pakaiannya dengan lengkap. Lalu, dia pun pergi dari kamar itu. Sebenarnya dia masih ingin bersama Marsha, tetapi wanita itu sedang tidak ingin diganggu karena malu dan marah.
***
Sore hari Arga dan Alva mandi bersama lalu jalan-jalan menelusuri desa sambil naik sepeda. Bocah itu sangat senang, mulutnya tidak berhenti mengoceh.
"Mbak Marsha, Mas Arga ke mana, ya?" tanya Dewi begitu melihat Marsha ke luar dari kamar tidur.
"Katanya mau jalan-jalan," jawab Marsha.
"Kalau begitu Dewi permisi dulu, Mbak," ujar Dewi kemudian pergi ke arah depan rumah.
"Arga pinter bener cari istri. Sudah cantik pinter masak lagi," puji salah seorang kerabat Arga dengan menggunakan bahasa Jawa.
Marsha hanya tersenyum simpul. Dia tidak bisa bahasa daerah itu, tetapi bisa menyimpulkan ucapan wanita setengah paruh baya itu.
"Iyalah, Marsha ini menantu kesayangan aki, Mbok," balas Ayu sambil merangkul pundak Marsha.
"Yu, apa pekerjaan Arga di ibu kota itu punya penghasilan yang sangat besar?" tanya Sari, sang nenek.
Sebenarnya Ayu sendiri tidak tahu seberapa besar gaji milik Arga. Setiap bulan dia sering mengirim uang meski sudah dilarang olehnya juga Barata. Makanya rekening pengiriman uang dari Arga dipisah. Usaha Barata juga lumayan besar penghasilannya tiap bulan. Apalagi mereka hanya hidup berdua di rumah meski ada yang suka membantu mengurusi rumah, tetapi mereka tidak menginap.
"Kenapa Eyang tanya begitu?" tanya Ayu.
__ADS_1
"Ya, karena Arga menolak keinginan Eyang Kakungnya untuk mengelola perkebunan dan peternakan di sini. Padahal penghasilan di sini ratusan juta tiap bulannya," jawab Sari.
Marsha memilih menyibukan membantu membuat kulit untuk risoles. Dia tidak suka saat ada orang menyinggung tentang harta dan uang. Itu suatu hal yang sensitif. Apalagi saat ini banyak kerabat di sana.
Sari mempunyai anak tiga orang, tetapi yang dua sudah meninggal lama dan tidak mempunyai istri atau anak. Yang tersisa tinggal Barata, itu juga mempunyai seorang anak laki-laki. Padahal suaminya sudah menghibahkan hartanya untuk Arga dan Sakti. Namun, salah satu cucunya kini sudah meninggal dunia. Tinggal Arga dan kini punya cicit satu, yaitu Alva.
"Untuk urusan itu lebih baik Eyang tanyakan saja kepada Mas Barata," tukas Ayu.
"Kalau aku nanti ikut kalian, lalu siapa yang akan mengurus dan mengawasi perkebunan dan peternakan?" tanya Sari.
Ayu menjadi dilema. Salah satu harus ada yang mengalah. Barata tinggal di sini mengurus peninggalan ayahnya atau Arga yang mengambil alih. Hanya saja dia sudah tahu bagaimana watak suami dan anaknya. Keduanya selalu ingin melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Apalagi Arga yang sudah lama disuruh oleh Barata untuk bekerja di kampungnya, malah menolak. Penghasilan Barata memang jauh dibandingkan dengan pendapatan ayahnya. Meski sering diminta untuk pulang kampung halaman dan mengurus usaha keluarga, Barata sering menolaknya.
Marsha mendengar suara tawa Alva dan Arga. Lalu, dia pun bergegas pergi ke halaman depan. Terlihat bocah itu sedang digelitik oleh Dewi. Dada Marsha tiba-tiba sakit dan sesak melihat pemandangan itu. Mereka malah terlihat sebagai keluarga harmonis.
"Kamu sudah cocok untuk momong bayi, Wi. Kalian terlihat kayak keluarga. Ibu, bapak, dan anak," ucap salah seorang kerabat Arga menggoda Dewi.
Warna kulit muka Dewi berubah. Meski memiliki warna kulit eksotis, tetapi bisa terlihat jelas. Apalagi dengan senyum malu-malu dan lirikan matanya kepada Arga.
Marsha pun langsung menghampiri Arga dan mengambil alih Alva dalam gendongannya. Dia dengan sengaja menginjak kaki laki-laki itu dengan kuat.
"Aaaaaaa, Sayang, kenapa kamu injak kakiku!" teriak Arga.
"Mana kaki yang sakit, Mas?" tanya Dewi spontan sambil melihat ke arah kaki Arga.
Marsha memasang muka masam. Lalu pergi masuk ke rumah sambil menggendong Alva. Untungnya bocah itu tidak banyak drama ingin main sama Arga.
***
__ADS_1
Ada yang cemburu, nih! 😎. Apakah hubungan Marsha dengan Arga akan baik-baik saja dengan adanya Dewi di antara mereka nantinya? Ikuti terus kisah mereka, ya!