Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 73. Keadaan Genting


__ADS_3

Bab 73


Arga sudah bersiap akan pergi ke rumah sakit bersama dengan Ayu. Namun, saat akan ke luar rumah, Sari memanggilnya. Meski merasa enggan Arga pun menghampiri sang eyang.


"Ada apa lagi, Eyang? Aku sedang terburu-buru," tanya Arga dengan pelan sebisa mungkin dia nekan rasa kesalnya.


Arga baru tahu kalau eyangnya itu sudah mengatai-ngatai Marsha kemarin saat menjemput Alva dari rumah orang tuanya. Ayu tanpa sengaja keceplosan membicarakan kejadian kemarin.


"Tolong antarkan dulu eyang ke tempat akupuntur yang ada di jalan Merdeka. Ayahmu tidak ada dan hari ini jadwal eyang melakukan pengobatan terakhir," kata Sari.


"Eyang bisa minta diantar oleh Dewi atau sopir. Banyak orang yang bisa dimintai tolong untuk antar ke sana," tutur Arga sambil mengerutkan sebelah alisnya.


"Kamu itu, ya … dimintai tolong oleh orang tua malah menolak. Bukannya si Marsha masih punya orang tua yang bisa mengurusnya!" bentak Sari dengan mata yang menatap tajam kepada Arga.


"Kamu lebih perhatian kepada orang lain dan mengabaikan keluarga sendiri. Mau jadi anak durhaka kamu!" lanjut Sari masih dengan suaranya yang tinggi.


"Astaghfirullahal'adzim. Siapa yang Eyang maksud orang lain. Marsha itu calon istri aku, dan Eyang yang mempersulit diri sendiri. Banyak orang di sini yang bisa–"


"Calon istri? Dia itu mantan istri kamu, Arga. Dan calon istri kamu itu adalah Dewi!" kata Sari dengan tegas.


"Apa? Sejak kapan Dewi jadi calon istri aku? Tidak pernah ada pembicaraan aku ingin mempersunting dia. Bagi aku Dewi itu adalah seorang kerabat dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun." Gantian Arga yang berbicara dengan tegas.

__ADS_1


Ayu merasa kepalanya sakit melihat perdebatan antara putra dan ibu mertuanya. Wanita itu sudah menyerah dengan ke keraskepalaan Sari dan Arga. Keduanya sama-sama keras dan tidak mau mengalah. Dia sekarang tahu dari mana sifat keras kepala Arga itu berasal, yaitu dari Sari. 


Dewi yang sejak tadi berdiri di sana hanya diam saja. Dia sedang merasakan patah hati sebelum mengungkapkan isi hati. Laki-laki yang selama ini menguasai hatinya, masih menganggap saudara dan tidak akan berubah. Namun, dia sudah bertekad untuk mendapatkan Arga.


"Aku tidak akan pernah merestui hubungan kamu dengan wanita murahan itu!" Sari masih saja berteriak kepada Arga.


"Siapa yang eyang maksud dengan wanita murahan? Marsha dan Sakti itu sudah dijebak oleh orang lain. Itu Eyang sama saja sudah merendahkan Sakti sebagai laki-laki tidak bermoral karena sudah meniduri anak gadis orang lain," balas Arga. 


Sebenarnya hati Arga merasa diremas kuat saat mengatakan ini. Dia tidak ada maksud merendahkan marwah Sakti. Bahkan dirinya lebih hina dari sang adik.


Tubuh Sari tiba-tiba limbung lalu tidak sadarkan diri. Tentu saja itu membuat panik semua orang. Arga pun segera membawa neneknya ke kamar. Ayu menggosok tubuh wanita tua itu dengan menggunakan kayu putih. Dewi mengipasi tubuh Sari agar segera sadar.


"Jika sudah satu jam belum juga sadar, baru kita panggil dokter," jawab Ayu.


Arga pun menghubungi Marsha tentang keadaan di rumahnya saat ini. Untungnya wanita itu mau mengerti dan tidak mempermasalahkan itu.


***


Bagas dan Barata yang menangani kasus penjualan mobil dan penculikan terhadap Marsha dan Alva, kini sudah menemukan titik terang dari kasus itu. Mereka terkejut saat polisi melacak keberadaan handphone nomor yang sering dipakai untuk menghubungi si pelaku titiknya berada di rumah sakit.


Mereka berdua menghubungi nomor Arga, tetapi yang mengangkat telepon adalah Marsha. Laki-laki itu meninggalkan sengaja gawai miliknya di atas nakas di samping brankar agar bisa digunakan oleh Marsha.

__ADS_1


"Ayo, kita harus segera ke rumah sakit sekarang!" ajak Barata.


"Kenapa di saat genting seperti ini Arga selalu tidak ada di samping Marsha?" Bagas merasa gereget dan kesal kepada calon menantunya itu.


Barata mengabaikan gerutuan mantan besannya. Putranya pulang juga untuk membawa keperluan Marsha dan Alva. Dia juga yakin kalau Arga akan segera kembali ke rumah sakit.


Kedua orang itu hendak mencari pelaku yang berada di rumah sakit dengan bantuan dua orang polisi. Mereka mencari di setiap ruang yang ada di bangunan bertingkat tiga itu.


"Bagaimana, Pak? Apakah sudah diketahui ada di mana orangnya?" tanya Bagas kepada polisi yang sedang melakukan komunikasi dengan orang yang ada di kantor polisi.


"Titiknya masih bergerak di sekitar rumah sakit. Pencarian akan semakin di persempit areanya," jawab polisi.


"Maksudnya bergerak itu bagaimana, Pak?" tanya Barata.


"Itu artinya orang itu masih berkeliaran di rumah sakit ini. Untuk tujuannya kita tahu kenapa orang itu ada di sini," jawab Polisi.


Kedua laki-laki paruh baya ini langsung memikirkan Marsha. Mereka yakin kalau wanita itu sedang berada di dalam bahaya.


***


Pak Bagas akankah marah sama Arga lagi 🤔. Apakah pelaku masih mengincar Marsha? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1


__ADS_2