
Bab 52
"Kalian mau ke mana?" tanya Sari yang ke luar rumah bersama Ayu.
"Mereka mau pergi jalan-jalan ke mall, Eyang. Tapi, sepertinya akan turun hujan, jadi Dewi sarankan untuk naik mobil. Kasihan Alva nanti masuk angin," jawab Dewi.
Entah kenapa Marsha merasa kesal dengan ucapan Dewi ini. Tidak salah dengan ucapannya, hanya saja itu seakan memojokkan dirinya yang kurang peduli terhadap Alva.
"Benar kata Dewi, sebaiknya kalian naik mobil. Kasihan Alva," lanjut Ayu.
Marsha pun turun dari motor lalu menggendong Alva. Anak itu menangis karena ingin naik motor. Semua orang membujuk sang bocah agar mau naik mobil, tetapi tetap tidak mau.
"Ya, sudah. Kita tidak jadi jalan-jalannya. Kita main di rumah saja," ucap Marsha kepada Alva.
Bocah itu marah lalu berlari mencari Indah atau Bagas, seperti biasa yang dilakukan jika keinginannya tidak dituruti oleh sang ibu. Marsha pun masuk ke rumah mengejar buah hatinya.
Arga sangat kesal kepada Dewi, karena ulahnya mereka tidak jadi pergi jalan-jalan. Padahal itu salah satu cara dia untuk mendapatkan hati Marsha dan membahagiakan Alva. Laki-laki itu masuk ke rumah dan menghiraukan tatapan Dewi kepadanya. Panggilan Ayu pun tidak dia gubris.
Arga mencari keberadaan Alva dan Marsha. Terlihat keluarga Marsha sedang memberi pakan ikan di kolam samping rumah. Dia pun ikut duduk di sana. Alva sudah ceria kembali dan ocehannya kembali terdengar.
"Satu … dua … tiga … empat … lima … enam … tujuh … delapan … sembilan … sepuluh!" ucapnya sambil menunjuk ikan yang sangat banyak jumlahnya ratusan.
"Anak bunda sudah pandai berhitung," puji Marsha lalu mencium pipi Alva.
Indah dan Bagas ikut tertawa. Mereka senang karena Alva mau dibujuk. Tidak akan enak sama tuan rumah jika bocah itu terus ngamuk.
"Besok kita pulang bersama, ya!" Arga menatap Marsha dengan penuh harap.
"Apa Kak Arga tidak menunggu sampai tujuh hari meninggalnya eyang kakung?" tanya Marsha.
__ADS_1
"Masa cuti aku sudah habis sebenarnya. Ini juga aku mengancam Pandu agar diberi jatah cuti panjang. Dia pun memberikan aku tiga hari. Besok lusa sudah harus masuk kerja," jawab Arga.
Alva bermanja-manja kepada Arga dan mengajaknya bicara. Tidak jadi pergi jalan-jalan diganti dengan memberi makan ikan sudah membuat mereka senang.
Dewi mengintip mereka dari balik jendela. Dia bisa mendengar semua pembicaraan keluarga Marsha dengan Arga.
'Hubungan mereka terlihat baik-baik saja. Lalu, kenapa Mas Arga dan Mbak Marsha bisa bercerai? Aku jadi semakin penasaran,' batin Dewi.
"Ada apa, Wi?" tanya Sari saat anak asuhnya itu masuk ke dalam kamarnya.
Gadis itu duduk di samping Sari. Lalu, dia memijat lengan wanita tua itu dengan lembut.
"Eyang, akan jadi ikut tinggal bersama Pakdhe dan Budhe?" Dewi balas bertanya.
"Entahlah, Wi. Rasanya eyang berat meninggalkan rumah ini. Tapi, Barata bilang ingin mengurus eyang yang sudah tua ini," jawab Sari dengan lirih.
Senyum Dewi pun mengembang. Kedua tangan wanita muda itu masih memijat lembut lengan kurus milik Sari.
Sari suka sekali dengan Alva yang menurutnya pintar dan menggemaskan. Namun, dia tidak bisa main lama-lama karena bocah itu selalu mencari keberadaan ibunya.
"Iya. Bener juga kata kamu, Wi. Tapi, bagaimana dengan kamu?" tanya Sari.
"Kalau Eyang ikut dengan Pakdhe, ya, Dewi juga ikut dengan Eyang. Karena sampai kapanpun Dewi akan selalu menjaga Eyang," jawab Sari dengan senyum manisnya.
Akhirnya Sari pun setuju untuk ikut Barata tinggal di kampung halaman Ayu. Rumah besar ini bisa diurus oleh kerabat lainnya. Perkebunan dan peternakan juga akan diurus oleh para pekerja dan diawasi oleh Barata. Tiap bulan dia akan datang ke Surabaya untuk memeriksa laporan dan keadaan perkebunan dan peternakan.
Keluarga Marsha pulang terlebih dahulu bersama dengan Arga. Mereka berangkat dengan jam penerbangan pagi. Hal ini agar Arga punya waktu untuk istirahat sebelum besok masuk kerja.
***
__ADS_1
Seminggu sudah berlalu semenjak kepulangan Marsha dari Surabaya. Sore hari saat dia sedang jalan-jalan bersama Alva ke alun-alun kecamatan, dia melihat mantan ibu mertuanya sedang membeli awug, makanan kesukaan Barata.
"Alva, ada Oma. Lihat, itu!" Marsha menunjuk ke arah Ayu.
"Oma!" teriak Alva memanggil Ayu sambil melambaikan tangan.
Mata Marsha membulat saat melihat ada Dewi berdiri di samping Ayu. Dia tidak menyangka kalau wanita itu ada di sini. Dulu yang dia dengar eyangnya Arga tidak mau pergi meninggalkan rumah peninggalan suaminya.
'Apa dia cuma liburan di sini?' batin Marsha bertanya.
Marsha menghampiri Ayu sambil menuntun Alva. Bocah itu berlari sehingga membuat Marsha kewalahan dan ikut berlari kecil.
"Oma sedang beli apa?" tanya Alva begitu sampai.
Ayu berjongkok lalu mencium pipi mulus sang cucu. Beberapa hari tidak bertemu dengannya membuat dia sangat merindukan Alva.
"Opa dan Eyang ingin makan awug. Alva mau juga?" Ayu menggendong Alva dan menunjuk ke arah makanan yang berlapis-lapis terbuat dari tepung beras dan gula merah.
"Nggak mau," jawab Alva sambil menggelengkan kepala.
"Kalau itu mau, nggak?" Dewi menunjuk ke tukang gulali yang mangkal dekat tukang awug.
"Mau!" Alva menjawab dengan penuh semangat.
Lalu, Dewi mengajak Alva untuk memilih bentuk gulali yang dia mau. Betapa senangnya bocah itu saat melihat bentuk-bentuk unik dari gulali itu. Akhirnya dia memilih gulali berbentuk burung yang bisa berbunyi seperti peluit.
Ayu melihat tatapan Marsha tidak suka kepada Dewi. Dia sudah tahu kalau mantan menantunya itu kurang suka kepada sikap Dewi yang dianggapnya sok dekat dan selalu ikut campur urusannya.
***
__ADS_1
Bagaimana tanggapan Ayu terhadap Dewi? Apakah Dewi bisa mengambil hati keluarga Arga? Ikuti terus kisah mereka, ya!