
Bab 164
Pulang dari rumah sakit Alva langsung pergi ke bandara. Malam itu juga dia pergi ke Singapore. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Safira walau hanya sebentar. Karena besok dia harus masuk kerja lagi. Untungnya dia memiliki rekan yang pengertian dan pihak rumah sakit mempermudah saat meminta pergantian shift.
Perjalanan satu jam lebih itu terasa seharian bagi Alva, dia sudah tidak sabar ingin mendarat ke Negeri Singa itu. Dalam hatinya dia tidak berhenti berdoa agar bisa bertemu dengan Safira dan gadis itu dalam keadaan lebih baik dari kabar terakhir didapat.
Begitu sampai ke Bandara Udara Internasional Changi Singapura, Dokter Rama datang menjemputnya. Dia langsung membawa Alva ke hotel terdekat dengan rumah sakit. Karena saat ini Safira sedang beristirahat, jadi tidak bisa dijenguk. Mereka besok pagi baru bisa menjenguk gadis itu.
"Bagaimana keadaan Fira, Pa?" tanya Alva.
"Alhamdulillah. Dia jauh lebih baik. Dia sangat bersemangat untuk bisa segera sembuh karena ingin bertemu dengan kamu. Tadi saja saat dia sadar orang yang ditanyakan adalah kamu. Papa sampai cemburu, belum juga menjadi suami, dia malah terus mencari dirimu," jawab Dokter Rama dan Alva tertawa.
Malam ini Alva harus beristirahat agar besok dia dalam keadaan fresh saat bertemu dengan Safira. Pemuda itu ingin tampil setampan dan sesempurna mungkin di depan kekasihnya.
***
Safira mengalihkan perhatiannya ke arah pintu, saat mendengar bunyi. Air matanya langsung meluncur saat melihat orang yang dia rindukan selama ini, kini berdiri di depannya. Seandainya saja dia bisa menggerakkan kakinya, sudah pasti dia akan berlari ke arahnya.
"Assalamualaikum, Fira," ucap Alva dengan suara yang bergetar.
Bukan hanya Safira yang menangis, Alva juga sama demikian. Kedua sejoli itu merasa sangat bahagia ketika rasa rindu yang menggunung di dalam hatinya kini meledak.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Alva ...."
Safira langsung menarik tubuh pemuda itu, lalu memeluknya. Dia menumpahkan tangisan rasa rindu kepada Alva. Laki-laki itu ingin sekali mengelus punggung gadis itu, tetapi takut menyakitinya.
"A–ku bahagia sekali. Akhirnya bisa bertemu kembali denganmu," ucap Safira masih memeluk erat Alva. Gadis itu tidak mau melepaskan sang pujaan hatinya.
"Aku juga sama. Sangat bahagia sekali bisa kembali bertemu denganmu. Rasanya seperti mimpi, sampai-sampai barusan sebelum aku masuk, minta Papa Rama untuk mencubit aku," balas Alva.
"Apa? Mana yang dicubit sama Papa? Sakit tidak?" tanya Safira yang melepaskan pelukannya untuk memeriksa tubuh Alva.
"Tidak sakit. Semua rasa sakit yang aku rasakan karena berjauhan denganmu, semua melebur dan hilang, setelah melihat dirimu," jawab Alva.
Wajah Safira yang tadinya pucat pasi, kini terlihat merona. Suatu kejadian yang sangat jarang Alva mengatakan kata-kata gombal untuknya. Senyum manis pun langsung mengembang dari bibir yang terlihat pucat.
"Kenapa melihat aku seperti itu? Aku jadi jelek, ya, karena botak," tanya Safira yang kini tidak memiliki rambut di kepala karena digundul.
Kepala gadis itu mendapatkan beberapa jahitan di dua tempat. Di pelipis memanjang ke atas telinga dan di kepala bagian belakang, walau tidak terlalu dalam, tetapi lukanya cukup lebar.
"Kamu selalu cantik di mataku. Apalagi kalau memakai jilbab," jawab Alva dengan senyum tampannya.
Muka Safira terasa memanas dan mengeluarkan asap saking malunya mendengar gombalan dari mulut pujaan hatinya. Senyuman dan lirikan mata yang malu-malu diperlihatkan oleh gadis itu. Perasaan dia juga berbunga-bunga dengan aneka warna-warni. Sampai-sampai merasa ada pelangi di dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku bukan lagi gadis yang memiliki fisiknya sempurna karena kaki aku belum bisa berjalan," kata Safira yang senyumnya tiba-tiba hilang mengingat kenyataan ini.
Alva masih menatap dengan penuh damba kepada gadis itu. Senyum tampan juga masih menghiasi wajahnya. Sang pemuda akhirnya berkata, "Aku yang akan menjadi kakimu, ke mana pun kamu ingin pergi."
Mendengar kata-kata itu Safira malah menangis kejer. Dia merasa bahagia, terharu, dan ingin menerkam sang pemuda, lalu membawa ke dalam pelukannya.
"Kenapa kamu malah menangis seperti Alfi begini?" tanya Alva yang menghapus cairan bening di pipi Safira dengan lembut agar tidak menyakitinya.
Dokter Rama malah terkekeh geli melihat tingkah kedua anak muda itu. Dia sangat percaya kalau Alva akan menjadi suami yang baik untuk Safira nanti. Pemuda itu, selain mencintai putri sulungnya, dia juga akan bisa menjadi imam baginya.
'Alhamdulillah, tidak sia-sia aku bertengkar hebat dengan Shinta dan George untuk bisa membawa Safira. Kini aku melihat senyum dan pancaran kebahagiaan dari dirinya,' batin Dokter Rama.
"Cepat sembuh, ya! Agar kita bisa menikah secepatnya," kata Alva dengan jantung yang bergemuruh.
Dia merasa saat mengatakan perkataan ini terasa lebih berat dibandingkan dengan dahulu, saat dia pertama kali mengatakan akan menikahi Safira. Dahulu gadis itu selalu ketakutan kehilangan dirinya saat menyelidiki kasus perdagangan manusia. Untuk menyakinkan dan menenangkan dirinya, laki-laki itu berjanji akan menjaga diri karena ingin menikah dengannya.
Safira tercengang saat mendengar ucapan Alva barusan. Dia kembali memproses otak atas apa yang dia dengarkan barusan.
"Me–nikah? A–ku sama ka–mu?" tanya Safira.
"Iya, tentu saja. Apa kamu sudah tidak ingin menikah sama aku?" tanya Alva balik.
__ADS_1
***