Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 36. Penyesalan Arga


__ADS_3

Bab 36


Arga berjalan dengan langkah lebar dan mulutnya bersenandung dengan lirih. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan istri dan anaknya. Sengaja dia membeli soto betawi saat dalam perjalanan ke rumah sakit.


Dengan senyum terpasang di wajah, Arga membuka pintu ruang rawat Marsha selama ini. Dia tidak menemukan siapa pun di ruangan itu. Dengan langkah tergesa-gesa dia membuka pintu kamar mandi. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. 


Arga berlari ke area teman rumah sakit. Siapa tahu anak dan istrinya sedang bermain di sana. Akan tetapi, lagi-lagi sosok mereka berdua tidak bisa dia temukan.


"Ya Allah, ke mana istri dan anakku?" 


Arga berlari ke sana ke mari mencari kedua orang itu. Matanya terus dia edarkan mencari Marsha dan Alva. Lalu, dia pun memutuskan untuk bertanya kepada para perawat yang sedang berjaga.


"Maaf, Sus. Aku mau tanya, pasien di kamar rawat Jasmine 501 saat ini sedang berada di mana?" tanya Arga kepada dua orang perempuan berseragam perawat.


Salah seorang dari mereka membuka daftar pasien melalui komputer. Terlihat dia mengklik beberapa kali.


"Pasien atas nama Nyonya Marshanda, Pak?" tanya perawat itu dengan ramah.


"Iya, benar," jawab Arga.


"Nyonya Marshanda sudah pulang sejak tiga jam lalu," ucap perawat itu.


Terasa tertimpa batu yang beratnya berton-ton, kini yang dirasakan oleh Arga. Dia tidak percaya kalau sang istri sudah pulang dan tidak memberi tahu hal seperti itu kepada dirinya. Padahal tadi sebelum pergi ke kantor, laki-laki itu mendatanginya.


Langkah Arga terasa berat. Dia pun perlahan berjalan menuju parkiran. Laki-laki itu berharap kalau Marsha dan Alva sedang bersama di apartemen. 


"Semoga saja dia tidak pulang ke kampung," gumam Arga sambil masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


***


Arga melajukan mobilnya dengan kencang agar segera sampai ke apartemen. Dia hanya tersenyum singkat kepada orang-orang yang berpapasan dengan dirinya.


Naik lift pun terasa sangat lama. Arga merasa sudah tidak sabar ingin masuk ke kamar. Laki-laki itu ingin memastikan kalau Marsha masih akan berada di sisinya.


"Assalamualaikum."


"Masha … Alva!" 


Arga memeriksa kamar tidur satu persatu yang ada di apartemennya. Namun, tidak ada sahutan dari orang lain. Dada dia bergemuruh dan kepala mendadak pusing.


"Marsha! Alva!" Lagi-lagi Arga masih memanggil nama-nama orang terkasih.


Hanya ada keheningan di apartemen itu. Tidak ada istri atau anak di sana. Dia pun merutuki kebodohannya karena selalu lamban jika mengurus Marsha.


Arga bukanlah seorang yang mudah menyerah atau pesimis. Dia adalah seorang yang selalu optimis dan memiliki percaya diri yang tinggi juga tidak pernah mudah untuk menyerah.


Laki-laki yang sudah berusia berkepala tiga itu langsung menghubungi kedua orang tuanya. Dia tahu kalau Marsha tidak memegang handphone untuk saat ini. Hal ini karena benda pipih miliknya itu selalu dibawa oleh ayah mertua.


"Assalamualaikum, Bu. Apa ibu tahu kalau Marsha pulang dari rumah sakit hari ini?" tanya Arga langsung kepada pokok tujuan dia menghubungi ibunya.


"Wa'alaikumsalam. Iya, Marsha pulang hari ini. Sekarang juga ibu sedang mempersiapkan acara syukuran karena Marsha sudah sembuh dari komanya," jawab Ayu dari seberang sana.


Arga menjambak rambut sendiri. Dia marah kepada dirinya. Padahal selama ini dia menunggui Marsha di rumah sakit. Namun hal penting seperti ini tidak tahu.


'Kenapa mereka tidak memberi tahu aku? Apa mereka sengaja melakukan hal ini kepadaku?' batin Arga.

__ADS_1


Saat melakukan pengecekan kesehatan Marsha ke laboratorium, laki-laki itu pun selalu ikut serta. Mereka selalu mengatakan sesuatu hal yang baik akan kesehatannya dan tidak pernah menyinggung kapan boleh pulang.


"Kapan acara kesyukuran itu akan dimulai?" tanya laki-laki yang kini berwajah sayu kepada orang di seberang sana.


"Sekitar dua jam lagi, kayaknya," jawab Ayu.


Mata Arga terbelalak, karena jarak ibu kota ke kampung halaman itu sekitar tiga jam. Mau bagaimana lagi sekarang dia, karena tidak ada waktu lagi.


"Bu, bisa tidak acara syukuran itu diadakan setelah magrib saja," ucap Arga dengan nada memohon.


"Mana bisa begitu! Semua orang di desa punya kesibukan masing-masing. Jika selepas magrib mereka lebih suka menghabiskan waktu di masjid. Lagian sudah disebar undangan tadi dan waktunya setelah Ashar," kata Ayu menolak permintaan sang anak.


"Ya, siapa tahu bisa. Karena aku juga ingin ikut acara itu," balas Arga sambil tertawa kecil.


Setelah menghubungi ibunya, Arga pun memutuskan pergi ke kampung halaman. Jika perjalanan lancar dan mengebut mungkin masih bisa keburu.


Manusia hanya bisa berencana, tetapi Allah 'lah yang menentukan. Keinginan agar bisa cepat sampai ke kampung, Arga malah terjebak macet saat baru seperempat jalan. Dia tidak bisa melajukan mobil karena terjadi kemacetan total. Sementara itu, posisi mobil berada di tengah-tengah. Tidak akan bisa berbalik arah.


"Kenapa saat genting begini malah terjadi kecelakaan?" gumam Arga sambil mengetuk-ngetukkan jaringannya.


"Ya Allah, semoga aku bisa datang tepat waktu," upacara Arga dengan lirih.


Ternyata kejadian itu merupakan kecelakaan sebuah truk membawa banyak sekali muatan. Kendaraan itu membawa ratusan peti kayu buah. Saat akan belok malah oleng dan akhirnya terguling ke tengah badan jalan. Semua isinya tumpah sampai mengakibatkan kemacetan total karena berada di perempatan jalan.


***


Apakah Arga akan sampai tujuan dengan tepat waktu. Apa yang akan mereka lakukan setelah ini? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1


__ADS_2