Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 148. Lupa Dengan Pesan Alva


__ADS_3

Bab 148


Safira mengikuti Alva ke kantin dengan muka yang sendu. Berbeda dengan Alva yang raut wajahnya menahan kesal dan kekecewaan.


'Alva marah. Dia itu kenapa suka membuat sulit situasi kita, sih? Apa sulitnya cuma mengucapkan ijab qobul saja. Aku tidak minta yang aneh-aneh,' batin Safira yang terus melihat kepada Alva.


Saat Safira berjalan cepat berusaha sejajarkan langkahnya dengan Alva, dia bertabrakan dengan seseorang. Untung pemuda itu dengan sigap menarik tangan sang kekasih. Ditariknya tubuh gadis itu agar kembali berdiri dengan tegak.


'Nyaris saja!' batin Alva dan dia menghela lega.


Mungkin Safira ingin memanfaatkan situasi ini, dia malah memeluk tubuh Alva. Ada perasaan senang saat dia bisa mendekap dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pujaan hatinya.


'Nyamannya pelukan Alva. Terakhir kali aku memeluknya kapan, ya?' batin Safira. Senyum lebar terukir di wajah gadis itu karena merasakan kenyamanan dengan sang pujaan hati.


"Hei, tunggu!" teriak Alva kepada orang yang menabrak Safira, tetapi orang itu terus berlari tidak menghiraukan panggilan kepadanya.


'Si*al! Dia malah kabur,' kata Alva mengumpat di dalam hatinya.


Safira merasa masa bodoh sama orang yang sudah menabraknya tadi. Justru gadis itu ingin berterima kasih kepadanya. Karena dia sudah membuat dirinya bisa memeluk tubuh Alva.


Merasa ada yang empuk dan tangan yang mendekapnya, Alva baru sadar dengan dirinya yang sedang dipeluk oleh Safira. Pemuda itu beristighfar lalu dengan cepat mengurai pelukan sang gadis.


"Fira sudah beberapa kali aku ingatkan dirimu untuk–"


"Barusan itu reflek. Sama seperti kamu yang reflek menarik tubuhku saat melihat akan jatuh, tadi," potong Safira sebelum Alva mengomelinya terus.


"Aku itu sedang berusaha menolong–"


"Aku juga tadi sedang berusaha agar tidak jatuh. Jadi, reflek menggapai apa yang aku bisa," kata Safira kembali memotong pembicaraan pemuda itu.


Perutnya yang terasa lapar membuat Alva tidak ingin melanjutkan perdebatannya dengan Safira. Bahkan ketika gadis itu menarik lengannya agar melanjutkan kembali langkahnya menuju kantin.


Keduanya sepakat untuk makan mie ayam dan jus alpukat. Saat mereka makan, banyak orang yang memperhatikan keduanya. Safira yang suka ngoceh dan Alva yang lebih banyak diam membuat mahasiswa di sana menjuluki mereka sebagai pasangan ideal. Pasangan yang saling melengkapi kekurangan dan kelebihan partner-nya.

__ADS_1


Sejak Alva dan Safira mengadopsi Alfi, hubungan keduanya semakin dekat dari kaca pandang rekan-rekan di kampus. Mereka lebih sering melihat pemuda dan gadis itu berbicara berdua lama-lama atau membicarakan sesuatu sampai keduanya tertawa.


Orang-orang itu tidak tahu kalau kedekatan Alva dan Safira di tempat umum seperti ini sedang membicarakan tentang Alfi dan ibunya. Lalu, baru-baru ini mereka membicarakan tentang pola asuh untuk bayi yang baru belajar ngesot dan telungkup atau berguling-guling. Alfi juga sudah mulai diberi makan.


Alfa merasa dirinya sedang diawasi. Dia pun mengedarkan bola matanya mencari keberadaan orang yang sedang mengintainya. Pemuda itu tidak memberi tahu kepada Safira atas apa yang sedang dia rasakan saat ini karena tidak mau membuat gadis itu ketakutan.


"Ada apa?" tanya Safira yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Alva.


"Tidak ada apa-apa," jawab Alva melanjutkan makannya.


Keduanya makan dalam diam, tidak ada celotehan Safira atau gumaman Alva. Setelah menghabiskan makanannya, mereka beranjak dari sana menuju ke kelas. Hari ini mereka kuliah sampai jam 12:00.


"Fira!" Mutiara yang sejak tadi sibuk dengan urusannya memanggil Safira.


"Sudah selesai semuanya, 'kan?" tanya Safira.


"Alhamdulillah. Semua berkat bantuan kalian semua," jawab Mutiara dengan senyum lebarnya.


"Alva!" Terdengar suara teriakan dari arah ujung koridor.


Terlihat ada Alfarizi dan Alvin melambaikan tangan. Mereka datang untuk menjemput Alva. Polisi masih membutuhkan bantuan mereka dalam penyelidikan kasus perdagangan manusia yang sedang heboh di negeri ini.


"Aku akan pergi bersama Alfarizi dan Alvin. Kamu harus segera pulang ke apartemen, tidak boleh singgah ke mana pun terlebih dahulu. Kalau ada orang asing mendekatimu segera abaikan. Waspada terhadap orang-orang yang ada disekitar kamu," ucap Alva kepada Safira.


"Kamu juga harus berhati-hati. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpa kamu," balas Safira dengan tatapan sendu.


Perasaan Safira tidak enak sejak mendapat pesan dari mamanya. Dia juga merasa tidak ingin jauh-jauh dari Alva.


"Ingat apa yang aku katakan tadi. Jadi dirimu baik-baik!" lanjut Alva masih menatap Safira.


***


Safira berjalan bersama Mutiara ke tempat parkir. Keduanya terlihat bercakap-cakap dengan seseorang lewat video call. Ya, siapa lagi kalau bukan Intan.

__ADS_1


Rasa rindu mereka bertiga membuat lupa dengan pesan Alva. Saat Mutiara hendak menjalankan motor, dia merasa ada yang aneh dengan kendaraan miliknya.


"Pantes saja terasa aneh begini. Ternyata bocor," kata Mutiara mengerutu.


Safira yang baru saja memasukan handphone ke dalam tasnya, hanya tersenyum tipis karena mendengar umpatan temanya. Dia melihat ban bagian belakang milik temannya itu kempes.


"Cepat telepon bengkel," kata Safira.


"Hah, padahal sudah terbayang aku ingin tidur begitu sampai ke rumah," ujar Mutiara menghela napas.


"Aku akan antar kamu pulang ke rumah," tukas Safira karena merasa kasihan kepada temannya ini.


"Beneran, nih?" tanya Mutiara senang dan Safira mengangguk.


Mutiara langsung memeluk Safira. Dia pun segera menghubungi bengkel kenalannya untuk memperbaiki ban motor kempes itu. Kedua gadis itu segera memasuki mobil, lalu pergi meninggalkan area parkir kampus.


Terlihat Leonard berada di balik batang pohon yang ada di dekat gedung kampus fakultas kedokteran. Sejak tadi dia terus mengawasi gerak-gerik Safira dan Mutiara.


"Terima kasih Mutiara," balas laki-laki itu.


"Ayo, kita ikuti mereka! Ini adalah kesempatan kita untuk mendapatkan mereka," ujar Fery sambil berjalan menuju mobilnya.


Senyum lebar menghiasi wajah Leonard. Sambil berjalan laki-laki itu bersiul riang seakan sedang menggambar perasaan dia saat ini.


Safira berencana mengantarkan Mutiara ke rumahnya terlebih dahulu. Meski harus memutar jalan, tidak masalah bagi gadis itu. Jalan menuju rumah Mutiara tidak terjangkau oleh kendaraan umum, seperti bus atau angkot.


Di dalam perjalanan kedua gadis itu masih membahas tentang penggerebekan rumah Leonard yang saat ini masih menjadi headline news di berbagai berita. Mereka begitu merasa miris saat membicarakan tentang para korban. Sampai-sampai Safira dan Mutiara tidak sadar kalau mobil mereka sudah di buntuti oleh Leonard dan Fery.


***


Apakah Safira akan ditangkap oleh Leonard dan Fery? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_1


__ADS_2