
Bab 109
Setelah semalam Alva dinasehati oleh Marsha, pagi-paginya bocah itu sudah ceria kembali. Dia sudah tidak marah lagi sama Safira.
Dewi juga semakin dekat dengan Safira. Anak itu semalam sebelum tidur dibacakan cerita kisah anak-anak Sholeh dan dininabobokan dengan bacaan sholawat. Pagi harinya, Safira juga mandi dibantu keramas oleh Dewi. Bahkan sarapan pun dibuatkan sesuai dengan kesukaannya.
"Papa, hari ini aku mau pergi ke kolam ikan bersama Alva dan Opa juga Kakek. Apa Papa mau ikut?" tanya Safira setelah selesai sarapan.
"Boleh," jawab Dokter Rama.
Pemandangan di desa ini memang masih banyak sawah dan kebun sayuran juga buah-buahan. Suasana yang damai, udara yang sejuk dan bersih, membuat laki-laki berusia berkepala tiga itu ingin menikmati liburannya ini.
"Ayah sama Bunda, apa mau ikut juga?" tanya Alva.
"Tidak, Sayang. Kita mau berziarah ke makam Ayah Sakti," jawab Marsha.
"Alva juga mau ikut!" pekik Alva karena biasanya dia juga akan ikut setiap mereka berziarah ke kuburan ayah biologisnya.
"Siapa Ayah Sakti itu?" tanya Safira penasaran.
"Ayah Sakti itu adalah ayahnya Alva," jawab Alva.
Dokter Rama terkejut mendengar ucapan Alva. Dia kini paham kenapa dahulu Arga bilang pasangan pengantin baru, sedang usia Alva sudah tiga tahun lebih.
__ADS_1
'Tapi, kenapa wajah Alva sangat mirip sekali dengan Arga?' tanya Dokter Rama dalam hati.
Akhirnya semua orang ikut berziarah ke makam Sakti. Safira yang sudah bisa membaca pun mengeja nama yang ada di batu nisan.
"Alvarendra ... Sakti ... Wibowo. Kok, namanya sama dengan nama Alva, ya?" Safira menunjuk ke arah batu nisan.
"Iya, sama." Marsha tersenyum sambil mengusap kepala Safira.
Setelah kembali berziarah mereka pergi memancing. Betapa bahagianya Alva karena Bagas dan Barata dapat ikan yang banyak. Sementara itu, Dokter Rama tidak mendapatkan satu ekor pun ikannya.
"Papa, payah. Tidak bisa nangkap ikan, kalah sama Opa dan Kakek," ucap Safira dengan bibir mengerucut.
Orang dewasa semua tertawa melihat Safira. Lalu, ikan-ikan itu dengan cepat diolah oleh Marsha dan Dewi. Sementara, Ayu dan Indah memasak nasi liwet dan membuat sambal.
Mereka makan di gubuk yang ada di tengah sawah. Ada beberapa petani juga yang ikut makan bersama mereka. Bagi Dokter Rama dan Safira ini merupakan hal pertama kali dalam hidup mereka. Kedua orang itu sangat menikmati suasana kehidupan di desa ini. Sampai-sampai Dokter Rama makan banyak tidak ingat akan takaran asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Sepertinya aku sudah cukup, Mbak Dewi. Nikmat sekali, aku sampai nambah tiga kali. Sepertinya nanti aku pulang ke ibu kota timbangan berat badan akan naik. Makanan di sini enak-enak," puji Dokter Rama.
Sepertinya hanya Arga yang kurang menikmati acara makan siang ini. Dia semalam kurang tidur karena beberapa kali kena tendangan atau tonjokan dari Alva yang tidur tidak bisa diam. Bocah itu jika suasana hatinya buruk sebelum tidur. Maka dia akan gelisah dan tidak bisa diam, kadang juga menangis.
"Kenapa, Mas?" tanya Marsha.
"Aku ngantuk. Rasanya aku harus tidur dulu, takut nanti tidak kuat menyetir," jawab Arga dengan lirih.
__ADS_1
Arga pun beranjak untuk pulang. Marsha juga hendak menyusulnya setelah selesai membereskan bekas acara makan bersama tadi.
Saat perjalanan pulang, Marsha bertemu dengan beberapa adik Gunawan. Mereka yang dahulu begitu ramah kepadanya, kini sering menatap nyalang atau memalingkan muka darinya.
Usut punya usut, kabar yang beredar sekarang ini adalah Gunawan dipenjarakan oleh Marsha. Wanita itu punya kekuasaan, makanya bisa dengan mudah membunuh atau mempenjarakan siapa saja yang tidak memberikan dukungan kepadanya.
"Mereka itu tidak akan kapok, Mbak Marsha. Meski sudah beberapa kali kami menjelaskan kalau Gunawan sudah berbuat jahat kepada Mbak Marsha. Jadi, memang pantas untuk mendapatkan keadilan," kata Dewi sambil berjalan di samping Marsha.
***
Sore hari Arga dan Marsha sudah harus kembali ke ibu kota. Drama kali ini adalah Safira yang tidak mau ikut pulang. Bocah itu masih ingin bermain di kampung bersama Alva.
"Jika Pak Dokter percaya kepada kami, Safira boleh tinggal di sini bersama Alva. Nanti sepulang Arga berbulan madu, mereka akan dibawa kembali," ucap Ayu sambil memeluk Safira yang mengamuk tidak mau pulang.
Dokter Rama merasa sungkan kepada keluarga Arga. Dia sungguh sangat kesal akan tingkah putrinya ini.
"Saya akan merawat Safira dengan baik. Jika Anda masih khawatir bisa tiap hari melakukan video call untuk memastikan keadaan Safira di sini," lanjut Dewi dan semua orang mendukung itu.
"Kalau begitu aku titip Safira. Insha Allah, Sabtu nanti aku ke sini lagi," ujar Dokter Rama pada akhirnya.
"Ajak juga ibu Pak Dokter ke sini. Biar kita saling mengenal," cetus Eyang Sari dan Dokter Rama hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.
***
__ADS_1
Arga dan Marsha mau OTW honeymoon. Apakah berjalan lancar atau akan banyak drama pengganggu? Ikuti terus kisah mereka, ya!