Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 169. Ciuman Pertama


__ADS_3

Bab 169


Safira menjadi salah tingkah mendengar ucapan Alfi. Dia tahu saat ini mereka belum dibolehkan melakukan itu. Jika sudah jadi suami-istri, tanpa diminta oleh bocah itu, pastinya Alva akan menciumnya.


"Eh, itu ... Papa melakukan itu karena Alfi masih kecil. Kalau Mama sudah besar jadi tidak perlu dicium," kata Alva dengan tawa sumbang.


"Opa sering mencium Oma." Alfi menunjuk kepada Dokter Rama dan Dewi. Bocah itu sering melihatnya saat dia dititipkan di sini.


Alva menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Safira memalingkan wajahnya dari bocah itu saking malunya. Berbeda dengan Arshy yang malah menyeringai.


Apakah Alva dan Safira pernah berciuman? Jawaban yang tepat adalah Safira pernah mencium Alva saat mereka duduk bangku sekolah menengah pertama. Itu adalah ciuman pertama mereka setelah remaja. Kalau saat masih bocil, keduanya tidak ingat. Ketika liburan semester, gadis itu datang ke kampung halaman Alva yang kebetulan sedang liburan juga. Perempuan itu main terjang anak bujang orang, lalu menciumnya walau sebentar. Ini membuat putra sulung pasangan Marsha dan Arga marah kepadanya dan tidak mau bertemu. Jadinya, selama liburan itu Safira tidak bisa bersama Alva. Dia kapok dan tidak berani lagi melakukan hal itu.


"Papa sama Mama itu sama-sama malu. Mereka tidak akan berciuman di depan orang lain," bisik Arshy, tetapi terdengar oleh Alva dan Safira.


Kedua orang itu melotot kepada Arshy yang mencekoki pikiran Alfi yang masih batita dengan ucapannya itu. Dengan polosnya Alfi mengangguk sambil mengacungkan jari jempolnya kepada Arshy dan keduanya tertawa cekikikan.


***

__ADS_1


Malam hari mereka makan bersama. Alfi begitu mudahnya menempel kepada Safira, seakan dia memang ibu kandungnya sendiri yang lama terpisah dan sangat dirindukan olehnya. Bocah itu duduk di samping Safira dan berceloteh kalau dirinya sudah pintar makan sendiri.


"Anak Mama memang pinter! Cepat besar, ya," kata Safira sambil mengelus kepala Alfi.


Arshy yang duduk di samping kiri Alfi membisikkan sesuatu. Bocah itu mengangguk-angguk. Marsha dan Arga melihat kelakuan putrinya itu, tetapi membiarkannya. Mereka ingin tahu apa yang sudah dibisikkan oleh gadis jahil itu.


"Mama, kalau aku sudah besar, berarti aku akan punya adik, dong!" kata Alfi dan membuat Alva menyemburkan air minumnya, untung keburu dia tutup mulutnya.


Sementara itu, Safira yang sedang mengunyah makanan dibuat tersedak. Alva yang duduk di samping kanannya dengan cepat memberikan air minum kepada gadis itu.


"Kapan aku punya adik, Ma?" lanjut Alfi bertanya masih dengan polos tanpa merasa bersalah.


Dokter Rama dan Dewi juga dibuat terkejut sampai mereka tercengang dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Tidak masalah Safira menikah dengan Alva, tetapi mereka ingin kesehatan gadis itu sudah benar-benar sehat.


Arga dan Marsha berharap Safira segera sembuh, agar bisa secepatnya menikah dengan Alva. Mereka ikut bersedih saat gadis itu dibawa paksa pergi ke Amerika dan itu sempat membuat Alva down. 


"Mama Fira harus sehat dulu, Alfi Sayang. Setelah itu baru menikah dan buat adik untuk Alfi," kata Safira dengan muka yang merah padam karena membayangkan bagaimana nanti dia membuat anak bersama Alva. 

__ADS_1


'Baru membayangkan saja rasanya ingin pingsan,' batin Safira.


Alva berdeham dan Alfi tahu kalau dirinya harus diam dan jangan mengganggu. Bocah itu langsung menundukkan kepala dan memainkan makanannya. Sudah hilang selera makan bocah itu. Dia merajuk karena mengira Alva marah kepadanya.


"Nanti jika Alfi sudah sekolah, baru boleh minta adik. Memangnya Alfi sudah tidak mau digendong sama Papa lagi?" Alva kini sudah berdiri dibelakang kursi khusus anak yang diduduki oleh bocah itu.


"Kalau sudah punya adik, tidak boleh digendong, ya?" tanya Alfi dengan cemberut.


"Kan, gantian sama adik kecil," jawab Alvi dan Alfi menggelengkan kepalanya menandakan dia tidak mau itu.


"Jadi, kapan pernikahan mereka akan dilakukan?" tanya Arga.


Dokter Rama tidak bisa memastikan kapan itu. Baginya Safira sembuh dulu baru merencanakan pernikahan.


"Doakan aku sudah cepat sembuh, ya! Agar secepatnya bisa menikah," bisik Safira kepada Alva dan pemuda itu mengangguk.


"Menikah itu apa, Ma?" tanya Alfi yang sejak tadi mendengar kata ini, tetapi tidak tahu apa itu.

__ADS_1


***


__ADS_2