
Bab 143
Pukul 22:30 sebuah mobil berwarna hitam berhenti di parkiran khusus Club ABC. Turun dua orang laki-laki berjas biru dongker dan silver. Tidak lama kemudian pintu bagian belakang mobil terbuka dan turun dua orang laki-laki disusul beberapa perempuan berbaju seksi yang memakai riasan wajah full make up.
Alvin yang parkir tidak jauh dari sana, langsung memberikan laporan lewat earphone. Tentu saja ini membuat para polisi yang sedang menyamar di dalam langsung bersiaga.
"Mereka masuk lewat pintu belakang sedangkan Fery dan Leonard masuk lewat pintu depan," kata Alvin.
Alvin dan Alfarizi menunggu komando dari polisi untuk membantu mereka nanti saat pengamanan para korban. Keduanya merasa deg-degan dan gelisah.
"Semoga semua berjalan dengan baik dan lancar," ucap Alfarizi dan di-aamiin-kan oleh Alva.
'Kenapa aku kepikiran Safira dan Alfi, ya? Apa mereka sudah tidur?' batin Alva.
Malam semakin dingin, tetapi pengunjung Club ABC semakin ramai. Fery dan Leonard masuk ke salah satu ruangan di mana sudah ada beberapa orang laki-laki yang sedang mengadakan pesta.
"Akhirnya, kalian datang juga," ucap laki-laki paruh baya yang memiliki perut buncit dengan wajah yang bahagia.
"Mana pesanan kami?" tanya laki-laki paruh baya yang kepalanya botak.
Fery dan Leonard merasa senang karena malam ini mereka akan mendapatkan banyak uang. Ada sekitar sepuluh orang di ruangan itu yang pastinya paling sedikit akan menyewa sepuluh wanita.
"Tenang, Tuan-Tuan. Sayang membawa pesanan kalian. Aku sudah memilih para gadis yang terbaik yang akan bisa memuaskan kalian semua," jawab Leonard.
__ADS_1
Tentu saya itu disambut sorak-sorai gembira para penghuni ruangan. Fery menyuruh kedua anak buahnya untuk membawa para gadis muda itu masuk.
Beberapa gadis cantik yang berpenampilan menarik dan seksi kini berdiri berjajar. Langsung saja para laki-laki hidung belang itu berdiri dan memilih wanita mana yang akan menghibur mereka malam ini.
"Tuan, ada banyak permintaan di ruang lainnya. Sepertinya hari ini banyak yang mengadakan pesta," bisik manajer Club ABC kepada Leonard.
"Berapa banyak lagi kalian butuhkan?" tanya Leonard.
"Dua puluh lima sampai tiga puluh orang lagi," jawab laki-laki berjas hitam itu senang.
"Oke. Akan aku kirimkan tiga puluh wanita lagi ke sini asal harganya jangan nego lagi," ujar Leonard.
"Beres, Tuan," balas sang manajer sambil mengacungkan jempol tangannya.
Betapa bahagianya Leonard dan Fery saat melihat uang cash yang ada di koper di depan mata mereka. Total uang yang mereka dapatkan di satu ruangan ini adalah 800 juta. Belum lagi akan menyusul 30 orang lagi, yang setiap jiwa diberikan harga 80 juta. Dalam semalam ini sekitar 3.200.000.000 rupiah. Sebuah pekerjaan yang sangat menguntungkan bagi Leonard dan Fery, tanpa bersusah payah bisa mendapatkan uang miliaran rupiah.
"Sepertinya para korban di datangkan lagi ke Club. Ada sekitar 20 sampai 30 orang wanita masuk lagi ke dalam Club barusan," ucap Alvin memberikan laporan terkini.
Para polisi yang sejak tadi mengawasi keadaan orang-orang di dalam club, kini terpusat kepada kedatangan rombongan para gadis. Lalu, dua orang polisi wanita menarik dua tubuh gadis yang jalannya paling akhir. Mereka menutup mulut kedua orang itu.
"Ssssst. Kami akan menolong kalian terbebas dari penyekapan Leonard," kata salah seorang polisi wanita.
Kedua gadis itu menangis saking bahagianya mereka bisa terlepas dari jerat Leonard yang selama ini sudah menyiksa batin dan mental mereka. Lalu, dua orang polisi laki-laki mengamankan mereka ke luar club.
__ADS_1
Sementara itu, kedua polisi wanita menggantikan posisi kedua sandera tadi. Mereka ikut masuk ke dalam salah satu ruangan VVIP yang tertutup.
Ada banyak laki-laki seperti di ruangan tadi. Tetapi kali ini mereka lebih muda. Kedatangan para wanita ini langsung disambut dan ditarik ke pangkuan mereka. Sudah banyak orang yang agak mabuk. Mereka sedang membutuhkan pelampiasan.
"Kita membutuhkan lima belas wanita," ucap salah seorang laki-laki muda layaknya tuan muda dari golongan kaum kelas atas.
"Baik, Tuan. Kalian boleh pilih mana yang kalian suka. Karena ada ruangan lain yang membutuhkan para wanita ini juga," kata manajer.
Laki-laki muda tadi memberikan kartu kepada sang manajer untuk pembayaran para wanita itu. Dia sendiri yang memilih gadis mana yang akan menemani mereka malam ini. Kebetulan salah seorang polisi wanita ada yang dia pilih.
"Aku sudah memilih lima belas orang," kata laki-laki muda tadi yang memakai baju kemeja lengan pendek dipadukan dengan kaus bercorak di dalamnya.
"Apa mereka terjamin bersih?" tanya salah seorang temannya yang terlihat sanksi.
"Tenang, Tuan. Mereka semua sehat dan bersih. Karena ada tim yang selalu mengurus mereka dan memperhatikan segalanya," jawab sang manajer.
Sisa wanita yang lima belas orang lagi di tempatkan di ruang VVIP di ruang yang paling pojok. Ternyata di sana ada beberapa laki-laki paruh baya dari kalangan atas juga. Meski mereka sudah berusia di atas lima puluh tahun, tetapi jiwanya masih muda dan sanggup bermain lama dan pandai membuat para wanita panggilan itu jatuh bertekuk lutut. Selian mendapatkan kepuasan, rasa di manja, dan dihargai sebagai manusia. Mereka jarang berlaku kasar saat bercinta.
"Wah, ada pemain baru," ucap salah seorang laki-laki itu kepada polisi wanita yang sedang menyamar.
"Iya, Pak. Semoga Bapak senang," balas manajer itu sambil menerima kartu yang akan digunakan untuk transaksi pembayaran.
Sementara itu, para polisi sudah mulai berdatangan ke Club ABC. Ada beberapa truk polisi yang mengangkut banyak personil. Mereka bergerak cepat mengepung area Club ABC.
__ADS_1
***