Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 135. Praduga Dibalik Kecelakaan Intan


__ADS_3

Bab 135


Hari Sabtu subuh, Alva dan yang lainnya pergi ke Bandung untuk menjenguk Intan. Mereka sengaja pergi pagi-pagi sekali agar tidak terjebak macet. Pemuda itu menyetir dan di kursi penumpang samping ada sang adik. Sementara Safira ada di kursi belakang bersama Alfi. Gadis itu mengoceh dan si bayi tertawa-tawa.


"Alfi, kenapa kamu lucu sekali? Mama jadinya gemes sama kamu." Safira menciumi perut bayi itu dan membuatnya tertawa.


Lewat kaca spion depan Alva melihat Safira dan Alfi. Senyum tipis karena geli kini menghiasi wajahnya. Begitu juga dengan Arshy yang ikut tertawa kecil.


"Untung lucu mukanya, kalau serem nanti Papa Alva akan takut. Apalagi Mami Arshy, dia pasti lari terbirit-birit," lanjut Safira dan disambut kekehan Alfi.


Alva yang mendengar itu ikut tertawa sedangkan Arshy hanya mendengus sambil membuang mukanya ke arah jendela. Safira sendiri asyik terus saja mengajak bayi itu berbicara.


"Apa Kak Safi tidak lelah mengoceh terus? Sudah satu jam non-stop, loh!" tanya Arshy sambil menengok ke arah belakang. 


"Tidak. Karena bicara dengan Alfi itu tidak beda jauh bicara dengan Alva. Aku ngoceh terus sendirian. Dia tanggapannya hanya "Hn" , "Ya", "Tidak", atau "Jangan". Tidak beda jauh 'kan dengan Alfi," jawab Safira sambil tertawa mengejek kepada Alva yang terlihat melototf sejenak ke arahnya.


***


Tidak terasa mobil mereka sudah sampai ke parkiran rumah sakit. Mereka lalu menanyakan ruang rawat inap tempat Intan mendapatkan perawatan.


"Pokoknya Papa harus cari tahu apa yang sudah terjadi kepada putri kita," kata Tiara, mamanya Intan.


Alva, Safira, dan Arshy terdiam di depan pintu. Mereka merasa enggan untuk mengetuk pintu. Karena di dalam sana terdengar kedua orang tua Intan sedang membicarakan sesuatu yang penting, mereka memutuskan untuk menunggu di depan ruangan.


"Iya, papa akan meminta bantuan beberapa orang detektif untuk mencari tahu kenapa Intan bisa mengalami kecelakaan," balas Zamzam.


"Mama curiga ini ada hubungannya dengan Feri, Pa," ujar Tiara dengan lirih.

__ADS_1


"Kenapa Mama bisa berpikir seperti itu?" tanya Om Zamzam.


"Tunangan mana yang tidak pernah datang menjenguk calon istrinya yang terbaring koma," jawab Tiara.


Safira terkejut mendengar nama orang yang sudah disebutkan oleh mamanya Intan. Dahulu temannya itu pernah cerita di tunangan oleh kedua orang tuanya dengan laki-laki yang bernama Feri. Gadis itu awalnya menerima, apalagi Feri merupakan laki-laki tampan dan mapan. Namun, beberapa bulan belakang Indah bercerita ingin mengakhiri pertunangan mereka.


Alva melihat ada perubahan ekspresi wajah pada Safira. Dia yakin kalau teman baiknya ini mengetahui sesuatu. Pemuda itu menepuk bahunya agar kembali tersadar dari lamunannya.


"Ada apa?" tanya Alva penasaran.


Pemuda itu menatap gadis yang berdiri disampingnya. Keduanya saling menatap sejenak. Lalu, Safira menarik tangan Alva dan diikuti oleh Arshy. Mereka pergi ke taman yang ada di depan bangunan rumah sakit.


"Ada apa?" tanya Alva tidak sabar.


"Aku ingat sesuatu tentang Intan. Tadi kalian dengar Tante Tiara mengucapkan nama seorang laki-laki?" Safira malah balik bertanya.


"Feri adalah laki-laki yang dijodohkan dengan Intan saat masuk kuliah. Dia itu anak sahabatnya Tante Tiara. Meski mereka dijodohkan, tapi keduanya saling tertarik," lanjut Safira.


Alva dan Arshy terdiam mendengar cerita itu. Bukan hal yang aneh orang tua menjodohkan anak-anak mereka. Contohnya Azka sejak kecil sudah dijodohkan dengan Queensha, anaknya Pandu.


"Lalu, di mana Feri sekarang?" tanya Alva menjadi penasaran dengan sosok laki-laki itu.


Safira menggelengkan kepala. Dia tidak pernah bertemu, tetapi tahu wajahnya karena Intan sering memperlihatkan foto-foto saat mereka bersama.


"Aku rasa benar kata Tante Tiara. Pasti Feri ada sangkut pautnya dengan kecelakaan yang terjadi kepada Intan. Masa tunangan kecelakaan tidak langsung datang menjenguk. Apalagi Intan sampai koma seperti itu," jawab Safira.


Ucapan Safira memang ada benarnya juga. Tidak mungkin seorang calon suami begitu cucak kepada suaminya.

__ADS_1


Setelah satu jam mereka berada di taman dengan pepohonan yang menghiasi taman, akhirnya memutuskan untuk masuk ke ruang rawat inap di mana Intan masih terbaring.


Betapa bahagianya Intan saat melihat ada Safira datang menemuinya. Suatu hal yang tidak pernah dia duga. Kedua gadis itu membicarakan tentang malam kejadian naas itu. Meski ingatan Intan masih samar-samar dia masih ingat dengan beberapa hal yang menimpa dirinya beberapa bulan ini.


"Aku akan menceritakan semua yang masih bisa aku ingat kepadamu Safira ... Alva. Aku bertaruh nyawa menyimpan rahasia ini," kata Intan dengan suaranya yang pelan dan terisak karena menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Ya, katakan semua yang terasa menjadi beban dalam hidupmu," ucap Safira sambil memeluk temannya itu.


Saat ini kedua orang tua Intan pulang untuk istirahat dahulu. Mereka sangat kelelahan menjaga Intan selama ini. Jadi, Safira mengatakan kepada mereka kalau dirinya yang akan menjaga intan sampai besok.


Alfi dan Arshy tinggal di hotel karena bayi dilarang di bawa menjenguk. Jadi, hanya Alva dan Safira yang menemani Intan.


"Aku tidak menyangka kalau Feri itu adalah seorang psikopat. Awalnya aku tidak tahu karena dia selalu bersikap baik dan tidak pernah berkata kasar apalagi berbuat kasar. Sampai beberapa bulan sebelum aku kecelakaan, aku tidak sengaja mengikuti dia. Dia mendatangi sebuah rumah yang memiliki benteng yang tinggi. Aku tidak tahu milik siapa rumah itu. Aku pura-pura kirim pesan kepadanya, menanyakan keberadaan dia. Ternyata dia berbohong, dia bilang sedang berada di kantor," kata Intan dengan suaranya yang pelan.


"Sampai malam Feri tidak keluar juga dari rumah itu. Karena penasaran aku pun mencari tahu pemilik rumah itu. Orang-orang komplek bilang itu rumah Leonard atau sepupunya Feri. Sampai aku menyuruh seseorang untuk melakukan penyelidikan karena Feri selalu berbohong. Laporan yang aku dapatkan ternyata di rumah itu ada banyak wanita muda yang mengalami kekerasan. Kalian pasti paham 'kan apa maksudku. Masih menurut laporan, kalau Feri merupakan salah satu dari pelakunya," ucap Intan langsung menangis tergugu.


Safira semakin mempererat pelukannya kepada Intan. Gadis itu juga ikut menangis. Sementara Alva mengepalkan tangan karena merasa marah atas kejahatan yang sudah terjadi kepada wanita-wanita lemah.


"Sebaiknya kita lapor sama polisi agar mereka segera menindak perbuatan jahat mereka," ucap Safira.


"Tidak bisa. Mereka sangat rapi menyembunyikan itu semua. Aku pernah meminta salah seorang saudaraku yang menjadi polisi untuk membantu aku membuatkan laporan. Saat polisi ke TKP, semua dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada para wanita yang jadi korban itu," balas Intan.


"Dan apa kau tahu apa yang terjadi selanjutnya?" Intan menatap tajam kepada Safira.


***


Penasaran dengan kelanjutan ceritanya? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1


__ADS_2