
Bab 117
Hari-hari berlalu kini usia kandungan Marsha sudah memasuki tiga bulan. Arga sudah tidak muntah-muntah lagi atau meriang saat petang. Namun, sekarang dia suka makan yang asam, pedas, dan berkuah.
"Mas, sedang apa?" tanya Marsha yang mencari keberadaan suaminya karena tidak ada tidur di sampingnya.
Arga terlonjak kaget mendengar suara istrinya yang tiba-tiba. Laki-laki itu sedang berjongkok mencari sesuatu dari lemari pendingin.
"Lapar ingin makan mie ekstra pedas," jawab Arga yang sedang mengeluarkan sawi dan telur dari kulkas.
Marsha melihat jam yang bergantung dinding. Saat ini sudah pukul 23:15 hampir tengah malam. Sudah tiga berturut-turut Arga selalu kelaparan di malam hari, padahal tadi makan malam setelah sholat isya.
Mata Marsha terbelalak saat melihat ada sekitar sepuluh biji cabe rawit yang sudah disiapkan oleh sang suami di mangkuknya. Dahulu Arga cuma pakai dua biji saja.
"Mas, itu cabe rawit kebanyakan nggak, sih?" tanya Marsha.
"Tidak. Justru enak setiap suapan ada cabe rawitnya. Mantap!" jawab Arga dengan dua jempol tangan yang diacungkan.
Marsha hanya menggelengkan kepala sambil tertawa geli. Sebenarnya dia juga sering merasa kasihan melihat suaminya ngidam selama ini. Justru dirinya yang hamil malah sehat bugar tidak ada keluhan atau ngidam ingin apa pun.
Setelah hampir lima menit, mie kuah ekstra pedas sudah siap. Wanginya sangat begitu menggoda, membuat ngiler.
"Sayang, mau? Kita makan berdua," tawar Arga begitu duduk di samping Marsha.
__ADS_1
Sang istri hanya menggelengkan kepala dengan tatapan matanya tidak lepas dari cabe rawit yang mengambang di mangkuk. Sudah kebayang pedasnya seperti apa.
Setelah menghabiskan makanannya, Arga mengajak Marsha untuk tidur kembali. Baru saja mereka merebahkan diri, sudah terdengar dering handphone milik laki-laki itu. Dengan kesal si suami pun akhirnya kembali beranjak menuju meja rias di mana benda pipih itu berada.
Terlihat ada nama Pandu di sana. Arga pun berdecak kesal, karena temannya ini belakangan ini sering sekali mengganggunya. Dia sudah tidak sabar ingin menikahi Ratu yang sudah berubah semakin cantik.
"Ada apa?" tanya Arga setelah mengucapkan salam.
"Ga, akhirnya hari pernikahan aku akan dipercepat!" pekik Pandu dari seberang. Nada bicaranya terdengar bahagia.
"Selamat," balas Arga.
"Kok, kamu kayak nggak senang gitu mendengar pernikahan aku akan di percepat," tukas Pandu.
"Terus aku harus bagaimana? Sekarang sedang tengah malam. Masa aku harus teriak-teriak."
"Terus, kapan kalian akan menikah?" tanya Arga sambil melirik ke arah Marsha yang kini duduk di atas tempat tidur.
"Enam bulan lagi," jawab Pandu dengan penuh semangat.
"Hah! Cuma dimajukan satu bulan dari rencana awal?"
Arga tidak percaya cuma dimajukan 30 hari sudah membuat Pandu begitu bahagia. Harusnya seperti dia dahulu, tidak tanggung-tanggung langsung nikah keesokan harinya, jauh dari rencana awal.
__ADS_1
"Itu juga lumayan, lah. Kalau bisa aku ingin menikah sekarang juga. Namun, Ratu ingin kesembuhan sudah total dan menjadi pengantin wanita yang cantik."
Arga hanya terkekeh geli. Pandu mengaku kebelet ingin menikah dengan Ratu itu gara-gara tidak sengaja melihat tubuh calon istrinya yang sedang mandi yang lupa mengunci pintu. Sebagai laki-laki normal yang suka dengan wanita berwajah cantik, kulit bersih juga mulus, dan memiliki bentuk tubuh aduhai.
Hampir 25 menit Pandu dan Arga berceloteh di telepon. Marsha yang mengantuk memilik tidur.
***
Arga memicingkan mata saat masuk ke dalam ruang kerja. Dia melihat ruangannya berserakan. Foto keluarganya berserakan di lantai dengan pigura dalam keadaan hancur kacanya. Beberapa berkas juga nasibnya tidak jauh beda.
"Siapa petugas kebersihan yang bertugas hari ini yang bertanggung jawab di ruang kerjaku?" tanya Arga kepada sekretarisnya.
"Sepertinya Mbak Hani, Pak. Akan aku tanyakan dahulu," jawab wanita berpakaian sopan itu dan bergegas kembali ke mejanya lalu menghubungi bagian kepala kebersihan.
Arga yang mood-nya sudah rusak di pagi hari ini, merasa tidak semangat untuk memulai kerja. Dia mengambil beberapa pigura foto Alva, Marsha, dan dirinya. Lalu, dia simpan ke laci meja kerja. Saat dia duduk di kursi kerja, seorang wanita yang menggunakan seragam cleaning servis masuk.
"Apakah kamu tidak punya sopan santun? Masuk ke tempat orang lain seenaknya," ucap Arga dengan ketus. Mood-nya masih jelek jadi ucapannya terdengar kasar.
Wanita itu ketakutan dan meminta maaf. Dirinya mengaku tidak tahu kalau ada Arga di sana.
"Kamu karyawan baru?" tanya Arga karena baru pertama kali dia melihatnya.
"I–ya, Pak," jawab Mbak Hana dengan gugup.
__ADS_1
***
Maaf, ya. Lama update dan cuma 1 bab. Author beberapa hari kemarin keracunan minuman bersoda yang sudah kedaluwarsa 😅. Jadi tidak bisa berpikir karena pusing dan mual.