
Bab 124
Arga langsung terlonjak bangun begitu mendengar sang istri merasa mulas. Dia tentu saja panik karena dokter memperkirakan masih sekitar dua minggu lagi. Lalu, dengan sigap laki-laki itu menggendong Marsha.
"Mas, tunggu!" ucap Marsha mengingatkan suaminya agar jangan terburu-buru.
"Ada apa lagi, Sayang? Adek bayi mau keluar, eh, lahir," tanya Arga sambil berlari ke arah pintu.
"Tas pelengkap bayinya ketinggalan," ujar Marsha memberi tahu suami sesuatu yang penting.
Mendengar ucapan sang istri, Arga pun menurunkan tubuh Marsa dan mendudukkan di sofa. Lalu, dia pun kembali ke kamarnya untuk membawa tas.
"Mas–"
Saking paniknya Arga, setelah mengambil tas berwarna merah itu, langsung saja berlari ke luar dan masuk ke dalam lift. Dia tidak mendengar panggilan Marsha, apalagi melihatnya yang duduk di sofa.
"Teganya dirimu, Mas. Meninggalkan aku yang sedang mulas seperti ini," gumam Marsha dengan perasaan kesal dan sedih.
Alva terbangun lalu membuka pintu kamarnya karena mendengar suara keributan. Bocah kecil itu melihat ibunya yang sedang duduk di sofa sambil meringis kesakitan.
"Bunda, kenapa?" tanya Alva panik.
"Sayang, bantu Bunda. Sepertinya adek bayi mau lahir," jawab Marsha.
Wanita itu menyuruh sang anak untuk mengambilkan tas jinjing miliknya di kamar dan juga handphone miliknya. Alva bergerak dengan cepat menjalankan apa yang diperintahkan kepadanya. Bocah kecil itu juga membantu Marsha saat membuka pintu, lalu menuntunnya menuju lift.
Sementara itu, Arga yang panik menggendong tas sambil berlari ke arah mobilnya yang ada di basement. Dia memasukan tas ke kursi penumpang lalu memasangkan sabuk pengaman. Namun, saat hendak menjalankan mobil dia merasa ada yang aneh. Begitu di lirik ke samping, tidak ada sang istri, yang ada sebuah tas.
"Astaghfirullahal'adzim. Sayang, kamu di mana?" Arga mencari keberadaan Marsha.
Laki-laki itu semakin panik saja, pikirannya juga kalut. Dia ketakutan setengah mati karena istrinya tiba-tiba saja menghilang.
"Aku harus menghubungi ayah dan ibu. Eh, salah seharusnya lapor polisi," kata Arga bermonolog.
"Handphone. Mana handphone aku?" Arga meraba sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Saat dia sadar kalau tidak membawa handphone, saat itu juga Arga tersadar kalau Marsha juga tertinggal di apartemen. Laki-laki itu memukul kepalanya sendiri.
"Astaghfirullahal'adzim. Kenapa aku sampai lupa kepada istriku sendiri," ujar Arga lalu segera turun dari mobilnya.
Begitu dia sampai di depan lift, pintu itu terbuka dan memperlihatkan ada Marsha dan Alva. Terlihat wajah istrinya yang suram dan menatapnya dengan kesal.
"Sayang," panggil Arga lalu memeluk tubuh Marsha.
"Kamu apa-apaan, sih, Mas!" Marsha merasa sakit perutnya karena ketekan oleh perut Arga saat suaminya memeluk.
"Ayo, kita ke rumah sakit!" ajak Arga.
Untung keadaan jalan sedang sepi karena masih dini hari. Arga membawa mobil dengan kecepatan penuh. Dia takut istri keburu lahiran di jalan.
Sambil menahan sakit dan mulas, Marsha menghubungi dokter kandungan yang bertanggung jawab menangani proses kelahiran bayinya. Untungnya panggilan dia segera di respon oleh yang bersangkutan.
Bagitu mereka sampai ke rumah sakit, sudah ada perawat yang langsung membantu Marsha. Tidak lama kemudian dokter datang.
Arga begitu cemas, kering sebesar biji jagung menghiasi kening. Wajah laki-laki itu juga sangat pucat karena terus mendengar suara rintihan sang istri.
Alva yang merupakan anak cerdas, berani duduk sendiri di depan ruang bersalin. Dia menghubungi kakek, nenek, Oma, dan Opa-nya. Bocah itu memberi tahu kalau ibunya akan melahirkan.
Sambil duduk manis di kursi besi, Alva mengangkat kedua tangannya. Lalu, dia berdoa agar sang bunda bisa melahirkan kedua adiknya dengan selamat. Perbuatannya tidak luput dari Dokter Rama yang kebetulan sedang bertugas karena tadi ada pasien ibu hamil yang mengalami gawat darurat. Laki-laki dewasa itu tersenyum dan ikut berdoa semoga Marsha bisa melahirkan dengan lancar.
Arga memberikan semangat dan merapalkan doa agar sang istri bisa selamat saat proses persalinan, begitu juga dengan kedua buah hatinya. Dia mengabaikan lengannya yang dicengkeram oleh Marsha dengan begitu kuat sampai lecet dan mengeluarkan sedikit darah.
"Ya Allah, permudahkan lah persalinan istri hamba, dan selamatkan lah istri dan anak-anak kami," gumam Arga.
Bayang-bayang Marsha yang mengalami koma pasca melahirkan Alva tiba-tiba saja melintas dalam ingatan Arga. Laki-laki itu sangat takut hal yang sama akan terjadi lagi kepada sang istri.
"Ayo, Bunda. Rambut bayi sudah terlihat," ucap dokter yang membantu proses persalinan.
Marsha menarik napas lalu mengejan dan bayi pun keluar dengan mulus. Terdengar suara tangisan bayi yang kencang dan itu membuat pasangan suami istri itu merasa lega dan bahagia.
"Terima kasih, Sayang," ucap Arga lalu menciumi wajah dan kepala sang istri.
__ADS_1
Tanpa terasa tangis bahagia kini dirasakan oleh Marsha. Dengan kedua tangannya dia menerima seorang bayi laki-laki dan meletakkan di dadanya. Lalu, bayi itu melahap sumber ASI, menyusu dengan rakus.
Selanjutnya Arga menggendong bayi itu untuk diadzani. Wajah bayi itu mirip Alva saat masih bayi merah, dahulu. Laki-laki itu berharap wajah sang putra ini juga mirip dirinya saat dewasa nanti.
Rasanya Arga ingin menjadi orang pertama yang memandikan putranya. Salah seorang perawat mengambil alih untuk memandikan bayi itu.
Terdengar suara Marsha yang kembali berteriak untuk mengeluarkan bayi kedua. Arga pun memeluknya dan kembali memberi semangat.
"Mas, sakit," ucap Marsha.
Mendengar ucapan sang istri, Arga menjadi panik dan takut. Saat tadi mengeluarkan bayi pertama Marsha tidak mengeluhkan apa pun. Namun, kini saat akan mengeluarkan bayi kedua, dia mengatakan sakit.
"Sayang, aku yakin kamu pasti bisa. Kamu adalah wanita hebat kebanggaan aku dan Alva juga anak-anak yang lain," kata Arga dengan menahan tangisannya.
Laki-laki itu tidak boleh memperlihatkan rasa panik, gugup, dan ketakutan dirinya saat ini. Dia harus bisa membuat Marsha semangat dan berjuang kembali.
"Aku lemas, sepertinya tenaga aku habis," gumam Marsha.
"Bunda adalah ibu yang kuat. Ayo, adik bayinya juga sudah mau keluar," ucap dokter berjilbab putih itu memberikan semangat.
Arga membacakan beberapa ayat pendek dan meniup ke ubun-ubun Marsha. Dia juga berdoa agar istrinya diberikan kekuatan untuk melahirkan bayi kedua.
Mendapatkan dukungan dari sang suami, membuat Marsha merasa senang dan terasa ada energi yang mengalir di dalam tubuhnya. Dia ingin memeluk tubuh Arga. Begitu laki-laki itu balik memeluknya, dia mencengkeram erat punggung lebarnya.
"Allahuakbar!" teriak Marsha dan bayi kedua pun berhasil keluar dengan suara yang lebih nyaring dari kakaknya, tadi.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Sayang," ucap Arga dengan air mata yang tidak bisa dia bendung lagi.
Terlihat Marsha tersenyum lemah, lalu kedua matanya tertutup. Arga panik melihat keadaan istrinya yang menjadi seperti ini.
***
Akankah Marsha kembali koma seperti dulu? Ikuti terus kisah mereka, ya!
Ingin membuat cerita ini, tapi pada suka enggak, ya?
__ADS_1