
Bab 42
Keduanya sejoli itu berdiri di balkon kamar. Mereka sedang membahas tentang gugatan perceraian. Masih sama seperti sebelumnya, Marsha ingin bercerai sedangkan Arga tidak mau mereka berpisah.
"Apa kamu tidak kasihan kepada Alva?" tanya Arga dengan tatapan nanar.
"Justru aku melakukan hal ini untuk masa depan Alva. Aku tidak mau dia tumbuh dilingkungan yang kebanyakan orang-orangnya tidak baik," jawab Marsha.
Suara Adzan Magrib berkumandang, Arga dan Marsha menghentikan pembicaraan mereka. Laki-laki itu pergi ke masjid bersama ayah mertuanya. Meski Bagas tidak suka dengan kehadirannya, sang menantu berusaha bersikap baik dan hormat.
Sementara itu, Marsha dan Indah berjamaah di rumah. Marsha belum mampu sholat dengan berdiri, dia melakukannya sambil duduk.
"Sebaiknya segera selesaikan masalah kalian itu," ucap Indah yang tidak mau melihat lagi raut wajah Marsha yang terluka.
Indah memegang sebelah tangan putrinya. Dia memberikan dukungan untuknya, apa pun itu. Wanita setengah paruh baya ini yakin dengan keputusan sang anak adalah yang terbaik bagi semua orang.
"Kak Arga bersikukuh tidak mau bercerai, Bu. Sudah jelas-jelas dia tidak menginginkan pernikahan ini, makanya dia tidak menganggap aku sebagai istrinya," pungkas Marsha dengan lirih.
__ADS_1
Hati dia terasa sakit kembali karena berkelebat kilasan memori dia di masa lalu saat dirinya harus selalu sendiri dan diabaikan oleh Arga. Laki-laki itu malah lebih memperhatikan dan menghabiskan waktu dengan wanita dari masa lalunya.
"Sebenarnya selama kamu di rumah sakit, ibu lihat Arga begitu terlihat sedih dan selalu berada di sisimu. Dia juga selalu mengatakan minta maaf sama kamu. Ibu rasa dia memang menyesali perbuatannya," ujar Indah.
Sebagai orang tua tentu saja Indah tidak terima dengan perlakuan yang di dapat oleh Marsha. Di mana saat putrinya sedang hamil besar dan membutuhkan perhatian dari suaminya, eh, malah dikhianati. Namun, dia juga tidak mau kalau sampai anak satu-satunya ini menyimpan benci, apalagi dendam kepada orang yang sudah menorehkan luka dan membuatnya sakit hati.
"Ya, mungkin saja di menyesal hanya untuk melindungi dirinya sendiri. Agar dalam hatinya tidak terlalu merasa bersalah karena sudah menelantarkan aku di apartemen sendirian sampai pingsan. Untung saja aku masih sempat menghubungi Bu Djoko dan memberi tahu pin pintu. Kalau aku tidak menghubungi tetanggaku itu entah apa yang terjadi kepadaku," balas Marsha dengan menahan sesak di dadanya.
"Di saat aku dalam keadaan hidup dan mati, dia malah sedang bersenang-senang dengan kekasihnya. Aku rasa alasan mereka belum menikah karena aku sedang koma itu cuma akal-akalan atau cuma alasan saja. Kedua orang itu tidak mau kalau nanti akan ada omongan jelek untuk mereka," lanjut Marsha.
Suara Arga yang berjanji dan bersumpah kalau dirinya sangat mencintai Valerie dan akan menikahinya terus berputar dalam otak Marsha. Wanita ini sudah membulatkan hati untuk berpisah dengan suaminya. Dia sudah tidak mau lagi berurusan dengan laki-laki itu.
Arga masuk ke dalam kamar Marsha saat wanita itu selesai ganti pakaian piyama tanpa jilbab. Dia sempat terpesona dengan kecantikan wajah dan keindahan rambut sang istri.
Kedatangan Arga tidak disadari oleh Marsha, karena wanita itu langsung memoleskan air rose pada mukanya untuk memberikan kesegaran pada kulit wajah. Bahkan perempuan itu masih sempat-sempatnya memasang ekspresi wajah orang yang sedang konyol. Menaik turunkan alis, menggembungkan pipi, memanyunkan atau memonyongkan bibir.
Arga menahan tawanya agar tidak meledak. Tanpa dia sadari kakinya melangkah dan mendekat dengan perlahan. Saat sampai di samping kursi meja rias, ternyata bersamaan dengan Marsha yang berdiri dan membalikan badan hendak melangkah. Tanpa dia duga, wanita itu sangat terkejut lalu terlonjak kaget dan mengakibatkan tubuhnya oleng. Dengan gerakan cepat Arga menarik pinggang Marsha lalu mendekapnya dengan erat.
__ADS_1
Jantung kedua orang itu sama-sama berdetak kencang. Saat Marsha hendak jatuh tadi Arga menarik tubuhnya dan keduanya kini saling berpelukan. Sang suami merengkuh pinggang dan punggung Marsha. Sementara wanita itu, sang istri mengalungkan kedua tangannya di leher Arga. Kedua netra mereka saling beradu dan hembusan napas pun bisa mereka rasakan.
Momen seperti ini sangat di tunggu-tunggu oleh Arga. Sungguh dia ingin sekali bisa merengkuh tubuh sang istri. Menatapnya dengan penuh damba. Apalagi jika sampai ke tahap berciuman mesra. Otak Arga sudah mulai terkontaminasi kembali.
'Aku mencium bibirnya, tidak akan dosa, 'kan? Dia masih istriku saat ini,' batin Arga.
Marsha belum sadar kalau dirinya sudah masuk ke dalam perangkap sang casanova. Hanya dengan sorot mata, lirikan, dan hembusan napasnya. Bahkan saat sang suami berhasil mengikis jarak bibir mereka. Perempuan itu masih terdiam mematung. Dia tersadar kalau sedang berciuman dengan Arga. Bola matanya membulat dan aliran darah di sekujur tubuhnya berdesir.
Sebagai seorang mantan casanova, Arga lihai dalam memberikan sentuhan yang membuat Marsha tidak berkutik dan memberontak. Energi tubuhnya terasa terserap oleh ciuman itu sehingga membuat dia lemas.
'Tidak! Ciuman pertamaku!' batin Marsha.
Dia lupa kalau dirinya juga pernah ciuman dengan Sakti saat malam itu. Namun, dia tidak mengingat hal itu.
Marsha mencoba mengumpulkan kesadaran dirinya dan dalam satu gerakan dia mengigit bibir Arga lalu mendorong kuat tubuh lelaki itu. Tidak hanya sampai disitu saja amarah sang wanita, dia memberikan tamparan keras ke pipi mulus suaminya.
"Berengsek kau Arga!" teriak Marsha dengan penuh amarah.
__ADS_1
***
Apakah Arga akan diusir dari rumah Marsha? Ikuti terus kisah mereka, ya!