Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 64. Ingin Mengungkap Kebenaran


__ADS_3

Bab 64


Hati Marsha kali ini merasa berat melepaskan Arga yang akan pergi ke ibu kota. Ada perasaan sedih, padahal dia tahu hari Sabtu nanti akan bertemu lagi, seperti biasanya.


"Kenapa memasang wajah muram seperti itu? Aku jadi tidak ingin pergi kalau keadaanmu sedang dalam keadaan tidak baik seperti ini," ucap Arga dengan menatap sendu kepada Marsha.


Tangan laki-laki itu mengusap kepala yang dibalut jilbab pashmina berwarna biru muda. Rasanya dia ingin memeluk tubuh sang pujaan hati meski sejenak.


"Kakak harus bisa jaga diri selama di sana," ucap Marsha dengan mata berkaca-kaca.


Mungkin saat ini Marsha sedang datang bulan jadi perasaannya sensitif. Dia takut terjadi sesuatu kepada Arga saat jauh dari dirinya. Kalau bisa dia ingin egois untuk satu hari ini saja. Meminta Arga mengambil cuti sehari lagi.


"Insha Allah, aku akan menjaga diri agar tidak berlaku buruk dan tidak berbuat sesuatu yang sembrono," balas Arga dengan seulas senyum.


Ada perasaan senang, bahagia, dan gembira saat Marsha mendapatkan perhatian seperti ini dari wanita yang dia cintai. Jika sang pujaan hati sedang tidak menggendong Alva, dia akan memeluknya. Terserah nanti dimarahi atau diomeli. 


"Jangan main peluk-peluk! Kita bukan mahram," ucap Marsha saat melihat sorot mata Arga yang ingin memeluknya.


"Iya. Aku akan bersabar sampai kita menikah lagi nanti," tukas Arga dengan malu-malu.


Bagas dan Indah yang sudah masuk ke rumah, kini kembali keluar. Laki-laki paruh baya itu mengerutkan alisnya karena Arga masih saja berbicara dengan putrinya.


"Hei, sampai kapan mau berdiri terus di sana. Memangnya kamu tidak jadi pergi?" tanya Bagas.


Indah menepuk bahu suaminya. Dia tahu kalau kedua orang itu sedang membicarakan sesuatu yang penting. Arga kembali lagi ke sini sebelum dia berangkat karena Marsha mau bicara sesuatu.


"Ini sudah mau Magrib, dia akan sampai tengah malam. Apa tidak takut ada begal di jalan," gerutu Bagas sambil masuk lagi ke rumah.


"Hus, bicara itu asal jangan jeplak. Ingat omongan orang tua itu bisa jadi dia," ujar Indah sambil mengikuti langkah suaminya.


Marsha yang mendengar ucapan ayah dan ibunya menjadi semakin tidak rela membiarkan Arga pergi. Rasanya dia ingin menawannya di rumah saja.

__ADS_1


"Jika kamu tidak rela aku pergi sekarang, maka aku akan berangkat subuh saja," ucap Arga sambil mengedipkan sebelah matanya.


Perasaan senang menyelimuti hati Marsha saat ini. Senyum cantiknya langsung menghiasi wajah itu.


"Malam ini menginap saja di sini. Kakak bisa tidur di kamar tamu," kata Marsha.


Setelah sholat isya Marsha mengajak berkumpul orang tuanya dan juga Arga. Hanya ada mereka berempat di ruang keluarga.


"Ada apa?" tanya Bagas sambil melihat ke arah Marsha.


"Sebenarnya ada sesuatu yang penting yang ingin aku ceritakan kepada kalian semua. Ini mengenai aku dan Sakti saat kejadian malam itu," jawab Marsha sambil melihat satu persatu orang di sana.


Arga sedikit terperanjat karena kaget. Dia tidak menyangka sesuatu yang penting itu ada hubungannya dengan sang adik.


"Memangnya ada kejadian apa lagi?" tanya Bagas penasaran.


Marsha memainkan ujung jilbab instan yang sedang dia pakai. Ada perasaan gugup dan malu yang menguasai hatinya. Namun, dia harus memberi tahu hal ini kepada mereka.


Dada Arga langsung bergemuruh. Pikiran dia langsung tertuju kepada sang wanita. Laki-laki itu menduga ada yang ingin menjebak Marsha.


"Maksudnya bagaimana, Marsha?" tanya Indah dengan mata berkaca-kaca.


"Ada orang yang ingin berbuat jahat entah kepada aku atau kepada Sakti. Aku tidak tahu pasti. Sebenarnya malam itu minuman kami tertukar. Aku menghabiskan setengah gelas jus milik Sakti. Begitu juga sebaliknya, dia meminum jus punya aku. Jadi, target sesungguhnya siapa itu aku tidak tahu," jawab Marsha jujur.


Arga mengepalkan kedua tangannya. Dia marah kepada orang yang sudah tega punya niat buruk ini. Entah siapa yang menjadi target sebenarnya. Namun, hati di berkata kalau pelaku menargetkan Marsha.


"Apa salah satu minuman itu sudah dicampur dengan sesuatu?" tanya Arga dengan muka yang tegang.


Marsha mengangguk. Dia malu mengatakan kalau malam itu dia dan Sakti sama-sama dalam keadaan bergairah. Ingatannya masih samar-samar, tapi dia yakin akan perasaan seperti itu.


Arga ingin melampiaskan kemarahannya dengan memukul meja yang ada di depannya. Namun, dia tidak berani melakukan hal itu di depan Marsha dan kedua orang tuanya. Nanti, mereka berpikiran kalau dirinya seorang yang temperamental.

__ADS_1


"Aku akan cari tahu siapa orang yang sudah melakukan kejahatan itu kepada kalian," lanjut Arga sambil menggenggam tangan Marsha sejak.


Marsha senang karena Arga paham maksud dirinya tanpa banyak bicara. Dia juga sangat ingin tahu siapa pelaku itu dan apa motifnya melakukan hal ini.


"Apa di dalam buku catatan peninggalan Sakti tidak ada tulisan mengenai kejadian malam itu?" tanya Indah yang masih melihat ke arah Arga.


Arga mencoba untuk mengingat-ingat lagi apa saja yang tertulis di dalam buku itu. Seingatnya Sakti menuliskan keterkejutan dirinya kalau kejadian malam itu membuat Marsha hamil. Dia juga mengaku tidak ingat apa pun saat melakukan hal itu. Hanya saja saat mereka tersadar, kondisi tubuh keduanya dalam keadaan tanpa busana.


"Hanya ada tulisan dia dan Marsha terbangun di dalam lumbung padi milik ayah Bagas dan dalam keadaan tidak memakai baju," jawab Arga frontal.


Muka Marsha merah padam karena dia mengingat saat keduanya terbangun dalam keadaan saling berpelukan tanpa ada penutup kain. Betapa marah, kecewa, dan malunya dia saat itu. Bahkan dirinya menuding kalau Sakti sengaja menodai dirinya. Namun, pemuda itu bersumpah dengan nama Allah, kalau dirinya sendiri juga tidak ingat melakukan hal ini semalam. 


Marsha percaya kepadanya, selama ini Sakti dikenal sebagai laki-laki baik dan sopan. Juga selalu menjaga dirinya dari menggoda atau mendekati para gadis di kampung.


"Apa Sakti mempunyai musuh atau orang yang tidak suka kepadanya? Mungkin saja dia pernah menulis seseorang yang pernah berseteru dengannya," tanya Bagas lagi.


Arga kembali mengingat-ingat siapa saja nama yang tertulis di buku itu. Hanya ada dua nama yang disebutkan di sana. Yaitu, Sakti dan Marsha.


"Tidak ada. Lagian Sakti itu baru saja kembali pulang kampung jadi interaksi dia pastinya masih dengan orang-orang di sekitar–" ucapan Arga terhenti.


Marsha dan kedua orang tuanya memperhatikan Arga yang tiba-tiba saja menghentikan ucapannya. Mereka menduga pasti ada sesuatu yang dipikirkan oleh laki-laki itu.


"Aku rasa orang yang melakukan hal itu adalah salah seorang yang dekat dekat Marsha atau Sakti," lanjut Arga.


Marsha tersentak dan membenarkan kemungkinan besar pelaku adalah orang yang dikenal olehnya dan Sakti. Siapa orang itu, belum ada nama yang terlintas di dalam benaknya.


***


Siapa orang yang berani berbuat jahat itu? Apa motifnya melakukan itu? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_1


__ADS_2