
Bab 136
Alva dan Safira mendengarkan cerita Intan dengan serius. Apa yang dikatakan oleh perempuan itu bukan hal yang bisa dianggap sepele. Ini adalah kejahatan yang sangat serius dan menyangkut banyak nyawa orang.
"Apa kalian tahu kalau saudara aku dan temannya yang membantu aku itu? Mereka mengalami koma setelah dikeroyok oleh orang tak dikenal. Makanya aku sangat ketakutan akan ketahuan oleh mereka. Ternyata benar, seminggu sebelum kecelakaan, aku merasa ada yang mengawasi aku terus. Aku sampai stres dan rasanya hidup atau mati pun tidak ada bedanya," kata Intan.
Safira menghapus air matanya. Dia masih teringat akan ucapan Intan yang ingin mati. Perempuan itu membayangkan keadaan sahabatnya yang tertekan ketakutan.
"Untung aku punya sahabat terbaik seperti kamu yang mengingatkan aku akan dosa besar jika aku memilih untuk mengakhiri hidupku," lanjut Intan sambil memegang tangan Safira.
Putri dari Dokter Rama ini pun mengangguk. Dia juga merasa bersyukur punya teman seperti Intan.
"Saat kejadian malam itu, aku seperti melihat Feri dan Leonard menaiki mobil lalu pergi menuju ke sebuah klub malam. Tidak lama kemudian ada beberapa orang laki-laki berbadan kekar membuka mobil yang tadi dinaiki oleh Feri dan Leonard. Ternyata di dalam sana ada beberapa wanita berpakaian minim dengan dandanan full make up. Untung aku sejak awal merekam kejadian itu," kata Intan menjelaskan.
__ADS_1
Safira merasa kagum akan keberanian Intan. Jika hal itu terjadi kepadanya, bisa saja dia tidak akan kuat.
"Ternyata keberadaan aku diketahui oleh mereka. Malam itu pun kami balapan. Mereka berusaha mencelakai aku. Tahu aku dalam bahaya, aku kirimkan video itu kepada kamu lewat email," lanjut Intan dan tentu saja Safira juga Alva terkejut mendengar ini.
"Ma–maksud kamu?" tanya Safira tergagap.
"Apa kamu tidak mengecek email yang aku kirim?" tanya Intan balik.
"Tidak ada email dari kamu masuk ke akun aku," jawab Safira.
"Lalu, aku kirim ke siapa?" tanya Intan dengan suara bergetar.
Handphone milik Intan tidak ditemukan di tempat kejadian. Sepertinya ada yang mengambil benda pipih itu.
__ADS_1
"Coba kamu ingat-ingat lagi. Biasanya kamu suka kirim pesan lewat email ke siapa? Atau sebelum kejadian itu, kamu terakhir kirim email ke siapa?" tanya Alva.
Baik Safira atau pun Intan sama-sama orang yang sering melupakan hal-hal yang dianggap remeh oleh mereka. Namun, mereka memiliki ingatan yang kuat.
"Mutiara!" teriak Safira dan Intan bersamaan.
"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan dia. Padahal malam itu aku hanya mengingat kamu. Kok, bisa-bisanya aku mengirim barang bukti malah sama Mutiara," ujar Intan dengan heran dan kini merasa gundah.
"Sebaiknya kamu hubungi Mutiara. Tanya kondisi dia saat ini bagaimana," ucap Alva kepada Safira.
Akhirnya Safira menghubungi salah satu temannya. Gadis itu semakin panik karena tidak mendapatkan tanggapan. Dia pun mencoba mengulangi dan hasilnya masih tatap gagal.
"Aku akan telepon orang tuanya, siapa tahu mereka tahu tentang keberadaan Mutiara," kata Safira sambil mencari kontak kedua orang tua.
__ADS_1
Nomor milik kedua orang tua Mutiara tidak aktif. Sebenarnya mereka takut akan kejadian tidak terduga kepada Mutiara dan keluarganya.
"Alva, kita harus bagaimana sekarang ini?" tanya Safira dengan lirih.