Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 61. Kilasan Memori Marsha


__ADS_3

Bab 61


Marsha menundukkan kepala, dia tidak mau mengatakan sesuatu yang bisa memancing kemarahan ayahnya. Wanita itu tahu bagaimana watak laki-laki yang sudah membesarkan dirinya ini.


Barata yang melihat Marsha seperti itu akhirnya yang berbicara. Dia mengatakan kalau ibunya marah karena tidak diberi tahu kejadian yang sebenarnya atas apa yang terjadi dengan pernikahan Arga dan Marsha, dahulu.


"Ibuku hanya salah paham. Dia itu orang yang sudah tua dan punya pemikiran seperti itu. Padahal sudah kami jelaskan bagaimana kejadian itu bisa terjadi," kata Barata.


Mendengar cerita Barata tentu saja Bagas menjadi marah. Dia tidak terima putrinya disamakan dengan wanita tidak benar. Selama ini anak gadisnya itu bisa menjaga dirinya sampai kejadian itu.


"Seharusnya putramu 'lah yang harus disalahkan. Bukan putriku," ujar Bagas dengan kesal.


"Siapa yang sudah memberi tahu eyang kalau aku hamil anak Sakti?" tanya Marsha.


Kini kedua pria dewasa itu pun saling beradu pandang. Ya, Bagas ingin tahu kenapa Sari sampai bisa tahu kalau Alva itu anak Sakti.


"Aku tidak pernah memberi tahu kepada siapa pun," jawab Barata.


"Lalu, dari mana ibumu tahu kalau Marsha sudah hamil anaknya Sakti?" tanya Bagas heran.


"Buku catatan yang ditulis oleh Sakti," jawab ayahnya Arga.


Marsha dan Bagas terkejut karena Sakti meninggalkan jejak tulisan yang membongkar semua rahasia keluarga mereka. Sesuatu yang sudah ditutup rapat-rapat agar tidak ada orang lain yang tahu.


"Apa yang tertulis di dalam catatan itu?" tanya Bagas dengan sedikit emosi.


"Dia menuliskan semua perasaannya. Perasaan bersalah dan berdosa. Harapan agar bisa menebus kesalahannya itu dengan membahagiakan Marsha. Meski karena suatu kesalahan yang sudah mereka perbuat, Sakti merasa bahagia bisa menikah dengan Marsha. Karena dia sangat mencintai putrimu meski dengan cara diam-diam," jawab Barata dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Dada Marsha terasa berdenyut menahan sakit. Dia teringat ucapan Sakti saat terakhir mereka bertemu. Laki-laki itu berjanji akan membahagiakan dirinya dan menjadikan wanita paling beruntung di dunia. Mereka juga berjanji akan menjalani kehidupan rumah tangga yang baik saling mendukung dan berbagi semua perasaan.


Marsha merasa yakin kalau Sakti adalah seorang laki-laki yang baik dan akan menjadi suami yang baik baginya. Dia juga pemuda yang selalu berprilaku sopan kepada siapapun, sehingga banyak sekali orang yang menyukainya.


Marsha tidak menyangka kalau Sakti memiliki perasaan suka yang lebih terhadap dirinya. Karena tidak sedikit pun dia menunjukan rasa spesial itu jika mereka sedang berkumpul bersama.


"Lalu, apa di dalam catatan itu tertulis kejadian yang menimpa dirinya dengan Marsha?" tanya Bagas.


Selama ini dia menilai Sakti adalah pemuda yang baik. Namun, setelah tahu laki-laki itu yang menghamili Marsha, pandangan terhadapnya jadi berubah. Dia masih menduga kalau Sakti yang merencanakan semuanya.


"Tidak. Dia juga tidak ingat bagaimana kejadian malam itu. Bahkan dia menuliskan kalau ada orang yang sengaja ingin melakukan perbuatan buruk terhadap dirinya dan juga Marsha. Dia juga ingin mencari tahu siapa pelakunya. Hanya saja ada sedikit tulisan kalau dia merasa melakukan hal seperti itu di dalam mimpi," jawab Barata.


"Maksudnya?" tanya Bagas tidak mengerti.


"Sepertinya dia melakukan itu antara sadar tidak sadar. Mungkin dia mengira saat melakukan itu adalah mimpi di dalam tidurnya," jawab laki-laki paruh baya itu.


Saat pulang tiba-tiba motor milik Marsha mogok. Kebetulan ada Sakti di sana. Pemuda itu pun menitipkan kendaraan milik wanita itu ke asisten kepala desa karena sudah tidak ada bengkel yang buka di malam hari. Jadi, Sakti menawarkan untuk mengantar Marsha pulang.


Baru beberapa saat keluar dari gedung hujan turun dan Sakti mengencangkan laju motornya. Marsha yang terkejut otomatis memeluk tubuh pemuda itu. 


Tubuh Marsha tiba-tiba meremang sekaligus merinding, saat kilasan ingatan dia dan Sakti melakukan hal itu. Ya, dia yakin kalau ada orang yang mencampur obat perangsang ke dalam minuman malam itu. Entah minuman milik siapa karena gelas mereka berdua tertukar. 


'Tapi, kenapa aku dan Sakti bisa tidak ingat kejadian malam itu? Bahkan saat kita terbangun pun antara ingat tidak ingat. Apa ada hal lainnya yang menyebabkan kita lupa?' batin Marsha.


***


Sari kini berdiri di depan kamar Arga. Dia samar-samar mendengar suara cucu dan menantunya di dalam sana. Entah apa yang sedang dibicarakan oleh keduanya karena dia tidak bisa mendengar dengan jelas.

__ADS_1


"Ada apa, Eyang?" tanya Ayu begitu membuka pintu.


"Eyang mau bicara dengan Arga," jawab Sari.


Ayu yakin kalau mereka dibiarkan berbicara berdua nanti ujung-ujungnya akan beradu mulut. Wanita itu sering dibuat heran oleh tingkah mertuanya. Biasanya ibu dari suaminya ini tidak banyak mengatur dan mengomeli keluargnya. Namun, belakang ini sering sekali marah-marah dan beradu mulut.


"Sebaiknya nanti saja, Eyang. Saat ini mood Arga sedang tidak baik. Bagaimana kalau kita duduk di teras sambil menunggu kedatangan Alva," ajak Ayu sambil menggandeng tangan ibu mertuanya.


"Oh, iya. Kenapa Barata lama sekali? Jangan-jangan mereka tidak mengizinkan Alva untuk dibawa main ke sini!" Sari menduga-duga.


"Eyang jangan su'udzon begitu kepada orang lain. Selama ini Marsha dan keluarganya tidak pernah melarang Alva dibawa main atau menginap di sini," tukas Ayu membantah tuduhan itu.


Dewi pun ikut duduk di teras depan rumah. Dia hanya diam sambil memijat bahu Sari, sambil mendengarkan pembicaraan menantu dan mertua.


"Mau ke mana lagi kamu, Arga?" tanya Sari saat melihat Arga sudah rapi dan berjalan ke luar dari rumah.


"Arga mau pergi jalan-jalan dengan Alva. Eyang sama ibu apa mau ikut?" Arga balik bertanya.


"Eyang nggak mau ikut, ajak saja Dewi. Kasihan dia berdiam diri terus di rumah. Sesekali ajak dia melihat-lihat tempat wisata di sini," jawab Sari.


Betapa bahagianya Dewi saat Sari menyuruh Arga mengajaknya pergi jalan-jalan. Senyum simpul pun menghiasi wajahnya saat beradu tatap dengan Arga.


Arga melirik ke arah Dewi. Dia hanya memberikan kode agar segera naik ke mobil. Dia tidak mau berdebat panjang lagi dengan neneknya.


***


Apakah Marsha akan pergi jalan-jalan dengan Arga? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1



__ADS_2