Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 88.


__ADS_3

Bab 88


Marsha tersenyum manis saat Alva berlari ke arahnya setelah bel pulang sekolah berbunyi. Hari ini mereka akan belajar ke supermarket karena sang buah hati ingin makan dengan ayam crispy buatan ibunya.


"Tante, boleh tidak aku ikut?" tanya Safira sambil menarik tangan Marsha.


Istri Arga itu bingung harus jawab apa. Mana mungkin dia membawa anak orang secara sembarangan diajak jalan-jalan berbelanja tanpa izin orang tuanya.


"Mbak pengasuh ke mana?" tanya Marsha dengan lembut.


"Mbaknya sedang cuti. Katanya mau tunangan sama kekasihnya. Jadi, dia pulang dulu," jawab Safira.


"Lalu, papa kamu belum jemput?" tanya Marsha saat menyadari kalau dokter itu belum datang di sana.


"Belum," jawab Safira.


Marsha tidak bisa menghubungi Dokter Rama karena dia tidak memiliki nomor telepon laki-laki itu. Maka satu-satunya cara adalah menghubungi guru wali kelas.


Setelah mendapatkan nomor kontak Dokter Rama, Marsha pun menghubunginya. Setelah tiga kali menghubungi, tetapi tidak diangkat juga, maka dia pun mengirim pesan.


Assalamualaikum. Pak Dokter, ini dengan Marsha, bundanya Alva. Mau minta izin Safira ingin ikut pergi dengan saya belanja ke supermarket. Nanti Anda bisa menjemput ke apartemen kami. Alamatnya akan saya sharelok.


Sebenarnya Marsha merasa tidak enak membawa Safira sebelum mendapat izin dari papanya. Namun, dia tidak bisa menunggu jawaban dari Dokter Rama. Pastinya belanja dan memasak akan memakan banyak waktu. Dia tidak mau kalau pas suaminya pulang, makanan belum masak.


Safira sangat manja kepada Marsha. Bahkan dia pun memanggil dengan sebutan "Bunda" seperti Alva. Meski bocah laki-laki itu kesal dan melarang melakukan panggilan itu, si gadis kecil tetap saja pada pendiriannya.


"Bunda, aku juga mau makan cumi atau udang," ucap Safira.


"Jangan masak itu!" teriak Alva.


 Bocah laki-laki itu tidak suka dengan makanan dari olahan seafood. Lebih tepatnya dia alergi sama seperti Arga. 


"Enak, tahu!" balas Safira tidak kalah nyaring.


Marsha mencoba menenangkan kedua anak kecil itu. Namanya juga bocah-bocah yang selalu ingin dituruti keinginannya, mereka sama-sama keras kepala dan bersikukuh dengan kemauan masing-masing.

__ADS_1


Entah kenapa Alva tidak mau mengalah kepada Safira. Biasanya dia akan menghindari pertengkaran dengan teman-temannya. Bocah itu juga biasanya sering mendamaikan temannya yang sedang bertengkar atau berebut sesuatu. Karena merasa pusing maka Marsha membelikan mereka es krim. Setelah itu keduanya terdiam menikmati makanan itu.


Marsha membiarkan Alva dan Safira bermain di ruang keluarga. Sementara dirinya memasak makanan pesanan Alva dan Safira yang akhirnya sama-sama ingin makan ayam crispy.


"Assalamualaikum. Sayang … Alva!" panggil Arga begitu masuk rumah.


Laki-laki itu melihat putranya tertidur sambil memegang krayon. Dia sepertinya sedang menggambar tadi. Mata Arga memicing saat melihat ada bocah perempuan yang juga tertidur di samping Alva. Gadis kecil itu pun sepertinya tertidur saat menggambar.


"Sayang, itu anak siapa?" tanya Arga setelah mencium mesra sang istri.


"Dia itu Safira, temannya Alva," jawab Marsha.


Arga tidak banyak bertanya lagi. Dia malah asyik menikmati momen berdua dengan sang istri selagi anaknya sedang tidur.


"Apa kita bangunkan Alva dan Safira?" tanya Arga sambil membantu meletakan piring di meja makan.


"Sebaiknya biarkan saja dulu. Takut mereka baru tidur, nanti malah pada menangis karena tidurnya diganggu," jawab Marsha.


Kedua bocah itu tidur sangat lelap. Bahkan, ketika digotong ke kasur lantai pun mereka masih tidur.


Pesan dari Dokter Rama baru masuk setelah dua setengah jam sejak Marsha mengirim pesan. Katanya tadi dia sedang ada operasi mendadak. 


Selang 30 menit bel pintu berbunyi dan Marsha melihat siapa orang yang sudah menekan bel. Ternyata itu adalah Dokter Rama.


"Assalamualaikum, Bu Marsha. Maaf sudah merepotkan," kata Dokter Rama dengan kikuk.


"Wa'alaikumsalam. Tidak merepotkan sama sekali, kok, Pak Dokter. Mereka sedang tidur karena kelelahan bermain," balas Marsha.


Dokter Rama pun menggendong Safira yang tidur di samping Alva. Dia merasa senang kalau anaknya bisa bergaul dengan baik kepada siapapun.


"Apa anak saya rewel atau nakal, Bu?" tanya Dokter Rama sambil mengambil tas milik Safira.


"Tidak. Paling mereka hanya berdebat tentang apa yang mereka sukai dan tidak disukai. Maklum namanya juga anak-anak," jawab wanita berjilbab instan itu sambil tersenyum tipis.


"Kadang Fira itu suka keras kepala dan tidak mau mendengarkan perkataan orang lain. Maklum sejak bayi, dia tidak mengenal sosok seorang ibu," tukas Dokter Rama dengan sendu.

__ADS_1


"Insha Allah, Safira akan menjadi anak yang baik dan bisa membanggakan orang tuanya," pungkas Marsha.


"Aamiin," ucap Dokter Rama sambil tersenyum lebar.


***


Arga menemani Pandu ke kantor pengacaranya. Rupanya Marini semakin berulah minta ini itu. Karena kesal tidak dituruti kemauannya, maka dia pun melaporkan Pandu ke polisi. 


Sebenarnya ini pelaporan salah alamat. Dengan menjadikan laki-laki itu sebagai tersangka sedangkan koki, pelayan, manajer restoran tidak ada satupun yang dilaporkan oleh Marini.


"Padahal semua biaya pengobatan sudah aku bayar. Dia bersikukuh tetap ingin minta uang ganti rugi bulanan selama sisa hidup suaminya," kata Pandu dengan nada kesal.


"Orang seperti itu memang jangan dikasih hati," lanjut Pandu yang sejak tadi terus mengomel.


Arga hanya diam mendengarkan ocehan sahabatnya. Sejak tahu ada masalah dengan kesuburan dirinya, laki-laki itu sering terdiam dan melamun. Perasaannya belum bisa menerima kenyataan ini.


'Ya Allah, apa Engkau berikan semua ini kepadaku karena dosa-dosa aku di masa lalu? Sesungguhnya aku benar-benar bertaubat kepada-Mu. Semoga saja ini hanya ujian bukan teguran,' batin Arga.


"Eh, bukannya itu Putri? Lalu, siapa perempuan yang memakai masker sambil menjinjing keranjang itu?" Pandu memelankan laju mobilnya.


Arga pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Pandu. Dia bisa langsung mengenali kalau perempuan bermasker itu adalah Ratu.


"Dia itu Ratu," ucap Arga.


"Apa? Lalu, kenapa Putri tega melakukan perbuatan itu kepada saudaranya?" tanya Pandu penasaran.


"Kan sudah aku bilang sepertinya ada masalah di hubungan keluarga mereka," jawab Arga dengan malas.


"Aku jadi penasaran. Akan aku suruh orang lain untuk menyelidiki hal ini," kata Pandu.


"Hah! Apa kamu bilang?" Arga sangat terkejut dengan tindakan yang akan dilakukan oleh sahabatnya.


***


Bulan madu kayaknya ke pending dulu. Alur agak lambat dulu, ya. Semoga kalian tidak bosan.

__ADS_1


__ADS_2