
Bab 156
Beberapa saat sebelum kedatangan polisi ....
Setelah tahu Safira dan Mutiara sudah sadar, Leonard datang untuk menemui mereka. Dia ingin melihat keadaan dua gadis itu pasca terluka tadi siang. Meski dokter sudah memberikan obat yang hebat dalam mempercepat proses penyembuhan lukanya, laki-laki itu ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri.
Kini Safira dan Mutiara duduk di pinggir tempat tidur. Mereka berada di dalam ancaman Leonard yang sedang memegang pistol.
"Aku senang kalian akhirnya sadar. Apa ada yang sakit?" tanya Leonard yang menatap Safira dan Mutiara.
Tidak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan dari laki-laki itu. Keduanya malah menatap tajam dengan penuh amarah kepadanya.
"Cepat jawab pertanyaan aku!" perintah Leonard sambil mengacungkan pistol ke kening Safira.
"Aku kira kamu punya mata untuk melihat luka yang ada pada tubuh kami. Kamu menanyakan sesuatu yang tidak perlu untuk dijawab," balas Safira dengan tatapan merendahkan kepada Leonard.
Leonard tertawa mendengar ucapan Safira. Dia sangat suka melihat bola mata yang bening itu kala menatap tajam kepadanya. Selain Sherly yang membuat dirinya bergetar, baru kali ini ada lagi wanita yang membuat tubuh dia terasa dialiri sengatan listrik. Jika, saja Mister Bruno tidak mau membeli gadis itu, sudah langsung dia eksekusi tubuhnya.
Melihat Leonard berjalan mendekat ke arahnya, Safira dan Mutiara langsung bersikap waspada, kedua tangan mereka disilangkan di dada. Kini tubuh kokoh itu berdiri tepat di depan putri Dokter Rama. Lalu, dia mendekatkan wajahnya ke muka Safira.
Reflek Safira menjauhkan wajahnya menjaga jarak. Saat Leonard kembali memajukan kepalanya, gadis itu menendang ******** laki-laki itu dengan keras.
"Aaaaa. Sialan kau!" teriak Leonard sambil mengumpat.
Tanpa Safira duga, Leonard langsung menerkam dirinya dan hendak menciumnya. Gadis itu berhasil menghindar dengan memalingkan wajahnya.
Mutiara mengambil kursi kayu yang tadi di duduki oleh Leonard. Dengan menggunakan kedua tangannya dia mengayunkan kursi ke arah punggung laki-laki itu. Namun, usahanya sia-sia karena Leonard berhasil menghindar dan kursi itu malah mengenai tubuh Safira. Mutiara shock sekali saat melihat dan mendengar teriakan temannya.
Leonard yang mulai kalap, bangkit lalu menghajar Mutiara sampai sang gadis tidak sadarkan diri. Polisi dan Alva berhasil masuk ke kamar. Mereka semua langsung berusaha menangkap penjahat itu.
__ADS_1
Alva langsung menghambur ke arah Safira yang terbaring sebagian badanya di kasur. Dia langsung memeluk tubuh wanita yang menangis kesakitan.
"Fira," ucap Alva menyentuh pipi gadis itu.
Melihat orang yang dicintainya datang menolong, Safira merasa tenang. Dia membalas pelukan laki-laki itu sambil menangis kencang.
"Maafkan aku," ucap Safira yang merasa bersalah karena tidak menuruti ucapan kekasihnya.
Beberapa polisi berhasil membekuk tubuh Leonard. Laki-laki itu terus meronta dan melawan. Kedua kakinya dia layangkan kepada para polisi yang posisinya terdekat.
Terdengar bunyi letusan pistol dari arah depan rumah. Tidak lama kemudian terdengar kembali beberapa tembakan. Leonard tidak bisa memprediksi siapa yang sudah melancarkan tembakan itu. Apakah polisi atau sepupunya. Jika yang menembak adalah polisi, maka kemungkinan Fery mati tertembak. Namun, jika sebaliknya, sang sepupu yang menembak berati ada kemungkinan dia berhasil meloloskan diri.
Leonard tidak mau di penjara. Sekuat tenaga dia melepaskan diri dari pegangan polisi. Saat salah satu orang itu berhasil melepaskan cengkeramannya, laki-laki itu menjadikan polisi satunya sebagai sandera. Dia merebut pistol milik polisi itu.
"Menyerah lah!" teriak kepala polisi sambil mengacungkan pistol ke arahnya. Diikuti oleh beberapa polisi lainnya.
Dor! Dor! Dor!
Leonard menembak beberapa anggota polisi dengan membabi buta. Ternyata ada satu peluru yang memantul ke dinding lalu bertolak mengenai tubuh Safira yang sedang berada di dalam gendongan Alva dan mengenai perutnya.
"Aaaa," teriak Safira.
"Fira!" Alva shock melihat darah merembes di baju gadis yang ada di gendongannya.
Kepala polisi langsung menembak tubuh Leonard beberapa kali sampai laki-laki itu tumbang jatuh ke lantai berdebu.
Alvin dan Alfarizi datang ke sana. Mereka terkejut saat melihat Alva berlari sambil menggendong Safira yang sudah bersimbah darah.
"Alfa, antar aku ke rumah sakit!" perintah Alva.
__ADS_1
Mutiara diamankan oleh kepala polisi, takut Leonard sadar dan menyerang sandera. Apalagi keadaan gadis itu masih shock dan tidak bisa ditanya.
***
Alva membawa Safira ke ruang UGD, lalu dokter dengan tanggap menanganinya. Mereka yang kenal kepada Safira, tentunya sangat terkejut.
"Kita lakukan operasi secepatnya," kata dokter yang berjaga malam ini.
Alva mencoba tenang, lalu dia menghubungi Dokter Rama yang dia tahu sedang melakukan pencarian kepada Safira. Tidak sampai sepuluh menit, laki-laki paruh baya itu datang dengan muka pucat.
"Alva, bagaimana keadaan Fira?" tanya Dokter Rama.
"Saat ini mereka akan melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di perut," jawab Alva dengan lirih.
"Semoga saja operasi berjalan dengan baik," ujar suami Dewi.
Tidak lama kemudian datang Dewi dengan kedua anaknya. Mereka terlihat sangat panik begitu sampai.
"Mas, bagaimana keadaan Fira?" tanya Dewi.
"Kita berdoa semoga saja operasinya berhasil," jawab laki-laki berkemeja biru muda itu sambil memeluk istrinya.
Alva lupa kalau Shinta saat ini sedang dalam perjalanan ke Indonesia. Wanita yang akan membuat dirinya kesulitan.
***
Apa yang akan dilakukan oleh Shinta saat tahu Safira terluka? Apakah Dokter Rama dan Shinta akan berebut Safira kembali? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1