Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 116. Kabar Gembira


__ADS_3

Bab 116


Marsha dan Arga terlihat sudah tidak sabar ingin melihat hasil dari tes kehamilan. Tadi pagi Marsha memesan benda itu lewat online.


"Sudah muncul belum?" tanya Arga entah untuk ke berapa kalinya.


"Sabar, Mas. Baru juga tiga menit," jawab Marsha sambil memencet hidung mancung milik suaminya.


Tiba-tiba Arga berlari ke wastafel lalu muntah kembali. Kali ini tidak keluar apa pun, karena tadi sudah beberapa kali muntah.


Marsha pun memberikan air hangat untuk Arga. Sebenarnya dia merasa kasihan melihat keadaan suaminya seperti ini terus tiap pagi. Wanita itu mengambil minyak telon lalu membalur ke tengkuk dada dan perutnya. Rasa hangat dari minyak ini membuat tubuh lumayan nyaman.


"Tidur, ya?" Marsha ngusap pucuk kepala Arga.


Laki-laki itu malah menggelengkan kepala. Dia ingin melihat hasil tes kehamilan istrinya. Bagi Arga ini adalah momen yang paling ditunggu-tunggu. Berharap bisa memiliki anak dari benihnya sendiri.


Marsha pun mengambil beberapa testpack dari berbagai merek yang tadi digunakan untuk mengecek apakah dia sudah positif hamil atau belum. Wanita itu membawa gelas kecil ke sofa dekat Arga yang kini memilih duduk.


"Sini, Sayang!" Arga tersenyum sudah tidak sabar.


"Iya, ini juga sedang jalan ke sana," balas Marsha sambil tersenyum geli melihat tingkah suaminya.


Begitu Marsha duduk, Arga langsung mengambil tiga dari lima alat tes kehamilan tadi. Wajahnya yang tadi berseri-seri kini mengerutkan kening dan terlihat kecewa. Garis merahnya hanya satu bukan dua.


"Alhamdulillah. Semoga ini benaran hasilnya. Terima–"


"Sayang, kok, Alhamdulillah? Garisnya cuma ada satu," ucap Arga sambil menunjukan ketiga benda pipih agak panjang itu kepada sang istri.

__ADS_1


Marsha malah memeluk dan mencium pipi Arga beberapa kali. Wanita itu terlihat sangat senang.


"Tunggu, Sayang. Kenapa kamu malah terlihat bahagia?" tanya Arga tidak mengerti.


Bola mata Marsha berkaca-kaca dan itu membuat Arga ikut merasa sedih. Sang suami pun lantas mengusap lembut pipinya.


"Semoga doa dan harapan kita ini benar-benar terwujud, Mas. Alat tes kehamilan ini menunjukkan kalau aku sedang positif hamil, insha Allah." Marsha tersenyum lebar sambil menunjukkan dua alat tes yang menunjukan dua garis, meski garis kedua agak samar warna merahnya.


"Be–beneran i–tu, Sayang?" Arga tergagap antara bahagia dan tidak menyangka.


Lalu, Marsha pun menjelaskan kalau usia kehamilannya masih hitungan hari jadi belum jelas. Alat tes kehamilan akan terlihat jelas jika usia kandungan sudah lebih dari sebulan atau dua bulan kurang.


"Kita berdoa saja, Mas. Semoga Allah benar-benar memberikan amanah kepada kita," kata Marsha.


"Itu sudah pasti. Sejak kita menikah, aku selalu berdoa, berharap kamu segera hamil kembali. Aku ingin punya banyak anak," ujar Arga.


"Jadi, kapan kita pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa kehamilan kamu, Sayang?" tanya Arga sambil mengelus perut sang istri.


***


Kedatangan kedua orang tua Arga dan Marsha yang mengantarkan Alva, sangat bahagia saat mendengar kabar ini. Mereka juga mendoakan semoga hasilnya nanti benar-benar positif. Apalagi jika melihat Arga yang setiap pagi dan sore sakit begitu kayak orang ngidam.


"Jadi, di dalam perut Bunda ada adik bayinya?" tanya Alva sambil menyentuh perut ibunya dengan hati-hati.


"Insha Allah, Sayang. Alva berdoa semoga adik bayi segera hadir di dalam perut Bunda," jawab Marsha.


Kebahagiaan ini membuat Arga semakin bersemangat dalam bekerja. Meski kadang pagi-pagi masih saja muntah-muntah. 

__ADS_1


***


Waktu terus bergulir dan hari ini rencananya Marsha akan pergi untuk melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Bulan ini dia tidak mendapati datang bulan. Lalu, sekali lagi melakukan pengetesan dan hasilnya dua garis merah.


"Selamat, Bu. Insha Allah sudah terlihat ada dua calon bayi. Ini terlihat ada dua kantung," ucap dokter Fatimah sambil menunjuk ke arah monitor.


"Kem–bar, Dokter?" Arga dan Marsha terkejut.


"Iya, Pak. Ibu Marsha sedang hamil calon bayi kembar," ucap wanita berjilbab putih itu seraya tersenyum sopan.


Betapa bahagianya Arga dan Marsha mendengar kabar ini. Mereka akan dikaruniai dua anak sekaligus. Air mata kebahagiaan kini menghiasi netra pasangan suami istri itu.


"Alhamdulillah. Betapa sayangnya Allah kepada kita. Sampai-sampai kita diberikan dua anak sekaligus, Mas," ucap Marsha.


"Benar, Sayang. Aku ingin bersedekah ke panti asuhan sepulang dari sini, ya." Arga ingin mengungkapkan rasa syukurnya dengan berbagi rezeki dan kebahagiaan dengan anak-anak yang kurang mampu.


"Tentu saja, Mas." Betapa bahagianya Marsha bisa mengandung anak dari benih milik Arga.


***


"Arga akan punya anak dengan wanita itu, ya?" Mariana tercengang saat melihat status milik Arga yang memperlihatkan hasil USG.


Wanita yang memakai pakaian minim itu berjalan menuju balkon. Apartemen milik Pandu yang dahulu mereka tempati, kini sudah menjadi milik Mariana. Dia yang marah karena partner ranjangnya itu memilih Ratu, jadi meminta kompensasi. Apartemen, uang dua miliar, dan sebuah mobil mewah yang harus dibayar oleh laki-laki itu agar bisa terlepas darinya.


"Semoga saja Kak Valerie tidak tahu berita kehamilan wanita itu. Jika tahu ... akan sangat berbahaya," gumam Mariana sambil memandangi langit malam yang gelap.


***

__ADS_1


Apakah Arga masih akan ngidam? Ikuti terus kisah mereka, ya?



__ADS_2