Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 165


__ADS_3

Bab 165


Muka Safira sudah seperti kepiting rebus. Merah merona karena mendengar ucapan Alva. Siapa yang tidak mau menikah dengannya. Dalam hatinya saat ini, dia berharap pernikahan dilakukan sekarang saja.


"Aku ingin menikah dengan kamu," kata Safira dengan malu-malu, tapi mau.


"Kalau begitu kamu harus segera sembuh. Aku ingin melihat kamu memakai baju pengantin," ucap Alva sambil tersenyum.


Jantung Safira detaknya semakin menggila. Setelah sekian lama dirinya tidak bertemu dengan Alva, orang ini menjadi tukang gombal. Diri Alva yang cuek dan tidak banyak bicara, seakan sudah hilang.


"Aku ingin memakai gaun pengantin yang sangat indah. Aku juga ingin menjadi pengantin perempuan yang paling cantik," kata Safira dengan malu-malu.


"Iya. Aku juga menantikan hari itu. Hari di mana kamu akan menjadi milik aku," bisik Alva.


Mungkin sekarang Alva mengucapkan kata-kata gombal dan rayuan kepada Safira. Yakinlah nanti dia akan merasa lebih malu dari sang gadis saat ini.


Dokter Rama rasanya ingin pergi dari ruangan itu. Melihat mereka berdua malah membuatnya malu dan geli. Kini dia bisa melihat sisi Arga ada di diri Alva.


Untungnya Alva bukan seorang casanova seperti Arga dan Pandu, jadi yang menjadi korban rayuannya hanya Safira seorang. Pemuda ini memerlukan banyak waktu untuk membangkitkan jiwa perayu di dalam dirinya.

__ADS_1


Hari menjelang tengah hari, itu artinya Alva harus pulang ke Indonesia. Karena nanti dia harus menjalankan tugasnya di rumah sakit.


Safira menahan tangan pemuda itu sambil menangis. Dia belum rela ditinggal olehnya. Gadis itu masih merindukan dirinya dan tidak mau berpisah.


"Aku usahakan secepatnya balik lagi ke sini. Nanti aku ajak yang lain ikut ke sini," kata Alva mencoba membujuk Safira.


Akan tetapi, gadis itu malah menggelengkan kepala dengan tangisan yang tergugu. Alva jadinya tidak tenang meninggalkan Safira.


"Setiap hari kita video call-an," lanjut Alva.


"Kamu jahat! Kenapa baru saja bertemu sudah mau pulang? Kenapa tidak besok saja?" tanya Safira.


"Aku itu sudah semalam sampai di sini, tetapi baru diizinkan masuk tadi pagi. Semoga saja di pertemuan berikutnya, kita akan lebih lama bersama," jawab Alva.


"Aku akan selalu merindukan dirimu. Jadi, jaga dirimu baik-baik. Jangan berani main mata dengan perempuan mana pun!" pungkas Safira memberikan peringatan kepada sang kekasih.


"Iya, sayangnya aku!" balas Alva sambil tersenyum geli.


***

__ADS_1


Waktu pun berlalu dengan cepat, setiap hari Alva dan Safira akan saling melakukan video call. Kini Safira juga bisa berkomunikasi dengan Arshy dan Alfi. Kesehatan gadis itu juga meningkat dengan cepat.


"Kata Papa, aku sudah bisa melakukan pengobatan di Indonesia jika sampai minggu depan perkembangan kesehatan aku terus meningkat. Dokter yang akan membantu aku terapi berjalan juga sudah dihubungi oleh Papa," kata Safira.


Alva yang mendengar ini langsung saja mengucapkan syukur beberapa kali. Rencananya besok dia dan keluarganya akan pergi ke Singapura. Mereka juga sangat merindukan Safira dan ingin bertemu dengannya.


"Aku akan selalu menanti dirimu pulang ke tanah air," balas Alva.


"Mama. Halo!" Alfi tiba-tiba muncul setelah naik ke pangkuan Alva.


"Alfi. Apa kabar, Sayang. Mama rindu, nih!" Safira melambaikan tangan kepada bocah dua setengah tahun itu.


"Kata Papa besok kita akan pergi ke tempat Mama. Naik pesawat," kata Alfi dengan penuh semangat.


Ibu dan anak angkat itu asyik berbicara lewat layar handphone. Safira sering bilang kalau dirinya selalu memimpikan Alfi.


"Tunggu aku besok, ya!"


"Iya, Sayang~. Aku ingin secepatnya hari esok," kata Safira sambil tertawa.

__ADS_1


***



__ADS_2