Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 128. Keluarga Harmonis


__ADS_3

Bab 128


Beberapa tahun kemudian ....


"Ayah, bangun! Adek Athar pup, tuh!" Azka dan Arshy menggoncangkan tubuh Arga dengan kekuatan penuh.


Mata Arga langsung terbuka mendengar nama anak bungsunya disebut. Dia pun bergegas menuju boks bayi yang ada di samping tempat tidur. Ternyata benar bayi sudah buah air besar. Laki-laki itu dengan sigap melepaskan popok lalu membersihkan kotorannya.


"Bunda belum pulang?" tanya Arga kepada kedua anaknya.


Kedua anak kembar yang memiliki wajah serupa dengan versi berbeda gender itu menggeleng dengan kompak. Arga pun menggendong Athar dan mereka semua pergi ke teras depan rumah menunggu Marsha pulang bersama Alva.


Setelah berhenti bekerja dari perusahaan milik keluarga Pandu, Arga dan keluarganya pulang kampung. Dia mengambil alih kepengurusan usaha Barata. Bahkan laki-laki itu membuat pabrik olahan dari umbi-umbian. Seperti keripik singkong, keripik umbi, keripik kentang, kremes singkong, kremes umbi, dan mustofa. 


Arga dan Marsha ingin memajukan perekonomian penduduk di kampung halamannya dan itu berjalan lancar. Sekarang tidak ada anak muda yang menganggur. Pabrik milik mereka menerima orang dari semua tingkat lulusan sekolah. 


Kehebatan marketing yang dimiliki oleh Arga dan dibantu oleh Marsha, usaha mereka berkembang dengan sangat cepat. Hasil produksi pabrik sudah tersebar hampir ke semua pelosok negeri ini.


"Itu Bunda sama Kakak!" teriak Arshy sambil berlari ke arah pagar besi.


Dibantu oleh Azka kedua bocah itu mendorong pagar besi agar mobil ibu mereka bisa masuk. Kendaraan yang dikendarai oleh Marsha pun memasuki halaman rumah.


"Sayang, bagaimana hasilnya?" tanya Arga.


"Alhamdulillah, Alva juara satu," jawab Marsha dan mendapat sorak-sorai dari Arga dan kedua anak kembarnya.


Hari ini adalah hari kenaikan kelas Alva. Sebenarnya Arga yang akan datang ke sekolah anak itu. Namun, tadi pagi tubuh dia mengigil meriang karena kelelahan dan perubahan cuaca yang tidak menentu membuatnya jatuh sakit. Akhirnya Marsha yang menggantikan untuk mengambil raport.


Setelah membersihkan badan, Marsha pun mengambil alih Athar dari gendongan Arga. Usia bayinya baru tiga bulan dan agak manja. Berbeda dengan Alva dan si kembar yang bisa ditinggal untuk beraktivitas. 


"Mas, pasti istirahatnya terganggu, ya? Padahal tadi aku usahakan pulang cepat berharap Athar masih tidur, walau nyatanya dia sudah bangun. Tadi aku tidak sampai setengah jam pergi ke sekolah Alva," kata Marsha sambil menyusui sang anak.

__ADS_1


"Aku, tidak merasa diganggu. Aku tidur dengan nyenyak dan si kembar yang menjaga Athar tadi,"  balas Arga sambil tersenyum tipis.


Alva mengajak kedua adiknya mendatangi kediaman Oma dan Opa yang berada tidak jauh dari kediaman mereka. Arga membangun rumah tidak jauh dari rumah kedua orang tuanya. Karena pabrik yang dia bangun juga tidak jauh sana.


Arga memeluk Marsha dari belakang. Dia merasa sangat sempurna hidupnya jika dibandingkan saat masih lajang dahulu. Laki-laki itu sempat berpikir tidak ingin menjalin hubungan serius dengan perempuan mana pun setelah dikhianati oleh Valerie. Namun, Tuhan yang Maha Mengatur Segalanya membuat dirinya terikat pernikahan dengan perempuan yang menjadi kembang desa dan tahu apa artinya cinta yang sebenarnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Marsha sambil memalingkan wajahnya ke arah belakang untuk melihat sang suami.


Arga bukannya menjawab malah mencium mesra sang istri. Kegiatan mereka harus terhenti saat mendengar suara rengekan Athar.


"Sayang, kenapa Athar selalu mengganggu kita di saat momen lagi bagus-bagusnya untuk bermesraan," ucap Arga frustrasi dan Marsha malah tertawa.


Anak bungsunya ini seolah cemburu jika Arga melakukan hal-hal yang romantis kepada Marsha. Setelah habis masa nifas Arga dan Marsha baru melakukan hubungan suami istri bisa dihitung oleh jari tangan. Suatu rekor untuk kesabaran Arga.


"Karena dia belum mau punya adik, Mas," balas Marsha sambil tertawa.


"Siapa yang mau tambah anak? Cukup, aku tidak mau lagi melihat kamu kesakitan saat melahirkan," tukas Arga lalu memeluk dan menciumi Marsha.


"Mas, tidak ada jatah kelonan, loh, nanti malam," kata Marsha mengancam.


"Jangan gitu, dong, Sayang!" Arga gantian merengek.


Keluarga Arga dan Marsha dikenal sebagai keluarga yang harmonis dan pasangan suami istri yang selalu terlihat romantis. Keduanya selalu menjaga hubungan tali pernikahan ini dengan baik dan tidak akan membiarkan ada pihak ketiga yang menyusup atau orang yang ingin merusak rumah tangganya.


***


Keesokan harinya keluarga Dewi dengan Dokter Rama datang ke kampung. Karena Safira ingin menghabiskan liburan di sini. Mereka akan tinggal di rumah Barata dan Ayu.


"Alva!" Safira langsung memeluk putra sulung Marsha begitu mereka bertemu.


"Apaan, sih! Lepas, jangan peluk-peluk sama lawan jenis. Kata Pak Ustadz Samir itu dosa," ucap Alva sambil melepaskan rangkulan gadis berambut panjang itu.

__ADS_1


Safira langsung memberengut karena Alva tidak mau lagi dipeluk olehnya. Gadis kecil itu terus mengikuti ke mana pun si sulung pergi.


Dewi yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Alva semakin besar sifatnya seperti Sakti. Sebenarnya dari segi wajah juga sama, kebetulan juga memang wajah Sakti dan Arga itu sangat mirip.


"Wi, anak-anak kamu ingin ikut Pakdhe ke kolam ikan mau beri pakan," kata Barata.


"O, iya, Pakdhe. Anak-anak jangan nakal, ya! Turuti ucapan Opa," kata Dewi kepada kedua anaknya.


Anak Dewi dari Dokter Rama adalah dua orang laki-laki berusia lima tahun dan tiga tahun. Mereka bernama Adrian dan Haidar. Wajah mereka perpaduan Dewi dengan Dokter Rama.


Safira terus mengikuti Alva ke sungai bermain bersama anak-anak yang lain. Wajah Safira yang cantik tentu saja menjadi bahan godaan anak-anak laki-laki di kampung itu.


"Aku tidak akan tertarik sama kalian, karena aku adalah kekasih Alva. Iya, 'kan?" Safira meminta dukungan Alva.


"Kata Pak Ustadz Samir, tidak boleh berpacaran. Dosa!" balas Alva dan teman-temannya tertawa.


Mereka menertawakan Safira yang tidak mendapat dukungan dari Alva. Ini membuat gadis kecil itu kesal


"Kalian jangan menggoda Safira terus. Atau mau aku adukan sama orang tua kalian!" lanjut Alva mengancam teman-temannya.


"Safira, sebaiknya kamu main bersama anak perempuan. Jangan ikuti aku terus," ucap Alva dan itu membuat Safira bersedih.


"Apa sekarang kamu sudah tidak mau berteman lagi dengan aku?" tanya Safira dengan mata yang berkaca-kaca.


Alva merasa bersalah kepada Safira. Dia hanya ingin menjaga batasan pergaulan dengan anak gadis. Kedua orang tuanya selalu menasehati dirinya untuk menjaga diri dalam pergaulan.


Walaupun Alva masih anak berusia sembilan tahun, tetapi dia sudah paham akan hubungan pertemanan dengan seorang gadis. Dia tidak mau kalau terjadi hal yang sama seperti kedua orang tua kandungnya dahulu. Anak kecil ini tahu kalau dirinya terlahir dari hubungan haram. Dosa yang tidak disengaja atau tidak diinginkan terjadi oleh kedua orang tua biologisnya.


***


__ADS_1


__ADS_2