Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 107. Pertemuan Dengan Dokter Rama


__ADS_3

Bab 107


Marsha yang duduk di samping Safira terkejut bukan main mendengar ucapan kedua bocah PAUD itu. Tenggorokannya sampai tercekat dan tidak bisa berkata-kata.


"Alva, apa maksudnya kalian sudah besar akan menikah?" tanya Arga setelah memutar badannya melihat ke belakang.


Terlihat Alva memasang wajah datar lalu seperti berpikir atau mengingat sesuatu. Alisnya mengkerut dan bibir bawah digigit.


"Bukannya kata Ayah nanti kalau sudah besar aku akan menikah seperti Ayah dan Bunda," jawab Alva.


"Bu guru juga menikah sama pacarnya. Dia pakai baju pengantin yang bagus sekali. Lalu di foto sama pacarnya yang katanya sekarang jadi suami. Aku juga ingin memakai baju pengantin seperti bu guru. Katanya aku bisa memakai baju pengantin jika sudah besar," lanjut Safira.


Arga dan Marsha mengelus dada. Mereka takut kalau kedua bocah itu sudah memutuskan akan menikah nanti jika sudah besar.


"Jadi, Safira sama Alva kalau sudah besar kalian mau menikah dan menjadi suami istri?" tanya Dokter Rama.


"Dokter!" pekik Arga dan Marsha bersamaan.


Pasangan ini tidak mau kalau pikiran polos anaknya terkontaminasi. Sebenarnya salah mereka juga yang sering kepergok sama Alva ketika berciuman atau bermesraan. Mereka akan mengatakan bisa melakukan hal itu jika Alva sudah menikah nanti.


"Alva, kamu mau menikahi aku kalau sudah besar?" tanya Safira sambil menatap kepada Alva.


"Eh." Mulut Alva langsung dibungkam sama Marsha agar anaknya tidak bisa menjawab.

__ADS_1


"Safira Sayang, sekarang ini kalian masih kecil. Belum saatnya memikirkan menikah, ya? Nanti kalau sudah selesai kuliah dan punya pekerjaan, baru pikirkan pernikahan," ucap Marsha sambil menarik Safira agar duduk di pangkuannya.


Niat Marsha mau mengalihkan posisi Safira ke sisi satunya lagi agar menghentikan ocehannya bersama Alva. Akan tetapi, pada dasarnya Alva juga cemburu dan tidak mau kalau ibunya lebih sayang dan perhatian kepada temannya. Maka, dia pun ikut merangkul leher Marsha dan ikut duduk di pangkuannya.


"Alva, tunggu sebentar!" pinta Marsha kepada putranya yang memeluk erat.


"Tidak mau! Bunda itu punya Alva. Hanya boleh memangku Alva," ucap sang anak.


Marsha yang merasa kewalahan langsung mendudukkan Safira di sampingnya dan memangku Alva sampai rasa kecemburuan anaknya hilang.


Arga pun menjalankan kembali kendaraannya. Mereka mampir dahulu ke sebuah toko baju untuk membeli baju Safira dan Dokter Rama.


***


Menjelang sore hari, mereka baru sampai ke rumah Barata. Orang-orang segera menyambut kedatangan mereka. Tentu saja kehadiran Dokter Rama dan Safira menarik perhatian keluarga Arga.


"Temannya Alva Oma." Alva yang menjawab.


"Oh, kamu ajak ikut bermain ke sini juga, ya?" lanjut Ayu.


Keluarga Arga sudah mendengar cerita tentang Safira yang merupakan teman Alva. Teman cucunya yang sering ikut bermain ke apartemen.


"Ini–?" tanya Barata kepada Dokter Rama.

__ADS_1


"Saya papanya Safira, Om," jawab Dokter Rama.


Dewi datang sambil membawa minuman dan cemilan. Dia sengaja menyiapkan semua itu karena tahu kalau Arga akan pulang dan menitipkan Alva.


"Duda kaya dan tampan, tuh, Wi," bisik Marsha kepada Dewi.


Dewi pun memperhatikan Dokter Rama yang sedang bercengkrama dengan Barata, Ayu, dan Eyang Sari. Dia menilai kalau Dokter Rama itu laki-laki yang supel dan ramah.


"Dokter Rama, nih, kenalkan adik aku," ucap Arga setelah mendapat kode dari Marsha agar mengenal Dewi kepada papanya Safira.


Dokter Rama melihat ke arah Dewi lalu tersenyum ramah yang terlihat begitu menawan. Pipi Dewi langsung merona diberi senyuman seperti itu.


"Pepet, Wi. Jika kamu suka," bisik Marsha mengompori mantan saingannnya.


"Memangnya tidak akan ada yang marah?" tanya Dewi.


"Tenang, dijamin aman. Kamu cukup taklukan anaknya lalu gaet bapaknya," jawab Marsha dengan senyum jahil.


Dewi pun mengangguk sambil tersenyum dikulum. Lalu, dia pun mendekati Safira dan Alva yang sedang bermain di lantai beralaskan karpet.


"Hai, kalian sedang bermain apa? tanya Dewi kepada Safira dan Alva.


***

__ADS_1


Akankah Dewi berhasil mendapatkan hati Dokter Rama? Ikuti terus kisah mereka, ya!



__ADS_2