
Bab 41
Arga membelikan jajanan rujak kesukaan Marsha. Dulu saat masih hamil, wanita itu ingin makan rujak, sehingga membuat mereka berkeliling kota dan tidak menemukan rujak yang cocok di lidah mereka. Akhirnya, Marsha membuat sendiri. Mengenang masa-masa bersama saat itu membuat Arga merasa rindu dan ingin mengulang kembali kedekatan mereka.
"Kamu ingat saat ingin makan rujak, dulu. Nih, sekarang mumpung ada! Ini rujak kesukaan kamu, 'kan?" Arga hendak menyuapi wanita itu.
Marsha hanya menatap Arga dengan sinis lalu memalingkan muka. Dia tidak suka dengan segala perhatian yang diberikan oleh Arga saat ini. Wanita itu berpikir, kenapa tidak dari dulu peduli kepadanya. Setelah sekian banyak luka yang diberikan baru sekarang laki-laki itu mau memberikan perhatian kepadanya.
"Marsha …."
"Alva, sudah sore. Ayo, kita pulang, Sayang!"
Marsha mengabaikan panggilan Arga. Dia malah berdiri lalu menghampiri anaknya. Meski berjalan masih menggunakan kruk, tetapi wanita itu sudah bisa berjalan tegak.
Hati Arga merasa sakit karena sudah diabaikan oleh Marsha. Lalu, dia pun ikut berjalan menghampiri bocah yang sedang main mancing di kolam mainan berisi ikan mainan.
'Seperti inikah sakitnya ketika kita diabaikan? Sungguh sangat sakit sekali,' batin Arga.
Saat Arga hendak menggandeng tangan Marsha, lagi-lagi wanita itu menghentakkan sampai tangan itu terlepas. Dia tidak mau disentuh oleh laki-laki yang masih menjadi suaminya saat ini.
Arga hanya bisa menarik napas dan membuangnya lewat mulut. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini agar bisa mendapatkan maaf dari Marsha. Laki-laki itu membantu membuka pintu mobil. Setelah posisi istri dan anaknya nyaman, dia pun memasangkan sabuk pengaman pada Marsha.
Jika tadi Alva memukulkan mobil ke kepala Arga dan Marsha, kini bocah itu mencium pipi ayah dan bundanya bergantian. Senyum jahilnya mirip sekali dengan Sakti saat menjahili kakaknya.
__ADS_1
Arga pun membalas mencium pipi Alva dan pucuk kepalanya. Bocah itu kembali tertawa sambil menyentuh pipi ayahnya.
Tanpa diduga Arga pun mencium kepala Marsha. Tentu saja mereka berdua terkejut. Netra keduanya membulat, lalu saling beradu pandang.
"Maaf. Aku tahu kamu tidak suka aku sentuh, tetapi aku punya hak untuk menyentuhmu, karena aku ini adalah suami kamu," ucap Arga.
Sebenarnya dia tadi berniat mencium kepala Alva kembali. Mungkin isi kepala dia terlalu dipenuhi oleh Marsha, jadi bibir itu nyosornya ke kepala Marsha.
"Suami?" Marsha tersenyum miring dengan tatapan mengejek.
Baru pertama kali Arga melihat Marsha seperti ini. Sungguh dia langsung merasa tidak enak hati.
"Sepertinya status itu akan segera berakhir. Aku sudah mengirimkan gugatan perceraian ke kantor pengadilan agama. Tunggu saja surat panggilan untuk sidang," lanjut Marsha masih menatap Arga.
"Kenapa? Aku tidak mau bercerai! Sampai kapan pun kita akan tetap menjadi suami istri." Arga berbicara setelah bisa menguasai hatinya.
"Kenapa? Kamu tanya kenapa sama aku? Seharusnya kamu tanya pada dirimu sendiri. Kenapa kamu harus menikahi aku yang bukan menjadi tanggung jawab kamu? Bahkan kamu sudah punya kekasih, yang sangat ingin kamu dinikahi. Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku karena sudah melayangkan surat gugatan cerai ke pengadilan agama. Kamu tidak perlu repot-repot. Setelah kita bercerai kamu bebas untuk menikahi wanita itu," balas Marsha dengan mendesis.
Kedua orang dewasa ini lupa kalau di antara mereka itu ada Alva. Bocah cerdas yang bisa dengan mudah memahami sesuatu. Meski dia tidak tahu apa yang sedang diributkan oleh kedua orang tuanya, tetapi dia tahu kalau ayah dan ibunya sedang bertengkar. Merasa tidak suka dengan keadaan itu, sang anak langsung menangis keras.
"Astaghfirullahal'adzim. Sayang, maafkan bunda. Bunda tidak marah sama kamu," kata Marsha sambil memeluk tubuh Alva dan mengusap-usap kepalanya.
Arga tidak bisa berkata apa-apa untuk saat ini. Dia tidak mau bertengkar di depan anaknya. Laki-laki itu takut akan menimbulkan masalah baru bagi Alva di masa depannya.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun pulang ke rumah Bagas sebelum adzan Magrib berkumandang. Dia melihat Alva yang tertidur di pangkuan Marsha. Padahal bocah itu baru bangun saat Ashar tadi, mungkin karena kelelahan ditambah menangis, makanya dia dengan cepat jatuh tertidur.
"Sini aku bawa Alva ke dalam," ucap Arga.
Marsha tidak membantah karena saat ini dia belum kuat menggendong Alva dan membawanya naik ke lantai dua. Kepulangan mereka di sambut oleh Indah dan Bagas. Arga dan Marsha hanya tersenyum tipis kepada mereka.
Setelah sekian lama, akhirnya Arga memasuki kembali kamar Marsha. Dia membaringkan Alva di atas kasur dengan hati-hati.
"Terima kasih," balas Marsha setelah Arga menyelimuti tubuh Alva.
"Aku melakukan semua ini ikhlas karena dia adalah anakku," tukas Arga.
"Lebih tepatnya keponakan," sanggah Marsha dan Arga menatap kesal kepadanya.
"Mumpung Alva sedang tidur, ayo, kita bahas masa depan rumah tangga kita!" Arga menarik lembut tubuh Marsha dan berjalan ke balkon.
***
Apakah akan ditemukan titik perdamaian antara Arga dan Marsha? ikuti terus kisah mereka, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk, baca karya teman aku ini.
__ADS_1