Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 70. Mencari Marsha & Alva


__ADS_3

Bab 70


"Dari mana Pak Burhan tahu Marsha diculik?" tanya Indah dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tadi saya lihat Gunawan berteriak sambil mengejar mobil yang sering dipakai oleh Pak Bagas. Katanya Non Marsha dibawa oleh orang yang tidak dikenal. Aku disuruh lapor sama Bapak," jawab Pak Burhan dengan suara yang bergetar.


Pak Burhan itu orangnya sering gugup dan mudah ketakutan. Dia juga punya riwayat lemah jantung dan sering bergetar tubuhnya jika dirinya merasa takut.


"Kenapa Marsha dan Alva diculik? Apa mereka menginginkan uang tebusan?" tanya Indah sambil menahan Isak tangisnya.


"Jika seperti itu, maka mereka akan langsung menghubungi kita untuk meminta uang tebusan," jawab Bagas setelah menyeka air mata di netranya.


"Apa sebaiknya kita hubungi Gunawan? Tanya sama dia sekarang sedang berada di mana?" Indah meminta Bagas untuk menghubungi pemuda yang bekerja di perkebunan milik Barata.


Tanpa disuruh dua kali Bagas langsung menghubungi Gunawan. Namun, yang menerima panggilan itu adalah adiknya. Katanya tadi Gunawan pergi untuk membeli sate di depan komplek pertokoan yang ada di dekat perempatan alun-alun desa. Sampai sekarang pemuda itu belum juga pulang.


"Bagaimana, Yah?" tanya Indah.


"Ponsel Gunawan ketinggalan di rumahnya. Sebaiknya kita kerahkan orang-orang untuk membantu mencari Marsha," jawab Bagas.


Akhirnya Bagas bersama beberapa orang tetangga dan pekerjanya berpencar mencari keberadaan Marsha. Kesialan kembali terjadi kepada Bagas, batu baterai dia habis. Biasanya dia akan menambah daya setelah sholat Magrib sampai pulang berjamaah Isya.


"Kenapa malah harus habis baterainya!" kata Bagas dengan kesal.


"Bisa pakai ponsel saya, Pak. Kebetulan nomor saya bisa terhubung dengan nama-nama penduduk desa. Kalau bapak mau akan aku suruh semua orang yang mendapatkan informasi Non Marsha langsung menghubungi nomor aku," ucap Panji dan Bagas pun setuju.


Setelah setengah jam ada kabar yang melihat mobil yang tadi dikendarai oleh Marsha. Bagas pun langsung mendatangi tempat itu bersama beberapa orang yang tadi mencari bersama dengannya.


Mobil itu ada di kecamatan sebelah, yang jaraknya sekitar 12 kilometer dari rumah Marsha. Ternyata kendaraan milik Bagas sudah dijual oleh seseorang dan si pembeli tidak tahu apa-apa. Dia membeli dengan harga yang lumayan murah, apalagi keadaannya masih mulus meski bukan keluaran baru.


"Apa Bapak tahu bagaimana ciri orang yang menjual mobil ini?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Orangnya berbadan biasa saja. Tidak gemuk, tidak juga kurus. Tapi, laki-laki itu punya bekas luka yang besar di tangannya, lebih tepatnya lengan kanan," jawab orang itu.


"Seperti apa jelasnya luka itu? Luka sayatan atau luka kayak borok?" tanya Bagas lagi dengan tidak sabar.


Laki-laki paruh baya itu ingin sekali memasukan penjahat yang sudah berani menculik anak dan cucunya. Apalagi jika sampai terjadi sesuatu kepada keduanya, maka dia tidak akan pernah memaafkannya. 


"Seperti bekas luka bakar atau borok gitu. Kulit tangan dia itu rusak," jawab orang itu lagi.


Ada sebuah panggilan ke handphone milik Panji yang ada di tangan Bagas. Lalu, dengan cekatan dia menggeser tombol hijau.


"Assalamualaikum, Pak Bagas. Kita sudah tahu di mana Non Marsha di sekap," kata seseorang yang menghubungi Bagas.


Tanpa membuang waktu, Bagas pun bergegas  menuju ke tempat yang diberi tahu oleh si penelepon. Dia dan beberapa orang yang bersama dengannya membiarkan dulu mobilnya itu dan bisa diurus nanti.


Ternyata Marsha dibawa ke perbatasan kabupaten. Di sana masih banyak hutan arba dan jati. Begitu Bagas sampai, dia melihat ada Gunawan yang sudah tidak sadarkan diri dengan muka babak belur. Beberapa orang mencoba menolongnya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Bagas.


Gunawan dibawa ke rumah sakit terdekat dan yang lainnya mencoba membuka pintu yang digembok oleh beberapa kunci. Mereka pun memutuskan untuk menghancurkan pintunya atas perintah Bagas. Karena untuk urusan ganti rugi akan ditanggung oleh dia.


Setelah beberapa kali mencoba akhirnya pintu itu bisa dijebol oleh beberapa orang.


Marsha bisa mendengar suara tangisan Alva dari luar kamar. Dia pun memanggil nama anaknya itu dengan keras.


"Alva! Kamu bisa mendengar suara bunda," teriak Marsha sambil menggedor-gedor pintu.


"Bunda," kini terdengar suara bocah kecil itu.


"Jangan takut, Sayang. Ada Bunda di sini. Sebentar Bunda akan mencoba ke luar."


Tidak berapa lama, Marsha bisa mendengar suara keras dari arah luar rumah. Alva yang ketakutan semakin kencang tangisannya.

__ADS_1


Sementara itu, Bagas dan warga yang berhasil menjebol pintu, langsung masuk ke dalam rumah kosong itu. Terdengar suara tangisan Alva di bagian pojok belakang atau ruangan dekat dapur.


"Alva!" 


Bagas berlari dan segera memeluk dan menggendong sang cucu yang menangis keras. Terdengar juga suara teriakan Marsha di dalam ruang kecil di dekat dapur itu. Lagi-lagi warga menghancurkan pintu itu. Betapa senangnya Bagas saat melihat Marsha dalam keadaan baik-baik saja. Dia pun memeluk putrinya begitu ke luar dari ruangan itu.


"Ayah, aku takut!" Marsha kini menangis dalam pelukan ayahnya.


Bagas pun mencoba menenangkan putrinya. Dia segera membawa keduanya ke luar dari rumah itu.


"Tolong tanyakan siapa pemilik rumah ini. Nanti katakan kalau aku akan mengganti semua kerusakan pintunya!" titah Bagas kepada pegawai kebunnya.


Marsha dan Alva dibawa ke rumah sakit dahulu oleh Bagas. Dia takut terjadi sesuatu kepada keduanya.


"Marsha! Alva!" 


Barata akhirnya bisa menemukan mereka setelah mendengar kabar kalau keduanya menghilang saat akan mendatangi rumah Bagas. Dia langsung ikut beberapa orang yang melakukan pencarian.


"Opa," panggil Alva sambil menangis minta digendong olehnya.


***


Arga menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Begitu dia mendapat kabar kalau Marsha dan Alva ada yang menculiknya, dia bergegas pulang kampung. 


"Arga, Marsha sedang dibawa ke Rumah Sakit Mangkubumi." Barata menghubungi anaknya.


Kebetulan jaraknya tinggal satu kilo lagi dari posisi Arga saat ini. Dia pun membelokkan lajunya ke arah Selatan di mana rumah sakit itu berada. Laki-laki itu sampai di waktu yang bersamaan dengan mobil Bagas yang masuk area parkiran.


"Marsha … Alva!" teriak Arga sambil berlari.


***

__ADS_1


Apakah Arga akan bisa menemukan pelaku penculikan Marsha? Apa motif pelaku melakukan kejahatannya itu? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_2