Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 146. Target Baru


__ADS_3

Bab 146


Alva, Alfarizi, dan Alvin ikut membantu para korban untuk mendata dirinya. Mereka juga membantu polisi untuk memberi tahu keluarga mereka dan bisa menjemput secara langsung ke tempat penampungan.


"Alhamdulillah, selesai juga," ucap Alva sambil meregangkan tubuhnya karena merasa pegal.


"Sekarang jam berapa?" tanya Alfarizi sambil melihat jam di handphonenya.


"Sudah mau subuh, ya!" jawab Alvin.


Ketiganya sampai tidak tidur dan tersadar waktu sudah berlalu sampai suara adzan berkumandang. Ketiganya bergegas menunaikan ibadah sholat Subuh berjamaah. Tanpa ketiga sadari kalau gerak-gerik kegiatan mereka diawasi. Orang itu juga mengambil beberapa foto mereka bertiga.


Saat Alva akan pulang dia teringat kalau handphone miliknya dalam mode senyap. Begitu membuka benda pipih itu, dia melihat ada banyak notifikasi panggilan dari Safira dan ratusan chat dari gadis itu dan adiknya.


"Astaghfirullahal'adzim. Sampai banyak sekali pesan yang masuk," ucap Alva pelan.


Pemuda itu langsung menghubungi Safira. Dia yakin kalau gadis itu mengkhawatirkan dirinya.


"Assalamualaikum–"


"Wa'alaikumsalam. Kamu ke mana saja? Kenapa tidak membalas satu pun pesan yang aku kirimkan? Apa kamu tidak tahu kalau aku sangat mengkhawatirkan dirimu?" Safira langsung memotong ucapan Alva.


Bukannya marah, Alva malah tersenyum senang. Dia suka dengan ocehan Safira yang seperti ini. Pemuda itu membiarkan sang gadis meluapkan semua emosi yang sedang dia rasakan.


"Aku pulang," balas Alva dan itu membuat ocehan Safira langsung berhenti.

__ADS_1


"Aku menunggumu," balas Safira dengan lembut.


"Ingin dibawakan apa?" tanya Alva sambil membuka pintu mobil.


"Kamu pulang dengan selamat dan kembali ke hadapanku itu sudah membuat aku senang," jawab Safira dan Alva yakin kalau gadis itu sedang merasa malu-malu.


***


Alva membawa sarapan nasi uduk betawi dan salad buah. Sebenarnya Alva suka salad buah buatan rumah, tetapi saat ini mereka sangat sibuk dengan berbagai urusan.


Tempat yang dituju oleh Alva adalah unit milik Safira. Dia membunyikan bel dan begitu dibuka Arshy langsung memeluk tubuh kakaknya sedangkan Safira hanya bisa tersenyum lega. Kalau bisa dia juga ingin memeluknya.


"Kenapa Kakak tidak membalas pesan yang aku kirim?" tanya Arshy masih memeluk kakaknya.


"Maaf, ya. Tadi sangat sibuk sampai tidak tidur," jawab Alva sambil mengusap kepala sang adik.


Setelah sarapan Alva membaringkan tubuhnya di sofa. Tidak sampai lima menit dia sudah tertidur pulas. Merasa kasihan, maka Safira mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Alva. Sang gadis tidak bosan memandangi wajah pujaan hatinya. Tanpa sadar dia menyentuh pipi pemuda yang sudah mencuri hatinya.


"Aku tidak sabar menunggu kamu menghalalkan aku," bisik Safira.


Sebenarnya Safira begitu tergoda untuk mencium bibir Alva. Sang gadis takut saat melakukan itu tiba-tiba saja mata laki-laki itu terbuka. Bisa-bisa dia marahi lagi olehnya dan tidak mau diajak berbicara.


"Kalau ingin menciumnya, jadi pasangan halal dulu," bisik Arshy tepat di telinga Safira.


Putri dari Dokter Rama terlonjak kaget mendengar suara Arshy yang tiba-tiba terdengar di telinganya. Dia memalingkan wajah ke belakang di mana Arshy sedang tersenyum lebar. Rasa malu kini menguasai hati Safira.

__ADS_1


"Kenapa? Kaget, ya?" tanya Arshy masih menyeringai jahil.


"Eng–gak. Kamu itu bicara suka yang aneh-aneh," jawab Safira lalu beranjak dari sana.


"Hmmm, terlihat jelas dari wajahmu, Kak Safi. Kalau kamu ingin mencium kakakku itu," ujar Arshy sambil menaik turunkan alisnya, tidak lupa senyum nakal masih menghiasi wajahnya yang cantik.


Safira tidak membalas ucapan Arshy, dia lebih memilih memandikan Alfi ketimbang dijahili terus. Selain itu bisa bahaya kalau Alva sampai tahu.


***


Alva dan Safira berangkat ke kampus bersama dengan gadis itu yang menjadi supirnya. Hal ini karena Alva masih merasa kelelahan.


"Sepertinya pemuda itu yang membantu para polisi selama ini," ucap Leonard yang sedang menyamar.


"Aku tahu yang wanitanya. Dia teman baik Intan, kalau tidak salah namanya Safira," balas Fery.


Kedua lelaki itu sedang berada di sebuah mobil yang terparkir di arena kampus tempat Alva dan Safira kuliah. Mereka sedang mencari orang yang ada di dalam foto. Salah seorang kenalannya yang bekerja sebagai polisi memberi tahu kalau ada tiga orang pemuda yang bekerja sama dengan aparat dan membantu mereka semua.


"Aku yakin wanita itu pasti masih orisinil. Kalau kita jual pasti akan dapat harga mahal. Kita jadikan dia target baru," kata Leonard tersenyum lebar.


"Ya. Ratusan juta pasti tembus dia. Wajahnya juga cantik pasti para lelaki akan suka," balas Fery ikut tersenyum jahat.


"Aku akan melelang dia dengan harga pembukaan 500 juta. Aku rasa akan mudah untuk mendapatkan dia," ujar Leonard kemudian turun dari mobil dan jalan mengendap-endap.


Fery menyamar dengan gaya pakaian layaknya anak muda. Dia memakai topi dan kacamata. Laki-laki itu mengikuti saudaranya menuju ke fakultas kedokteran.

__ADS_1


***



__ADS_2