
Bab 69
Beberapa saat setelah kepulangan Marsha menjemput Alva dari rumah mantan mertuanya. Wanita itu menangis histeris saking sakit hati. Sehati dengan sang ibu, bocah berusia dua tahun lebih itu ikut melakukan hal yang sama. Setelah 30 menit menumpahkan kesedihannya, Marsha pun mulai bisa menguasai lagi dirinya. Sementara itu, putranya sudah jatuh terlelap dalam pelukannya.
"Ya Allah, jika dia memang jodoh yang Engkau takdirkan untukku, kita pasti bisa bersatu. Namun, jika kita tidak berjodoh, semoga hubungan baik selama ini masih bisa tetap terjalin sampai kapanpun," gumam Marsha sambil mengusap air matanya sampai kering.
Dipandanginya wajah Alva yang mirip dengan Arga. Entah kenapa Allah membuat muka putranya mirip dengan laki-laki itu. Kenapa tidak mirip dengan dirinya.
"Jika melihat Alva, selalu membuat aku ingat kepada Kak Arga. Apa sampai anakku besar nanti wajahnya akan mirip terus?" Marsha bertanya kepada dirinya.
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menggedor kaca jendela mobil. Ini membuat Marsha terkejut, lalu dia melihat ke samping. Ada seorang laki-laki berdiri di sisi mobilnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Marsha setelah membuka sedikit jendela sebatas matanya.
"Maaf, Bu. Saya sedang mencari alamat seseorang. Ini alamatnya," kata laki-laki itu sambil menyerahkan selembar kertas.
Marsha membaca deretan huruf di kertas itu. Seketika dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Tidak berapa lama wanita itu tidak sadarkan diri.
***
Marsha membuka mata dia berada di sebuah ruangan asing. Tubuhnya terasa lemas dan kepala juga pusing. Dia mendapati sedang berada di atas tempat tidur.
'Aku di mana?' batin Marsha yang masih mencoba mengingat apa yang sudah terjadi kepada dirinya.
"Alva!"
__ADS_1
Marsha mengingat putranya. Dia memaksakan diri untuk bangun dari pembaringannya. Wanita itu tidak menemukan keberadaan putranya. Meski tubuhnya lemah dia tetap berusaha untuk bangun dari ranjang. Dengan jalan yang tertatih sambil berpegangan pada sesuatu yang ada didekatnya, sang janda kembang berusaha mencari keberadaan anaknya.
'Sebenarnya ini di mana? Siapa yang sudah membawa aku ke sini?' batin Marsha.
Pintu itu dikunci dari luar, lalu Marsha pun mencari cara untuk ke luar dari ruangan itu. Sayangnya tidak ada jendela dan satu-satunya untuk keluar dari sana harus lewat pintu.
Mata Marsha beredar menelusuri segala penjuru kamar. Hanya ada kasur, lemari baju, dan meja rias tanpa kursi.
Otak Marsha dipaksa untuk berpikir agar bisa ke luar dari sana. Rasa ketakutan tiba-tiba menguasai dirinya. Wanita itu menduga kalau dirinya diculik untuk suatu alasan yang tidak dia ketahui.
"Ya Allah, hanya kepada-Mu aku meminta pertolongan dan perlindungan. Tolonglah aku dan putraku dari kejahatan orang-orang yang jahat," ucap Marsha dalam doanya.
Dia tidak tahu sekarang jam berapa. Tadi, dia menjemput Alva sekitar pukul 16:00, lalu di rumah Barata sekitar 20-30 menit. Jika ditambah menangis di jalan, berarti sekitar pukul 17:00 saat ada orang yang menanyakan alamat.
"Aku tidak sadarkan diri berapa lama, ya? Apa sekarang sudah malam?" Marsha menduga-duga.
***
"Marsha … Alva, makan malam, yuk!" Indah mengetuk pintu kamar anaknya.
Meski Indah sudah tiga kali mengetuk, tidak ada sahutan dari dalam. Lalu, dia pun mencoba masuk ke kamar anaknya. Betapa terkejutnya dia saat baru sadar ruangan itu dalam keadaan gelap. Setelah menyalakan lampu dan tidak mendapati Marsha maupun Alva di sana, wanita paruh baya itu langsung histeris.
"Ayah, Marsha dan Alva tidak ada di kamar!" teriak Indah dengan berlinang air mata.
Bagas tidak begitu jelas ucapan istrinya. Hanya saja dia tahu kalau Indah berteriak. Segera dia berlari ke kamar Marsha yang kini berada di kamar di sebelah timur.
__ADS_1
"Ada apa, Bu?" tanya Bagas yang berpapasan dengan Indah di ruang keluarga.
"Marsha dan Alva tidak ada. Apa dia belum pulang dari rumah Pak Barata?" tanya Indah.
Mendengar itu tentu saja Bagas terkejut. Dia tahu betul kalau di rumah itu ada orang yang tidak suka sama Marsha. Jadi, tidak mungkin putrinya akan betah lama-lama tinggal di sana.
Ketika kepanikan melanda Bagas dan Indah terdengar ketukan pintu depan rumah. Tentu saja keduanya berharap itu adalah Marsha yang pulang. Mereka tidak curiga kenapa Marsha malah mengetuk pintu, bukan langsung masuk saja.
"Assalamualaikum, Pak Bagas!" terdengar suara laki-laki setelah pintu diketuk dengan kencang.
Bagas dan Indah saling melirik sejenak. Lalu, laki-laki paruh baya itu bergegas membukakan pintu. Terlihat ada seorang laki-laki yang merupakan pekerjanya di ladang sayuran.
"Pak Burhan, ada apa?" tanya Bagas.
"Itu ... ini ... Non Marsha ... mobil," jawab laki-laki berusia setengah baya itu tidak jelas.
"Kenapa dengan Marsha dan mobilnya? Apa dia kecelakaan?" tanya Bagas dengan panik.
Pikiran Bagas kalut, tiba-tiba saja membayangkan kalau putri dan cucunya mengalami kecelakaan. Ketakutan itulah yang dia rasakan saat ini.
"Tidak, Pak. Non Marsha sudah diculik!" jawab Pak Burhan akhirnya, dengan bibir yang bergetar.
"Apa?" pekik Bagas tidak percaya. Ini malah lebih menakutkan dibandingkan dengan kecelakaan.
***
__ADS_1
Siapa yang sudah menculik Marsha? Ikuti terus kisah mereka, ya!