Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 80. Malam Pertama (1)


__ADS_3

Bab 80


Air mata Dewi tidak bisa berhenti keluar dari netranya yang memiliki kornea berwarna coklat kehitaman. Hatinya sangat sakit saat mendengar ucapan ijab qobul antara Bagas dengan Arga. Lagi-lagi kesedihan menyelimuti dirinya, seakan kebahagiaan enggan menghampiri dirinya semenjak kematian kedua orang tuanya.


Sari yang melihat itu lantas memeluknya dan berkata, "Yang sabar ... ikhlas. Yakin nanti akan ada jodoh yang terbaik untukmu lebih baik dari Arga."


Dewi hanya bisa mengangguk sambil menghapus air matanya. Meski mendapatkan kata-kata penghibur dari Sari, perasaan gadis itu masih terasa sangat sakit. Cinta pertamanya tidak kesampaian.


Marsha yang melihat Dewi juga merasa iba. Sebagai sesama perempuan pastinya dia juga bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh gadis itu.


'Wi, yakinlah akan ada seseorang yang lebih baik dari Arga yang sudah Allah ciptakan untukmu, Insha Allah. Kamu adalah wanita baik-baik dan terhormat, maka jodohmu pun tidak akan jauh dari laki-laki terhormat,' batin Marsha.


Hanya Marsha yang tahu bagaimana kelakuan Arga di ibu kota. Suka tidur dengan wanita yang bukan merupakan istrinya. Bahkan dia dulu sempat memandang hina sang lelaki ketika bersama wanita-wanita itu. Ya, meski perempuan itu tahu kalau para wanita nakal itu yang melemparkan dirinya sendiri.


Arga yang pernah jatuh dalam gelimang dosa zina. Lalu, Marsha yang pernah berbuat zina meski tanpa dia sadari. Menurut wanita itu, mereka benar-benar berjodoh. Dengan bertaubat bersama-sama agar selalu berada di jalan Allah yang lurus. Saling mengingatkan, berjuang bersama untuk menjemput pahala di jalan yang diridhoi oleh-Nya. Dia yakin mereka akan bisa membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah. Tidak akan ada yang saling merendahkan akan kehidupan masa lalu mereka karena dosa yang pernah dilakukan.


Arga membacakan doa untuk Marsha dan di-aamiin-kan oleh wanita itu. Bahkan Alva yang berdiri di samping keduanya pun mengucapkan kata "Aamiin" dengan nyaring dan membuat semua orang yang ada di sana tertawa.


"Ih, gemesnya. Anak siapa ini?" Arga langsung menggendong Alva dan menciumi pucuk kepalanya.


"Anaknya Ayah Sakti ... Ayah Arga ... dan Bunda Marsha," balas Alva sambil mengacungkan jari-jarinya.


Air mata bahagia Marsha menetes. Wanita itu tersenyum bahagia karena putranya. Arga langsung mengusap cairan bening di pipi sang pujaan hati dengan lembut.


"Kenapa?" tanya Arga pelan.

__ADS_1


"Aku bahagia. Akhirnya kita bisa berkumpul bersama dalam satu keluarga," jawab Marsha.


Mendengar ucapan Marsha barusan membuat Arga terharu. Sekarang ini merupakan salah satu hari terbaik di dalam hidupnya. Laki-laki itu tentu saja berharap kehidupan rumah tangga mereka akan diisi dengan kebahagiaan.


"Aku juga sangat bahagia," ucap Arga sambil tersenyum manis.


Saat semua orang menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh Ayu, datang keluarga Gunawan. Mereka ingin menemui keluarga Marsha dan Barata.


"Kami meminta maaf atas kejahatan yang sudah dilakukan oleh Kak Gunawan. Sungguh kami sangat malu akan kelakuan dia. Kenapa Kak Gunawan tega berbuat jahat kepada orang yang selalu menolong keluarganya," kata salah satu adik Gunawan sambil menangis.


Marsha sudah memaafkan perbuatan Gunawan, tetapi hukum akan tetap dilanjutkan. Begitu juga dengan Barata dan Ayu, meski masih sakit hati, keduanya sudah mengikhlaskan. Sungguh sangat kecewa sekali sebenarnya saat tahu kalau pemuda yang sudah dianggap keluarga itu berbuat jahat terhadap putra bungsu mereka.


"Kami sekeluarga ikhlas Kak Gunawan diberi hukuman. Semoga hubungan keluarga kita tetap bisa terjalin dengan baik," ucap adiknya Gunawan lagi.


Arga terdiam dan teringat akan ucapan Marsha dahulu. Kalau apa yang sudah terjadi kepada dirinya dan Sakti, pasti Allah memang sudah menakdirkan seperti itu. Dia hanya bisa pasrah dengan takdir yang dia dapat, hanya bertaubat dan berusaha menjadi hamba yang lebih baik lagi.


"Kenapa Allah menakdirkan aku menikah dengan Kak Arga? Mungkin saja melalui aku hidayah dan taufiq untuk Kak Arga bisa datang," kata Marsha sambil tertawa. Lagi-lagi Arga membenarkan ucapan wanita itu. Dia mendapatkan teguran dan nasehat dari wanita itu setiap hari. Doa-doa terbaik untuk dirinya juga sering keluar dari mulut sang istri kala itu.


"Di setiap kejadian yang menimpa diri kita, pasti akan ada hikmahnya. Jika kita sadar dan yakin kalau Allah itu Maha Penyayang dan Maha Adil," ucap Marsha saat Arga menangisi perbuatannya, dahulu.


"Jangan bilang kalau Allah itu kejam, Kak. Seharusnya Kak Arga introspeksi diri atas semua perbuatan Kakak itu. Banyak berbuat dosa, tapi ingin hidup enak dan bahagia. Kalau begitu akan banyak orang memilik berbuat buruk!" kata-kata Marsha ini masih terngiang-ngiang di dalam otaknya Arga. Inilah awal dia bertaubat meski dia kembali sesat saat Valerie sadar dari komanya.


'Ya Allah, jangan sampai aku tersesat kembali. Alhamdulillah, Engkau sudah menjadikan Marsha sebagai istriku kembali,' batin Arga.


Marsha menatap Arga sambil mengerutkan kening. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya ini.

__ADS_1


'Apa Kak Arga sedang memikirkan malam pertama kita nanti, ya? Serius sekali ekspresi wajahnya,' batin Marsha.


***


Jika malam pertama pernikahan dahulu Arga dan Marsha mengisinya dengan membicarakan surat perjanjian, berbeda dengan malam pertama pernikahan mereka kali ini. Setelah berjamaah sholat Isya, laki-laki itu bersemangat sekali akan menjalankan malam penting atau bersejarah dalam hidupnya.


"Sayang," panggil Arga begitu membuka pintu kamar tidur Marsha.


Marsha yang sedang bermain dengan Alva di atas kasur pengantin tersenyum manis menyambut kepulangan suaminya dari masjid. Putra mereka juga melompat-lompat kegirangan saat melihat ayahnya. Tadi bocah itu ingin ikut, tapi ingin buang air besar dahulu, jadi ditinggal.


"Hore! Ayah sudah pulang. Sini ... sini! Ayah duduk di dekat Alva," ucap Alva yang kini sudah fasih kata-katanya.


Tatap Arga sangat memelas ketika bersirobok dengan Marsha. Wanita itu malah tertawa terkekeh melihat ekspresi suaminya. Dia tahu apa yang diinginkan oleh sang lelaki.


"Buat Alva tidur dahulu," ucap Marsha tanpa suara, hanya menggerakkan mulutnya saja.


"Ayo, kita tidur!" ajak Arga dengan senyumnya yang lebar.


"Kok, tidur. Tidak mau, Alva ingin bermain bersama Ayah dan Bunda," kata Alva menolak ajakan Arga.


Mata Arga dan Marsha terbelalak mendengar ucapan Alva. Lalu, keduanya saling melirik.


"Malam pertama kita jadi, nggak?" Itu kata yang tersirat dari sepasang pengantin baru.


***

__ADS_1


Malam pertama Arga dan Marsha akankah berjalan lancar atau gagal? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_2