Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 54. Keinginan Arga


__ADS_3

Bab 54


Cup


Bibir Arga menempel di pipi Marsha. Keduanya sama-sama terkejut dengan kejadian ini. Namun, setelahnya reaksi kedua orang itu berderai.


Perasaan Arga berjuta bahagianya. Dia bisa mencium pipi mulus dan lembut milik mantan istrinya. 


'Aaaaa, padahal sedikit lagi!' batin Arga.


Ya, ciuman barusan dekat ke bibir Marsha. Geser sekitar satu sentimeter saja sudah sampai ke tempat yang diharapkan oleh Arga.


Tangan Marsha yang sedang memegang sendok bekas mengaduk teh manis, spontan dia pukulan ke kening Arga. Ada sedikit air terciprat ke mata Arga.


"Awwww, perih!" Arga langsung memegang matanya.


"Maaf … maaf, aku tidak sengaja," kata Marsha sambil menarik tangan Arga yang menutupi matanya.


"Sini aku lihat!" lanjut wanita itu dengan perasaan bersalah.


Marsha meniup mata yang terkena cipratan air dari sendok. Mulutnya membulat dan membuat Arga merinding karena harus menahan diri agar tidak mengecup bibir berwarna pink itu.


"Hey, apa yang kalian lakukan!" 


Terdengar suara teriakan di dekat pintu masuk ke dapur. Arga dan Marsha menjauhkan diri lalu melihat ke arah sumber suara.


Terlihat ada Bagas berdiri di sana dengan tatapan marah. Dia mengira putri dan mantan menantunya sedang berciuman. 


"Kalian belum menikah lagi. Jangan berciuman seperti itu. Dosa!" bentaknya kepada kedua orang yang menganga mulutnya.


Marsha dan Arga saling melirik. Lalu, keduanya tertawa karena laki-laki setengah paruh baya itu sudah salah paham.

__ADS_1


"Berciuman apanya, Yah? Kening aku dipukul pakai sendok oleh Marsha," sanggah Arga sambil menunjuk keningnya.


Kening Bagas mengkerut, lalu dia memperhatikan anaknya. Terlihat pipi Marsha merah merona karena menahan malu.


"Bohong. Dosa ditanggung sendiri!" ucap Bagas dengan kesal karena dia yakin kedua orang itu berbohong.


"Sana ke ruang tamu! Ngapain tamu masuk ke dapur," lanjut Bagas dan Arga pun menurut berjalan meninggalkan dapur.


Marsha memegang dadanya yang berdebar kencang. Kehangatan bibir Arga di pipinya.


'Ya Allah, jangan sampai aku berbuat dosa lagi. Jauhkan kami dari perbuatan yang mendekati zina, apalagi sampai berzina,' batin Marsha.


"Ih, nauzubillahi min dzalik," gumam Marsha lalu bergegas pergi ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi tiga gelas teh manis hangat dan beberapa toples kue.


"Mau apa kamu malam-malam datang ke sini?" tanya Bagas dengan tatapan penuh selidik.


"Mau melamar Marsha," celetuk Arga.


"Kamu ini sudah gila! Kayak tidak ada waktu lain saja datang melamar anak orang. Lakukan dengan benar, nanti!" Suara Bagas meninggi karena sering dibuat kesal oleh kelakuan Arga.


"Yah, aku melakukan ini agar Marsha tidak diembat oleh laki-laki lain. Hanya aku yang boleh menikahi Marsha," ucap Arga dengan memaksa.


Wanita itu masih terdiam dan menahan geli saat melihat ekspresi wajah Arga saat ini. Entah kenapa dia merasa kalau itu lucu. Seperti Alva yang sedang merajuk agar keinginannya dipenuhi.


"Tanya sama orangnya mau tidak menikah sama laki-laki kayak kamu. Kalau aku sendiri bakalan tidak mau punya pasangan tukang selingkuh," tukas Bagas menohok perasaan Arga.


"Ayah," panggil Marsha dengan lirih.


Mendengar ucapan Ayahnya itu membuat hati Marsha menjadi tidak enak. Meski dia punya perasaan suka sama Arga, tetapi masih ragu untuk menjalin hubungan pernikahan kembali dengannya, nanti. Dia trauma diselingkuhi dan diabaikan olehnya.


Dada Arga sangat sakit mendengar ucapan Bagas. Benar kata orang, jika kita sudah mempunyai borok maka akan sulit untuk dilupakan dan akan terus diingat oleh diri sendiri atau oleh orang lain. Namun, dia sendiri sedang berusaha menghilangkan borok itu sampai bersih.

__ADS_1


"Aku tahu, kalau aku orang yang banyak dosa dan pernah menyakiti hati Marsha. Itu adalah kejahatan yang aku lakukan kepadanya. Setidaknya sekarang izinkan aku untuk membuat Marsha bahagia dan menghapus luka itu dengan senyumannya. Apakah tidak ada kesempatan aku untuk memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu," kata Arga dengan sungguh-sungguh.


Air mata Marsha jatuh begitu saja. Ucapan laki-laki ini menyentuh hatinya sekarang. Rasanya dia malah menjadi orang jahat jika tidak memberikan kesempatan kepadanya.


"Ayah." Suara Marsha bergetar karena saat ini dia sedang menangis.


Bagas tahu kalau putrinya menyimpan perasaan spesial kepada laki-laki itu. Lalu, dia pun berdiri dan pergi dari sana. Membiarkan anak dan mantan menantunya berbicara lebih lanjut. Dia duduk di ruang sebelah dan memperhatikan mereka berdua dari sana.


Kini hanya ada Marsha dan Arga di ruang tamu. Keduanya saling menatap dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kembalilah kepadaku. Izinkan aku membahagiakan dirimu dan Alva," ucap Arga dengan lirih.


"Berjanjilah kalau tidak akan ada wanita lain di antara kita. Aku pencemburu. Aku tidak suka jika ada wanita lain yang kamu beri perhatian," ucap Marsha. "Kecuali ibu atau Eyang Sari," lanjutnya.


Mendapatkan sinyal seperti ini dari Marsha tentu saja membuat Arga bahagia. Dia pun duduk berjongkok di depan Marsha dengan tatapan berbinar.


"Insha Allah, hanya kamu satu-satunya wanita yang akan menjadi pendamping hidup aku. Karena aku cinta kamu, Masha. Hanya kamu!" ucap Arga menyakinkan.


Hati setiap perempuan pasti akan bahagia jika mendengar ucapan seperti itu dari laki-laki yang disukainya. Namun, jangan mau dibodohi dengan kata-kata manis dari laki-laki. Apalagi dari orang yang pandai menggombal dan suka modus.


"Selain ucapan aku juga butuh pembuktian. Jangan hanya di mulut saja bilang seperti itu, tapi kenyataannya masih banyak wanita berkeliaran di sekeliling Kakak," tukas Marsha.


"Sudah berapa kali aku katakan kepadamu, Cintaku … Bidadariku, hanya kamu satu-satunya wanita yang dekat dengan diriku. Hanya kamu yang selalu aku pikirkan dan perhatikan, tidak ada yang lain," pungkas Arga.


Marsha menggigit bibir bawahnya karena dia sedang mati-matian menahan senyum bahagianya. Namun, matanya yang berbinar-binar tidak bisa menutupi perasaan dia saat ini.


"Lalu, Dewi … bagaimana dengan dia?" tanya Marsha setelah dia berhasil menguasai kesadarannya.


***


Bagaimana Dewi di mata Arga? Apakah hubungan Marsha dan Arga akan berjalan manis kali ini? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1



__ADS_2