Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 91.


__ADS_3

Bab 91


Tangan Arga ditarik oleh Pandu agar mengikutinya. Meski kesal dengan melakukan sahabatnya dia pasrah. Langkah sang atasan begitu cepat, untung kaki dia panjang sehingga bisa mengimbangi.


"Mau ke mana, sih, Jalan cepat-cepat begini? tanya Arga dengan kesal.


Suami Marsha itu padahal ingin segera pulang ke rumah karena sudah rindu istri sama anaknya. Akan tetapi, Pandu malah membawanya pergi, entah mau ke mana.


"Aku pernah cerita kepadamu nggak dahulu, kalau ada seorang pembantu di rumah bernama Bi Ayu?" tanya Pandu.


"Entahlah. Memangnya siapa dia?" tanya Arga balik.


"Aku barusan mendapat kabar kalau ibu kandung Ratu itu berasal dari desa Sukacita. Kampung yang sama dengan Bi Ayu. Kata kamu orang desa itu biasanya akan hafal kepada hampir semua tetangga se-desa atau se-kecamatan." Pandu menghentikan langkahnya dan menatap Arga.


"Iya. Biasanya kami saling mengenal sesama orang-orang se-desa," balas Arga.


"Nah, aku penasaran dengan orang yang menjadi ibunya Ratu, lalu aku tanya sama Bi Ayu tentang wanita yang bernama Jelita. Anehnya Bi Ayu bilang tidak tahu. Tapi, aku tidak percaya begitu saja karena muka dia mendadak pucat dan gugup. Bi Ayu juga terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Makanya aku ingin kita pergi ke desa Sukacita itu mencari kabar wanita yang bernama Jelita ini," jelas Pandu.


Senyum jahil tercipta di wajah Arga. Dia merasa kalau temannya ini sudah mulai sedikit gila karena Ratu. 


"Aduduh, perhatiannya bosku sama si gadis malang. Sampai-sampai aku harus ikut pergi menyelidiki ke desa," tukas Arga yang masih terlihat seringai di wajahnya.


Pandu pun terdiam dan seperti sedang berpikir. Laki-laki itu juga membenarkan kenapa dia sampai melakukan semua ini. Padahal Ratu bukan siapa-siapa baginya.

__ADS_1


"Kamu 'kan tahu sendiri kalau aku ini suka penasaran. Dari para aku terus kepikiran, ya lebih baik aku tuntaskan saja semuanya," bantah Pandu sambil memalingkan wajah.


Pandu kembali melanjutkan perjalanannya dan Arga mengikutinya dari belakang. Tidak ada yang berbicara di antara kedua laki-laki itu sampai keluar gedung kantor.


"Pandu!" 


Mariana datang dan langsung memeluk tubuh Pandu dengan mesra. Wanita itu seakan tidak mau melepaskan sang lelaki yang belakangan menjadi teman kencannya.


Arga mendelikan mata karena kesal harus melihat perdebatan kedua orang itu. Bagi dia waktu itu sangat berharga. Jadi, tanpa Pandu dan Mariana sadari dia sudang pergi menuju mobilnya lalu melajukan mobil keluar dari sana.


Arga membeli beberapa buah-buahan segar saat melihat seorang laki-laki tua yang sedang menjajakan dagangannya di pinggir jalan. Dia merasa kasihan melihat kakek itu duduk kelelahan sambil mengibaskan topi lusuhnya. 


"Semuanya enam puluh tiga ribu," kata si kakek penjual buah.


"Ini uangnya, Kek. Terima kasih," ucap Arga.


"Sama-sama," balas si kakek dan betapa terkejutnya dia saat melihat uang yang ada ditangannya itu sangat banyak.


"Ambil saja semua uang itu, Kek. Halal, karena aku ridho dengan niat bersedekah," ucap Arga dengan tulus dan mengenggamkan tangannya.


"Alhamdulillah. Semoga Allah mempermudah segala urusanmu, Nak. Apa yang ingin kamu capai dan ingin kamu raih bisa secepatnya terwujud, Insha Allah," kata si kakek penjual buah dengan mata yang berkaca-kaca. 


Orang itu begitu tulus dan bersungguh-sungguh mendoakan kebaikan untuk Arga. Tentu saja laki-laki itu meng-aamii-kan dengan mata berkaca-kaca dan perasaan haru. Dia hanya memberi sedikit uang, tetapi begitu banyak doa-doa kebaikan untuk Arga dan keluarga yang terucap dari mulutnya.

__ADS_1


'Ya Allah, semoga dengan jalan bersedekah ini Engkau memberikan aku kesehatan dan keturunan yang banyak,' batin Arga.


***


Senyum Arga langsung mengembang begitu melihat sang istri berjalan menyambut kepulangan dirinya. Dia mendaratkan ciumannya di kening dan kecupan ringan di bibir ranum Marsha.


"Ini apa?" tanya Marsha saat Arga meletakkan satu keresek berukuran cukup besar.


"Itu buah mangga, pepaya, dan sirsak," jawab Arga.


Marsha pun membuat jus sirsak untuk keluarganya. Ternyata Arga sangat menyukainya. Keduanya menghabiskan waktu bercakap-cakap sambil menunggu adzan Magrib.


"Jadi, Pak Pandu ingin mengajak pergi ke desa, Mas?" tanya Marsha.


"Iya. Paling besok dia akan memaksa aku untuk ikut dengannya," jawab Arga.


"Aku jadi penasaran dengan sosok Ratu," kata Marsha.


"Aku merasa kalau kamu akan bisa berteman baik dengannya," ucap laki-laki yang memiliki tahi lalat kecil di bawah matanya.


"Benarkah? Aku jadi ingin semakin ingin bertemu dengannya," balas wanita bersurai panjang sepinggang.


***

__ADS_1


Akankah Marsha bisa berteman dengan Ratu? Apakah Pandu bisa menemukan ibu kandung Ratu? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_2