
Bab 113
Arga dan Marsha memilih menghabiskan waktu bersama hari ini di resort saja. Pertemuan dengan Valerie dan Pak Broto membuat acara bulan madu mereka menjadi tidak menyenangkan.
"Kita pergi ke Bali, yuk!" ajak Arga ketika mereka sedang menikmati pemandangan matahari terbenam.
"Bagaimana kalau kita ke Raja Ampat?" Marsha dahulu punya impian ingin pergi ke sana.
Terlihat Arga sedang berpikir. Waktu libur tinggal empat hari lagi, sementara perjalanan ke Raja Ampat akan memakan banyak waktu.
"Ke Labuan Bajo saja, gimana?" Arga memberi pilihan lain.
Marsha setuju, dari pada di sini ketemu sama Valerie yang bikin mood dia hancur. Akhirnya mereka memutuskan besok akan pergi ke Labuan Bajo.
Malam harinya Arga dan Marsha memilih makan malam di resort saja. Mereka makan di taman yang terhubung dengan kolam renang. Tempat itu juga sangat indah karena sengaja dihias sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu tempat favorit bagi penyewa resort.
"Makanan di sini enak-enak. Apa kokinya dipilih secara khusus?" tanya Marsha setelah mencicipi cumi asam pedas kesukaannya.
"Kami mempekerjakan orang-orang yang memiliki kemampuan di bidangnya masing-masing. Tanpa melihat status pendidikan, gender, suku, atau agama. Jika dia memang layak untuk menempati posisi itu yang kita berikan tempatnya. Salah satu koki ada yang lulusan sekolah menengah pertama. Karena dia memang hebat dalam mengolah makanan. Ada juga yang lulusan terbaik di universitas luar negeri yang mengambil jurusan tata boga. Orang yang bertugas membuat desert salah satunya lulusan terbaik dari luar," jelas Arga.
Sebenarnya Marsha masih betah liburan di sini. Selain tempatnya nyaman, pemandangannya juga indah. Sangat cocok menjadi tempat menghabiskan waktu bersama pasangan.
"Sebenarnya aku belum puas berada di sini. Masih banyak tempat yang ingin aku kunjungi," gumam Marsha dengan mimik sedih.
__ADS_1
Arga juga merasakan hal yang sama. Namun, keberadaan mantannya akan bisa saja membuat kacau kehidupan keluarganya, mau tidak mau mereka harus menghindar.
"Kapan-kapan kita ke sini lagi. Nanti ajak Alva dan keluarga kita yang lain," ucap Arga dan Marsha setuju sekali dengan rencana itu.
Setelah selesai makan Arga dan Marsha duduk sambil menikmati pemandangan langit malam yang indah dihiasi bulan purnama. Tanpa keduanya sadari mereka jatuh terlelap dalam tidur.
Pak Broto dan Valeri berhasil menyelinap ke resort tempat Arga dan Marsha menginap. Kedua orang itu tersenyum bahagia saat melihat target sudah dalam keadaan tidak berdaya.
"Ternyata memasukan obat tidur ke dalam makanan dan minuman mereka adalah ide yang bagus," ucap Valerie dengan tersenyum bahagia.
"Kamu memang cerdas!" puji Pak Broto kepada Valerie.
"Tentu, dong!" balas wanita itu sombong.
"Aku bawa dahulu Marsha ke dalam, nanti aku balik lagi untuk menggotong si Arga," kata Pak Broto dan Valerie pun setuju.
Dengan hati-hati laki-laki mata keranjang itu membawa tubuh Marsha ke dalam kamar lalu meletakkan di atas kasur. Tatapan lapar terlihat jelas dari pancaran mata Pak Broto, saat melihat wajah cantik Marsha.
"Sabar, ya, Sayang. Aku akan kembali lagi setelah membawa suami kamu untuk diajak senang-senang oleh Valerie," ucap Pak Broto sambil mengusap pipi Marsha.
Pak Broto pun bergegas keluar untuk menggotong tubuh Arga masuk ke dalam. Valerie sudah tidak sabar ingin menghabiskan waktu bersama sang pujaan hati seperti dahulu saat mereka masih berpacaran.
"Kak Arga! Kamu sedang apa di sini?" Arga yang sedang rebahan di bawah pohon pun membuka mata.
__ADS_1
"Sakti?" Arga pun bangun dan duduk sambil menatap sang adik. Jelas sekali laki-laki ini dalam keadaan bingung.
"Kenapa Kakak malah enak-enakan tiduran di sini? Bukannya menjaga Marsha. Ingat aku titipkan dia sama Kakak, karena aku percaya hanya Kak Arga yang bisa menjaga dan melindungi perempuan yang aku cintai itu," kata Sakti yang terlihat marah.
"Marsha?" Arga melihat ke sekeliling. Hanya ada hamparan rumput hijau dan dia tidak menemukan Marsha yang selama ini selalu di sisinya.
"Marsha!" teriak Arga sambil berdiri. Bola mata laki-laki itu mengedar mencari sang istri.
Rasa takut kehilangan dan bayangan kesedihan Marsha tiba-tiba saja memenuhi perasaan Arga. Dia terus meneriaki nama pujaan hatinya.
"Marsha!" teriak Arga dalam alam bawah sadarnya.
Valerie yang mendengar itu pun menjadi kesal. Begitu Pak Broto dan wanita itu berhasil meletakkan tubuh Arga di sofa, Arga masih saja memanggil nama Marsha.
"Kayaknya dia bucin sekali kepada istrinya," ucap Pak Broto sambil melihat ke arah Arga yang terlihat gelisah dalam tidurnya.
"Itu sudah jelas. Padahal dahulu hanya aku yang dicintai olehnya," balas Valerie tidak senang.
***
Akankah Valerie dan Pak Broto berhasil menjalankan aksinya? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1